Yang Kokuhaku (Confessions)

I’m going to give you one final, very important lesson.

Kira kira begitulah inti dari tiga puluh menit pembukaan film ini.  Yuko Moriguchi sensei, seorang guru sekolah menengah mengumumkan keputusan dirinya resign sembari menceritakan kematian putri satu satunya. Juga tentang suaminya yang mengidap penyakit HIV. “Manami died. But it was no accident. She was killed by students from this class.”

Setidaknya selama beberapa belas menit pertama, saya dibiarkan menarik nafas perlahan, mengikuti narasi Moriguchi sensei yang datar mengenai pembunuhan anaknya. Hingga dia menyatakan bahwa, dia tahu siapa pelaku pembunuhan putrinya. Dia tak menyebut nama, dia hanya menyebut mereka, si A dan si B (yang tentu saja semua murid langsung tahu mereka siapa walau tidak menyebut nama). “I want to kill this little brat….. That was the only thought that ran through my head.” Moriguchi menahan dendamnya dengan wajah datar, dan nada enteng. Dia sadar, dia tidak bisa menuntut pembunuh putrinya karena adanya juvenile law yang melindungi remaja dibawah usia 14 tahun, di mana mereka tidak bisa dihukum atas perbuatannya.

I itend to make the two of them realise the severity of their crimes… and come to appreciate the importance of life. I want them to live, each day… bearing the weight of their crimes. I mixed a little something… into the cartoons of milk the two of them were drinking. The HIV-contamined blood of my husband.

Dan di sinilah cerita dimulai. Perjalanan bagaimana si A dan si B setelah kepergian Moriguchi sensei dan sikap teman teman sekelasnya. Jika di awal semua diceritakan melalui Moriguchi sensei point of view, maka selama satu jam selanjutnya, pembagian narasi digantikan oleh banyak pihak, dari sudut pandang teman sekelas, si A, si B, bahkan orang tua B.

Yet.. I’m still alive.

Kohaku adalah film yang sangat depresif. Dan punya alur yang tidak bisa saya duga. Karena dilihat dari banyak sudut pandang banyak orang, satu hal yang sama bisa menjadi berbeda, ada banyak twist yang membuat saya baru berusaha melepaskan nafas yang saya tahan untuk kembali menahan nafas lagi. Buat saya menyenangkan, karena jarang saya bergidik menonton film jepang, terakhir yang saya ingat saya merinding menonton film adalah dokumenter One Day in September tentang Munich Massacre.

Bagaimana saya menggambarkan Kohaku? Saya merasa ini film yang sepi dan depresif, tapi bisa dinikmati tanpa menangis. Alurnya terasa pelan namun cepat, membuat saya terhanyut. Kohaku juga bukan sebuah film yang saya ingin pause untuk ke kamar mandi. Apakah film ini berakhir bahagia? Atau berakhir sedih? Semua lagi lagi kembali dari sudut pandang siapa. Yang jelas, film ini menyisakan satu pertanyaan kecil saja,

Is life a heavy burden to bear?

2 thoughts on “Yang Kokuhaku (Confessions)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s