Yang Pulang

“Sudah dua bulanan ndak pulang aku, emoh ketemu bapak. Tiap pulang pasti berantem, aku tuh bukan anak seperti bayangan bapak, aku wis menemukan jati diriku sendiri.”

“Ya pulanglah, cerita lah ke bapakmu, tentang jati dirimu yang kamu temukan dan bagaimana kamu mau menjalani hidupmu.”

“Yo ndak bisa, bapak kan atos. Mana mau ndengerin aku, belum apa-apa, aku wis dicap kafir dan ikut pergaulan njakarta. Lagian bapak selalu lari dari masalah, ndak pernah ada tuh yang selesai. Kalo bapak bilang A ya A, sisanya ya karena aku durhaka.”

“Yang melarikan diri itu bapak, atau kamu yang gak mau membiarkan bapak mengerti kamu? Kalo belum masuk aja, pintumu udah dibanting di mukanya, bapakmu ya memilih pergi.”

Yang Mempermainkan Tuhan

Mereka bilang kita mempermainkan tuhan,

ketika kamu dengan menandai salib ke dadamu lalu bertakbir. dan ketika aku membasuh wajahku sambil berucap, “amin amin ya rabbal ‘alamin” setelah selesai menyelesaikan novena tiga salam maria.

Mereka bilang kita mempermainkan tuhan,

ketika aku berdzikir doa bapa kami selepas salat magrib, dan kamu mengucapkan syahadat setelah kamu menyelesaikan sakramen ekaristimu.

Mereka bilang kita mempermainkan tuhan,

maka jilbabku boleh dijambak dan dilempar ke luar katedral sebelah masjid tempatmu terusir dari tausiyah romadhon tahun ini karena rosario di pergelangan tanganmu.

Mungkin manusia lebih perkasa ketimbang agama dalam menghakimi umatnya,

 

sementara kita hanya berusaha menyogok tuhan dengan doa agar diijinkan bersama.

Yang Dua Ribu Lima Ratus Lima Puluh Tujuh

Pagiku disambut oleh pesan singkat dari adikmu,

Fu, hari ini tepat 7 tahun ya.

Iya. Aku ingat. Aku selalu ingat.

Dua ribu lima ratus lima puluh tujuh hari aku yang berjalan tanpa kamu, dan masih belum bisa juga melupakan kamu.

Tapi bagaimana bisa aku melupakan kamu jika aku terus menarik kenangan tentang kamu tetap menempel di semua selaput otak ku?

Aroma kamu, bagaimana bisa aku lupakan jika kemudian sepeninggalan kamu aku terobsesi dengan semua produk yang kamu gunakan, sabun, shampoo, parfum, bahkan cologne? Suara kamu, bagaimana bisa aku lupakan jika kemudian sepeninggalan kamu aku terus berdialog di kepalaku dengan sisa sisa apa yang bisa kuingat tentang kamu. Yang terus menerus mengingatkan aku bahwa kamu sudah pergi, jauh, tidak kembali.

Kamu tahu betapa hampanya aku yang terus gelisah mencari sosok kamu di tengah keramaian, di manapun aku berada, walau aku tahu, sosok kamu adalah hal yang tidak mungkin ada lagi?

Ya, aku masih teringat kata kata terakhir kamu, “Berjanjilah untuk bahagia, Fu.” Kamu tahu, lebih dari dua ratus dua puluh juta detik aku melewati dengan pertanyaan yang sama di kepalaku karena mengenangmu, “Apa artinya aku gagal memenuhi janjiku untuk berbahagia, Ri?

Satu buah pesan singkat membuyarkan rentetan pertanyaan yang siap aku lontarkan kepada perasaan bersalahku.

Fu, kamu ke makam, kan?

***

Lima ratus empat hari lalu aku mengunjungi kamu, meninggalkan guratan dialogku kepadamu di sini.

Yang Phyllis

GambarPhyllis adalah putri dari Raja Sithon dari Thrace, yang jatuh cinta kepada putra Theseus, Demophon dari Athena. Demophon mampir di Thrace sepulang dari perang Trojan. Raja Sithon memberikan sebagian dari kerjaannya dan putrinya untuk dinikahi. Lama tinggal di Thrace, Demophon merasa rindu akan Athena dan pamit untuk pulang ke Athena sambil menjanjikan kepada Phyllis dia akan kembali suatu hari nanti untuk menikahinya.

Phyllis menunggu dan menunggu di Ennea Odoi (sembilan jalan), pohon tempat mereka pertama kali bertemu. Legenda mengatakan, Phyllis kembali sembilan kali ke pohon itu untuk menunggu Demophon. Merasa ditinggalkan, Phyllis memilih menggantung dirinya di Ennea Odoi.

Para dewa dewi merasa kasihan, lalu mengubah Phyllis menjadi pohon almond. Pohon kering tanpa daun dan tanpa bunga. Tak lama kemudian, Demophon kembali ke pohon itu, ia terkejut mendapati Phyllis yang dicintainya sudah meninggal. Dengan sedih, dia memeluk pohon tersebut. Secara ajaib, tiba-tiba pohon tersebut berbunga, seolah menandakan bahwa Phyllis terus menunggu Demophon di sana, sebagai bukti bahwa kematian pun tidak akan menghalangi cinta.

Yang Metamorfosa

“Apakah metamorfosa setiap perjalanan manusia selalu ke arah yang lebih baik?”

Mungkin jika kita tidak bertemu tanpa sengaja di alun-alun utara karena sama-sama dirundung kebosanan, pembicaran setengah menarik ini tidak akan terjadi. Ah, setengah menarik, karena setengah pikiranku terfokus untuk hal lain yang aku pikir harus segera diselesaikan.

“Mungkin itu tergantung, jawaban seperti apa yang kamu butuhkan. Bukan, maksudku, yang kamu inginkan.” Aku mengambil recehan untuk membeli kembang gula yang tak begitu kusuka, sederhana, hanya karena warnanya menarik mata. “Apa justifikasi untuk baik dan tidak?”

Kamu menendang-nendang kerikil sambil masih menutup mulutmu. Pikiranku juga sudah mulai tak fokus, aku menggigiti kembang gula itu sambil menatap kerjapan lampu, sambil berimajinasi bagaimana jika lampu-lampu ini bergerak hidup lalu seperti sirkus, gegap gempita memberikan tawa. Ah, memang sudah jadi kebiasaan burukku tak mampu mengontrol kepalaku untuk tidak berpikir terstruktur dan fokus pada satu hal.

“Aku menyebutnya imajinatif,” kataku tiba-tiba, membuatmu menengok dengan wajah bingung. “Tapi mereka bilang aku tak mampu berkomitmen. Lantas bagaimana aku tahu buruk atau tidaknya? Ketika aku yang beberapa tahun lalu mengikuti aturan dan tidak punya inisiatif. Aku berubah, ke arah yang lebih baik atau tidak, aku tidak pernah tahu.”

Kamu mengangguk-angguk paham, “ah, karena ada banyak cara untuk melihat sesuatu, seperti Xenophanes, yang lalu membedakan kebenaran, kepercayaan dan pengetahuan.” Sekarang gantian aku yang heran apa hubungannya penyair itu dengan metamorfosa?

“Perubahan manusia! Xenophanes berkata walau manusia didesain untuk berkembang dalam kehidupan, tak ada juga fragmen manusia yang bertahan yang menunjukkan adanya optimisme bahwa kita akan berkembang menjadi lebih baik!” Tiba-tiba semangatmu yang biasanya muncul, ah, kamu memang selalu berapi-api tiap membahas filosofi.

“Opini, itu tak pernah stabil, dengan persuasi yang tepat sebuah opini buruk bisa hilang, dan juga memang tidak semua pendapat, bahkan yang terasa begitu kuat harus kita ikuti! Let these things be believed as like the realities! ”

Aku termenung sejenak, ya, sebuah opini buruk bisa hilang dengan persuasi yang tepat, atau manipulasi. “Warm your friends, but don’t burn them. “Aku sepertinya harus belajar mengontrol kapan pikiran tidak keluar dari mulut secara tiba-tiba dan membuat orang bingung. “Satu hal memang punya banyak sisi dan kita bisa berubah sikap ketika mendengar sisi yang lain, seperti ‘takut komitmen’, aku bisa melihatnya sebagai ‘pecinta kebebasan’, atau ketika aku melihat kamu ‘tidak realistis’ kamu menganggap dirimu ‘optimis’. Sesederhana itulah kesalahpahaman terjadi, aku pikir. Ketika pada akhirnya kita memilih untuk percaya apa yang kita ingin percaya.”

Lalu kita sama-sama terdiam, atau mungkin tersadar, bahwa opini dalam kepala kita sendiri masih membuat kita menghakimi orang-orang lain dan berkata ‘kamu berubah! Jadi gak asik!’ dan kita di sini berbicara tentang perubahan manusia dan opini yang menghakimi, seolah-olah kita sudah punya opini yang objektif.

Yang Nisan

Lima tahun tujuh bulan dua minggu lalu seharusnya aku ada di sini, Ri.

Aku terdiam di depan nisanmu. Mengais-ngais memori tentang kamu yang masih hidup dalam kepalaku.

Berjanjilah untuk bahagia, Fu.” kata-kata terakhir darimu yang sudah terdistorsi dengan suara-suara pria lain yang sudah berganti mengisi hatiku. Hanya penekanan kata “Fu” yang aku yakin pasti suaramu, karena hanya kamu yang bisa dan kuijinkan memanggilku begitu. Mungkin juga karena aku tak ingin kehilangan lagi memento tentang kamu.

Aku masih juga tak paham, apa yang harus kulakukan untuk berbahagia.

Siang ini terik, tapi tak terasa. Aku menatap nisanmu, diam. Tak ada emosi yang bergejolak dalam tubuhku. Apakah aku mulai melupakanmu, Ri? Atau karena aku sudah berhenti berpikir bahwa kematian itu mengerikan?

Aku tak tahu telah berapa lama aku berdiri di depan nisanmu. Sampai akhirnya peluh yang menetes di pipi, siang semakin terik. Masih dengan sejuta pertanyaan, apakah kamu juga berbahagia di sana, Ri, dan juga sejuta kemungkinan yang terjadi jika kamu masih ada. Jika kamu masih hidup. Jika aku dan kamu masih seperti yang dulu.

Karena ketika aku berada di sini, aku merasa seperti orang bodoh, dengan apa yang kujalani saat ini.

Apa artinya aku gagal memenuhi janjiku untuk berbahagia, Ri?

Kakiku akhirnya melangkah, menyerah dengan dingin di dalam dada yang semakin menjalar. Mungkin seharusnya aku berada di sini dua ribu lima puluh tiga hari lalu. Mungkin saat itu aku bisa menangis melepaskan semuanya, tidak membiarkan perasaan itu berputar putar lalu kemudian menjadi karat selama lima tahun tujuh bulan dan dua minggu ini.

Atau mungkin sebetulnya kesedihanku padamu memang sudah menguap?

Atau karena akhirnya aku bisa bersahabat dengan kehidupan?

Dan jika akhirnya kamu tak berada di sana, apakah aku akan menjalani dan bertemu orang-orang yang kuanggap luar biasa setelah kamu?

Yang mengajariku bagaimana memaafkan diri sendiri, yang mengajariku untuk percaya,

dan mengajariku bahwa kematian itu memang indah.

karena kita dipaksa untuk rela dan tidak lagi mengejar kemungkinan.

Yang Hampa

“Aku tak ingin tidur.”

“Eh, kenapa?”

“Entahlah, aku takut terbangun dengan rasa sakit di dada.”

“Asma?”

“Bukan, seperti ada lubang hitam di sana, lalu menghisap tenaga dan sisa sisa kebahagiaanku….

…Kamu tahu, aku lelah berpikir ‘bagaimana jika’, atau ‘seandainya saja’. Seperti memberikan persidangan imajiner dalam kepalaku, di mana terdakwa nya adalah diriku sendiri, penuntutnya pun diriku sendiri dan dihakimi oleh diriku sendiri. Mungkin ini yang namanya hampa.

…Sudahlah, aku tak ingin bicara, peluk aku.”

“Kamu masih ingat kan, apa yang kuajarkan padamu tentang kota ini?”

“Ya, karena aku dari kampung dan ibukota ini jahat, aku tak boleh mempercayai semua orang.”

“Kamu tahukan, aku termasuk dalam ‘semua orang’ itu?”

“Tahu, paham malah. Tapi aku tidak peduli, aku sedang tak ingin peduli. Peluk aku.”