Yang Sanubari Jakarta

Adalah teman-teman dari @SaveDiversity yang membuat acara screening “Sanubari Jakarta” di Yogya, Jum’at malam kemarin. Roadshow Sanubari Jakarta sendiri juga sekaligus sebagai bagian dari kampanye IDAHO (International Day Against Homophobia dan Transphobia).

Sanubari Jakarta adalah omnibus film indie dengan sepuluh cerita yang berbeda dari sepuluh sutradara yang juga berbeda namun mengangkat satu tema yang sama, LGBT. Film yang diproduseri oleh Lola Amaria ini dikerjakan dengan gerilya dan butuh waktu kurang lebih setahun untuk selesai, dengan aktor dan aktris yang rela untuk tidak dibayar. Mengumpulkan dan mengatur sepuluh sutradara dengan sepuluh cerita dan sepuluh ego berbeda merupakan tantangan paling besar dalam film ini.

“½”, cerita yang disutradarai oleh Tika Pramesti ini berkisah tentang seorang pria yang bertanya tentang pilihan hidupnya. Hingga tiba-tiba muncul perempuan bernama Anna. Pilihan mana yang akan dia pilih? Siapa Anna sebenarnya dan mengapa muncul laki-laki bernama Biyan diantara Abi dan Anna?

Sebagai cerita pembuka, “½” sukses menarik minat penonton, dengan menonjolkan metafora pergolakan batin seseorang untuk memilih, dengan sinematografi yang cantik. Walau sayangnya, membuat penonton tidak paham apa pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara.

Malam Ini Aku Cantik, cerita yang diangkat dari cerpen dengan judul yang sama bercerita tentang kehidupan seorang waria, Agus. Kisah ini menceritakan perasaan Agus ketika harus mangkal hingga ketika ia diolok-olok karena pekerjaannya tersebut. Cerita ini disutradai oleh artis cantik Dinda Kanya Dewi.

Dimas Hary memainkan sosok waria yang selama ini selalu kita lupakan, yang berada dalam keadaan terpaksa. Yang unik di sini, Agus, digambarkan sebagai waria yang gemuk dan pemalu, justru tidak seperti stereotipe waria yang biasanya mangkal di pinggir jalan. Film ini ditutup dengan halus, dan simbolik dengan adegan Agus menatap foto istri dan anaknya yang tinggal jauh di kampung.

Lumba-Lumba, bercerita tentang seorang guru di sebuah TK Lumba-Lumba bernama Adinda. Dia selalu mengajarkan kepada anak-anak muridnya tentang lumba-lumba. Hingga Adinda bertemu dengan perempuan bernama Anggya yang merupakan orang tua dari salah seorang muridnya dan terjalinlah kisah kasih di antara mereka berdua.

Bagi teman-teman yang suka perempuan, bisa bersyukur ketika film sampai di bagian ketiga ini, karena adanya Dinda Kanya Dewi yang cantik itu. Film ini sebetulnya cukup menyenangkan jika adegan berhenti sampai adegan suami pergi untuk bertemu selingkuhannya, tanpa dengan lanjut menjelaskan bahwa selingkuhannya juga pria, karena menggambarkan sosok biseksual dalam kehidupan nyata. Akan tetapi, mungkin ini yang sebenarnya ingin Lola Amaria gambarkan, bahwa banyak pasangan gay dan lesbian yang menikah hanya sekedar untuk image, sementara orientasi mereka tidak berubah.

Terhubung, dua orang perempuan bernama Kartika dan Agatha yang sangat berbeda dan tidak saling mengenal ataupun berhubungan. Kartika adalah perempuan yang hidupnya selalu diatur dan dipilihkan termasuk untuk pasangan hidup. Sedangkan Agatha, perempuan yang baru putus dengan pasangan perempuannya. Mereka tanpa disadari saling terhubung, tapi apakah mereka benar-benar terhubung dan akan bertemu? Lalu apa yang sebenarnya menghubungkan mereka?

Hmm, well, sinopsis karya Alfrits John Robert ini sudah kurang lebih lengkap menggambarkan filmnya. Saya tidak merasa film ini spesial seperti tiga film pertama, tapi memang menyenangkan melihat bagaimana takdir dan kebetulan di sini bermain untuk menghubungkan mereka. Sayang aktor sampingannya, seperti cowok ngondek teman Agatha itu tidak natural dan malah jadi gengges.

Kentang, sebuah cerita drama komedi pasangan gay, Drajat dan Acel. Mereka sedang berada dalam kamar kos milik Drajat. Bermaksud ingin saling melepas rindu, tetapi selalu berujung pada perdebatan dan kejadian-kejadian lucu yang menganggu.

Film ini adalah film yang paling dekat dengan kehidupan nyata, karya Aline Jusria ini menggambarkan kejadian yang memang biasa terjadi, dengan situasi dan kondisi yang paling masuk akal. Dan juga menendang stereotipe bahwa tidak semua gay itu metroseksual. Selama sepuluh menit, komedi dibangun dengan konstan dan menghibur, norak in a good way (karena ada masa-masa kita jadi norak ketika berpacaran, kan?), dan dialog yang luar biasa manusiawi dan biasa terjadi.

Menunggu Warna, kisah yang disutradai Adriyanto Waskito Dewo bercerita tentang sepasang pria yang menjalin sebuah hubungan yang sangat mulus. Hal-hal romantis mereka jalani. Hingga mereka berada pada satu titik pertanyaan, apakah hubungan ini benar sungguhan terjadi?

Imajinatif! Dalam diskusi bersama crew Sanubari Jakarta, Lola Amaria menjelaskan, “dalam hidup kita biasa menunggu lampu hijau dan mengimajinasikan bagaimana apabila lampu hijau itu kita ambil dengan semua kemungkinan yang indah. Tapi pada saat yang sama, saat kita masih menunggu lampu merah itu berubah hijau, kita juga berpikir apakah semua akan seindah imajinasi itu?” Yang luar biasa lagi, selain karena warna yang ditonjolkan, film ini nyaris tanpa dialog, tapi juga mampu membuat penonton paham, tanpa kata-kata.

Pembalut, karya Billy Christian bercerita pasangan lesbian yakni Theresia dan Bianca yang berada dalam sebuah kamar motel. Mereka kemudian berdebat masalah pakaian dalam yang tertukar, datang bulan, hingga masalah utama dalam hubungan mereka.

Saya bingung apakah saya harus mencari apa yang sebetulnya sedang coba sang sutradara sampaikan dalam cerita ini, atau cukup menganggap bahwa ini hanyalah sepotong adegan dalam kehidupan, yang mungkin tidak terlalu banyak menyimpan sesuatu yang tersirat. Tapi film ini menunjukkan kemampuan akting one woman show Gesata Stella sebagai empat tokoh yang menggambarkan heteroseksual, biseksual, lesbian butch, dan lesbian femme yang punya satu kesamaan, mereka perempuan.

Topeng Srikandi, kisah yang disutradai Kirana Larasati ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Srikandi yang kemudian berubah pakaian dan peran menjadi laki-laki. Ini ia lakukan untuk membalas perbuatan bos dan para rekan kerja pria di kantornya yang sering melecehkan perempuan termasuk dirinya. Srikandi pun berhasil membuktikan, wanita pun pantas dihargai dan tidak pantas diinjak-injak.

Topeng Srikandi sebetulnya punya tema yang paling berbeda dari seluruh film Sanubari Jakarta yang mengangkat tema cinta dan hubungan antara manusia. Sayangnya, Topeng Srikandi juga film yang paling buruk dari keseluruhan Sanubari Jakarta. Saya sedikit berharap ketika tahu ada film yang bisa mengangkat tema feminisme, sayangnya akting yang ga enak dilihat dan juga dialog yang terlalu deskriptif sungguh sangat mengganggu dan tidak masuk akal dan membuat kecewa.

Untuk ‘A’, karya Fira Sofiana, sebuah cerita tentang seorang laki-laki yang sibuk mengetik sebuah surat kepada A. Di surat tersebut dijelaskan tentang perjuangan seorang laki-laki yang dilahirkan dengan wujud perempuan. Hingga akhirnya memutuskan untuk operasi kelamin menjadi laki-laki. Ketikan surat itu juga bersamaan dengan munculnya kejadian- kejadian di masa lalu yang sesuai dengan yang diuraikan pada suratnya.

Film narasi dengan nuansa gloomy tanpa klimaks. Aneh rasanya ketika cerita yang ditulis dengan kegelisahan namun berakhir bahagia tanpa adanya penjelasan dan datar.

Kotak Coklat, bercerita tentang kisah romantis seorang pria bernama Reuben yang bertemu perempuan bernama Mia. Mereka kemudian menjalin hubungan. Hingga sebuah kotak coklat ditemukan dan membawa mereka pada kenyataan di masa lalu.

Film ini dengan gemilang menjadi akhir dari Sanubari Jakarta, membawa cerita yang pasti ingin dirasakan oleh semua orang. Cinta tanpa batas. Apapun masa lalunya, atau apapun jenis kelaminnya. Sim F, yang biasa menjadi sutradara video musik, memberi sentuhan yang cukup magis dalam film ini, warna yang ditonjolkan soft dan cantik, alurnya pun tidak seperti terpaksa dan akhir yang memang indah dan cukup bikin galau bagi penonton yang masih juga single.

2 thoughts on “Yang Sanubari Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s