Yang Dua Ribu Lima Ratus Lima Puluh Tujuh

Pagiku disambut oleh pesan singkat dari adikmu,

Fu, hari ini tepat 7 tahun ya.

Iya. Aku ingat. Aku selalu ingat.

Dua ribu lima ratus lima puluh tujuh hari aku yang berjalan tanpa kamu, dan masih belum bisa juga melupakan kamu.

Tapi bagaimana bisa aku melupakan kamu jika aku terus menarik kenangan tentang kamu tetap menempel di semua selaput otak ku?

Aroma kamu, bagaimana bisa aku lupakan jika kemudian sepeninggalan kamu aku terobsesi dengan semua produk yang kamu gunakan, sabun, shampoo, parfum, bahkan cologne? Suara kamu, bagaimana bisa aku lupakan jika kemudian sepeninggalan kamu aku terus berdialog di kepalaku dengan sisa sisa apa yang bisa kuingat tentang kamu. Yang terus menerus mengingatkan aku bahwa kamu sudah pergi, jauh, tidak kembali.

Kamu tahu betapa hampanya aku yang terus gelisah mencari sosok kamu di tengah keramaian, di manapun aku berada, walau aku tahu, sosok kamu adalah hal yang tidak mungkin ada lagi?

Ya, aku masih teringat kata kata terakhir kamu, “Berjanjilah untuk bahagia, Fu.” Kamu tahu, lebih dari dua ratus dua puluh juta detik aku melewati dengan pertanyaan yang sama di kepalaku karena mengenangmu, “Apa artinya aku gagal memenuhi janjiku untuk berbahagia, Ri?

Satu buah pesan singkat membuyarkan rentetan pertanyaan yang siap aku lontarkan kepada perasaan bersalahku.

Fu, kamu ke makam, kan?

***

Lima ratus empat hari lalu aku mengunjungi kamu, meninggalkan guratan dialogku kepadamu di sini.

2 thoughts on “Yang Dua Ribu Lima Ratus Lima Puluh Tujuh

  1. Pingback: Tentang Ikhlas - dikamarmandi.in

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s