Yang Terlalu Banyak

Saya selalu merasa kekurangan sepatu, entah sepatu flat saya terlalu sedikit, high heels saya cuma satu, atau sandal jepit yang manis buat jalan-jalan juga kurang karena yang ada di rumah cuma sandal jepit jelek. Lalu ketika saya pulang dari pusat perbelanjaan menenteng sepatu atau sandal yang saya pikir kurang, saya jadi kaget ternyata ada lebih dari dua lusin pasang sepatu yang masih bagus di rak dan beberapa belas lagi yang memang agak kumal tapi masih layak pakai.

Pernah gak sih mengalami kayak gini?

Entah kenapa, kita akan selalu merasa kekurangan.Ya kurang sepatu, kurang baju, kurang waktu luang, sampe kurang kerjaan. Adaaaaaaa aja yang bakalan bikin kita pengen lagi, lagi, lagi dan lagi, padahal kita sebenernya udah kelebihan. Seorang teman beneran ngerasa kurang kerjaan, lalu ngambil proyek di sini dan di sana sampai akhirnya keteteran sendiri.

Mungkin gitu juga ketika kita merasa kurang dimengerti atau dicintai pasangan.

Mungkin kita butuh untuk mundur sejenak, berhenti, dan melihat, apakah perasaan kurang ini bener-bener karena kita kekurangan, atau hanya nafsu keserakahan kita semata untuk ingin dimengerti dan dicintai. Berhenti sejenak itu tidak menakutkan, kok. Mendengarkan suara hati kita sendiri dan merasakan apa yang sebenernya kita rasakan itu nggak akan membuat dunia kayang atau kebalik begitu saja dan kita jadi ketinggalan macem-macem.

One thought on “Yang Terlalu Banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s