Yang Metamorfosa

“Apakah metamorfosa setiap perjalanan manusia selalu ke arah yang lebih baik?”

Mungkin jika kita tidak bertemu tanpa sengaja di alun-alun utara karena sama-sama dirundung kebosanan, pembicaran setengah menarik ini tidak akan terjadi. Ah, setengah menarik, karena setengah pikiranku terfokus untuk hal lain yang aku pikir harus segera diselesaikan.

“Mungkin itu tergantung, jawaban seperti apa yang kamu butuhkan. Bukan, maksudku, yang kamu inginkan.” Aku mengambil recehan untuk membeli kembang gula yang tak begitu kusuka, sederhana, hanya karena warnanya menarik mata. “Apa justifikasi untuk baik dan tidak?”

Kamu menendang-nendang kerikil sambil masih menutup mulutmu. Pikiranku juga sudah mulai tak fokus, aku menggigiti kembang gula itu sambil menatap kerjapan lampu, sambil berimajinasi bagaimana jika lampu-lampu ini bergerak hidup lalu seperti sirkus, gegap gempita memberikan tawa. Ah, memang sudah jadi kebiasaan burukku tak mampu mengontrol kepalaku untuk tidak berpikir terstruktur dan fokus pada satu hal.

“Aku menyebutnya imajinatif,” kataku tiba-tiba, membuatmu menengok dengan wajah bingung. “Tapi mereka bilang aku tak mampu berkomitmen. Lantas bagaimana aku tahu buruk atau tidaknya? Ketika aku yang beberapa tahun lalu mengikuti aturan dan tidak punya inisiatif. Aku berubah, ke arah yang lebih baik atau tidak, aku tidak pernah tahu.”

Kamu mengangguk-angguk paham, “ah, karena ada banyak cara untuk melihat sesuatu, seperti Xenophanes, yang lalu membedakan kebenaran, kepercayaan dan pengetahuan.” Sekarang gantian aku yang heran apa hubungannya penyair itu dengan metamorfosa?

“Perubahan manusia! Xenophanes berkata walau manusia didesain untuk berkembang dalam kehidupan, tak ada juga fragmen manusia yang bertahan yang menunjukkan adanya optimisme bahwa kita akan berkembang menjadi lebih baik!” Tiba-tiba semangatmu yang biasanya muncul, ah, kamu memang selalu berapi-api tiap membahas filosofi.

“Opini, itu tak pernah stabil, dengan persuasi yang tepat sebuah opini buruk bisa hilang, dan juga memang tidak semua pendapat, bahkan yang terasa begitu kuat harus kita ikuti! Let these things be believed as like the realities! ”

Aku termenung sejenak, ya, sebuah opini buruk bisa hilang dengan persuasi yang tepat, atau manipulasi. “Warm your friends, but don’t burn them. “Aku sepertinya harus belajar mengontrol kapan pikiran tidak keluar dari mulut secara tiba-tiba dan membuat orang bingung. “Satu hal memang punya banyak sisi dan kita bisa berubah sikap ketika mendengar sisi yang lain, seperti ‘takut komitmen’, aku bisa melihatnya sebagai ‘pecinta kebebasan’, atau ketika aku melihat kamu ‘tidak realistis’ kamu menganggap dirimu ‘optimis’. Sesederhana itulah kesalahpahaman terjadi, aku pikir. Ketika pada akhirnya kita memilih untuk percaya apa yang kita ingin percaya.”

Lalu kita sama-sama terdiam, atau mungkin tersadar, bahwa opini dalam kepala kita sendiri masih membuat kita menghakimi orang-orang lain dan berkata ‘kamu berubah! Jadi gak asik!’ dan kita di sini berbicara tentang perubahan manusia dan opini yang menghakimi, seolah-olah kita sudah punya opini yang objektif.

One thought on “Yang Metamorfosa

  1. Pingback: Friedrich Nietzsche - dikamarmandi.in

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s