Yang Nisan

Lima tahun tujuh bulan dua minggu lalu seharusnya aku ada di sini, Ri.

Aku terdiam di depan nisanmu. Mengais-ngais memori tentang kamu yang masih hidup dalam kepalaku.

Berjanjilah untuk bahagia, Fu.” kata-kata terakhir darimu yang sudah terdistorsi dengan suara-suara pria lain yang sudah berganti mengisi hatiku. Hanya penekanan kata “Fu” yang aku yakin pasti suaramu, karena hanya kamu yang bisa dan kuijinkan memanggilku begitu. Mungkin juga karena aku tak ingin kehilangan lagi memento tentang kamu.

Aku masih juga tak paham, apa yang harus kulakukan untuk berbahagia.

Siang ini terik, tapi tak terasa. Aku menatap nisanmu, diam. Tak ada emosi yang bergejolak dalam tubuhku. Apakah aku mulai melupakanmu, Ri? Atau karena aku sudah berhenti berpikir bahwa kematian itu mengerikan?

Aku tak tahu telah berapa lama aku berdiri di depan nisanmu. Sampai akhirnya peluh yang menetes di pipi, siang semakin terik. Masih dengan sejuta pertanyaan, apakah kamu juga berbahagia di sana, Ri, dan juga sejuta kemungkinan yang terjadi jika kamu masih ada. Jika kamu masih hidup. Jika aku dan kamu masih seperti yang dulu.

Karena ketika aku berada di sini, aku merasa seperti orang bodoh, dengan apa yang kujalani saat ini.

Apa artinya aku gagal memenuhi janjiku untuk berbahagia, Ri?

Kakiku akhirnya melangkah, menyerah dengan dingin di dalam dada yang semakin menjalar. Mungkin seharusnya aku berada di sini dua ribu lima puluh tiga hari lalu. Mungkin saat itu aku bisa menangis melepaskan semuanya, tidak membiarkan perasaan itu berputar putar lalu kemudian menjadi karat selama lima tahun tujuh bulan dan dua minggu ini.

Atau mungkin sebetulnya kesedihanku padamu memang sudah menguap?

Atau karena akhirnya aku bisa bersahabat dengan kehidupan?

Dan jika akhirnya kamu tak berada di sana, apakah aku akan menjalani dan bertemu orang-orang yang kuanggap luar biasa setelah kamu?

Yang mengajariku bagaimana memaafkan diri sendiri, yang mengajariku untuk percaya,

dan mengajariku bahwa kematian itu memang indah.

karena kita dipaksa untuk rela dan tidak lagi mengejar kemungkinan.

One thought on “Yang Nisan

  1. Pingback: Yang Dua Ribu Lima Ratus Lima Puluh Tujuh | +._cHoRo_.+

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s