Yang Tersesat

Tenang tenang, ini bukanlah tulisan galau ala Butiran Debu yang lagi ngehits sekarang ini.

Ini tentang tersesat dalam hasrat. *ih waw! Berima!*

Pernah gak, merasa seperti anak kecil yang seneng buanget kalo liat sesuatu yang baru dan lalu merengek-rengek pengen punya sesuatu itu? Saya sering. Bahkan saya sering merasa jiwa saya cuma bocah dua tahun yang terjebak dan ga bisa bertumbuh dewasa. Karena saya literally terlalu mudah excited terhadap hal baru. Saya ingin belajar bahasa ini, bahasa itu, saya pengen menguasai skill anuh, saya pengen lanjut kuliah di jurusan yang onoh, tapi juga pengen jurusan yang entuh. Tapi semua seperti nafsu hasrat belaka. Karena emang ga segampang itu, kan, mencapainya. Apa iya saya cuma kedip kemudah langsung lancar bahasa asing?

Nah, sayangnya, progress belajar saya kalah cepat dengan menambahnya hasrat hasrat baru. Lalu seringkali, semua tampak berantakan dan lalu saya merasa seperti tersesat. Tersesat dalam hasrat saya sendiri. Dalam kepala saya sendiri. Apa yang mau saya capai duluan? Mana yang harusnya jadi prioritas? Semua tampak menggiurkan, tapi juga tampak begitu jauh. Dan kaki saya bingung mau mengejar yang mana duluan. Dan kesalahan terbesar saya, ketika saya bingung, saya lalu bengong dan menyusun ulang prioritas, yang sebenarnya gak perlu.

Majikan saya selalu bilang, saya gak pernah benar-benar tersesat, saya hanya lupa sedang mengejar apa. Jika saya berlari mengejar, saya harus mengejar satu per satu, bukan semua secara sekaligus. Karena sebenarnya semua yang saya kejar itu bisa dicapai kalo saya sendiri mau. Gitu kata majikan saya. Tapi hasrat saya begitu nakal, menggoda, mengacaukan fokus yang sedang saya coba pusatkan. Aneh banget yak. Lagi iseng belajar bahasa asing, kok tau tau pengen belajar bahasa pemograman, lha ya buyar tho ya. Lagi buka dasar bahasa pemograman, eh kepala lari-lari ngintipin sejarah. Gimana sih kamu, dasar kepala!

Majikan saya sih udah geleng-geleng dan tepok jidat, tapi yah begitulah, sangat mudah rasanya meloncat loncat ke sana kemari penuh semangat, sampe akhirnya saya lelah dan kemudian ketika duduk beristirahat, saya lupa sedang mengejar apa. Dan semua yang saya colak colek, jadi berantakan di belakang. Tidak tersusun. Tidak rapi. Tidak terstruktur. Tersesat.

Trus yang tersisa hanyalah perasaan galau, “saya sedang mengejar apa, sih?” Saya rasa semua orang sering mengalami ini. Dan entah kenapa, satu satunya obat penghilang galau karena tersesat ini adalah, “rumah”. Iyah, perasaan memiliki tempat pulang yang terus ngeyakinin bahwa kemana kaki kita melangkah itu gak salah. “Rumah” yang selalu mengingatkan apa sih tujuan kita ketika kaki kita melangkah keluar dan kejar-kejaran lagi sama si hasrat.

“Rumah” di sini kan ga mesti rumah beneran. Bagi saya, majikan saya seperti rumah saya. Ketika saya merasa nyasar, majikan saya nggak memberhentikan dan lalu menyuruh pulang. Tapi terus menerus mengingatkan, apa yang sedari awal saya inginkan, bukan pikiran nakal si hasrat yang baru nongol kemarin. Yang memaksa kaki saya balik ngejar lagi hal yang harus saya kejar duluan.

Kok kesannya manja ya, butuh orang lain gitu. Tapi, bukankah lebih menyenangkan ketika kamu sedang berjuang, ada “tempat pulang”? Dan membuat kamu bener-bener ngerasa sedang mengejar sesuatu untuk diri kamu sendiri, bukan sedang tersesat demi pembuktian yang kamu gatau mau kamu buktikan ke siapa. Karena kamu ga punya tempat.. “pulang”.

One thought on “Yang Tersesat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s