Yang The Witness

Ketika mendapatakan undangan dari kabarindo untuk nonton bareng The Witness, pikiran saya melayang ke dua film Skylar Picture sebelumnya, Jinx yang luar biasa… tidak layak tonton, atau Surat Kecil Untuk Tuhan yang justru bisa dinikmati sambil berlinangan air mata (iya, saya belum nonton Tebus). Dengan dua genre dan hasil yang berbeda, saya jadi penasaran bagaimana Muhammad Yusuf merangkai The Witness yang bergenre suspense thriller ini.

The Witness dibuka dengan adegan mimpi Angel (Gwen Zamora) tentang pria misterius yang membunuh dirinya sendiri. Tak lama setelah itu, tanpa mengetahui siapa dan kenapa pria itu bunuh diri, sekeluarganya dibantai orang tak dikenal, dan Angel menjadi satu-satunya yang bertahan. Namun, setelah itu, ia dihantui mimpi-mimpi aneh tentang keluarganya dan pria misterius tadi. Lalu, apa motif keluarganya dibantai dan siapa pria misterius itu hanya bisa dijawab dalam film ini.

The Witness diawali dengan cukup cepat, hanya 10 menit perkenalan lalu munculah si pembantai dan membiarkan penonton menahan nafas ketakutan. Dengan pengambilan gambar yang dramatis, kita dibiarkan terkaget-kaget dengan pembantaian yang berjalan perlahan itu. Setelah itu, kita dibiarkan berjalan-jalan di dalam kepala Angel sambil merangkai benang-benang yang menghubungkan pembantaian tersebut dengan keseluruhan isi cerita.

Sampai akhir film, saya menikmati bagaimana bungkus dan isi The Witness. Tentu saja ada beberapa hal yang mengganggu namun tidak signifikan. Kebanyakan hal-hal teknis, seperti close-up shot yang terlalu sering sehingga mulai mengganggu mata, para perempuan lengkap bermake-up ketika sakit ataupun tidur, betapa Gwen Zamora terkadang kurang ekspresif, dan Marcellino yang walaupun ganteng tapi justru aktingnya kurang di film ini (yang untunglah dia tak begitu banyak muncul),  atau adegan close range shoot tapi tak ada cipratan darah ke baju si pembantai (ya ya ya, saya terlalu banyak nonton film hollywood). Tapi secara keseluruhan The Witness bisa dinikmati dengan tegang.

Ada dua hal yang saya suka dari The Witness, ekspresi dan karakter tokoh yang dramatis namun tetap natural, beberapa shot yang tidak mubazir mampu menambah efek dramatis The Witness. Saya paling suka adegan ketika Angel harus melihat mayat keluarganya. Gwen Zamora mampu membuat film minim dialog macam The Witness tetap hidup karena ekspresinya. Dari segi cerita pun tidak seklise film thriller kebanyakan, di mana ketika kamu tahu ada pembunuh di rumahmu, kamu malah bersembunyi dan menunggu dibunuh, bukannya berusaha kabur dan bertahan hidup. Yang kedua adalah background music dan sound effect, mungkin saya harus banyak berterima kasih kepada mas Izzal Peterson dan Khikmawan Santosa yang mampu membangun aura tegang dengan musik yang pas. The Witness mampu membuat beberapa orang berteriak tegang karena efek suara yang pas tanpa terasa menyebalkan.

The Witness baru main di 21 nanti tanggal 26 April 2012. Selamat menonton bagi teman-teman sekalian x)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s