Yang Talaga Tahu

Kemarin ketika di Bandung (lagi) saya menyempatkan diri ke cihampelas walk, selain berkencan dengan pacar abang dvd langganan (itu loh, chelsea dvd yang di depan ciwalk sebelah persis bengkel honda *promosi*) saya juga menyempatkan mampir ke sebuah warung tahu yang selalu ramai di sini. Ada 2 warung tahu sebetulnya, yang 1 saya lupa namanya, yang 1 lagi adalah “Talaga”.

Berbentuk seperti sebuah angkringan, dengan bangku bangku dimana mana (tanpa meja), dengan 4 orang lebih pelayan yang siap membantu kita memesan dan juga menjelaskan menu, karena banyaaaaaaaak banget menunya baik yang tradisional maupun unik, dari tahu samosa, tahu bodo, tahu buntel, tahu crispy dan lainnya. Dengan harga sekitaran lima sampai sepuluh ribu.

Rekomendasi menu dari talaga adalah tahu bodo, tahu yang dikeluarkan isinya, di campur cabe rawit lalu di satukan kembali. Pedas dan kering *bukan sambel yang basah* tadinya mau pesan, tapi berhubung saya dan abang dvd MJ takut mules di ciwalk, maka kami memesan menu yang lain :

Tahu BULE adalah tahu yang berisi keju cair dan irisan salami. Perpaduan keju yang gurih, tahu yang digoreng renyah dan saus asam manis cukup memuaskan cacing di perut. Satu porsinya berisi 3 potong tahu dengan harga sepuluh ribu rupiah.

Tahu BUNTEL dibungkus dengan kulit pangsit seperti dimsum dengan campuran potongan dadu tahu kecil dan bawang bombai yang gurih. Anyhow, saosnya saya kurang tahu apa, tapi mirip dengan saus instan abc “sambal bangkok” *soale itu sambal botol langganan di rumah XD* Dengan sepuluh ribu rupiah, saya bisa mendapatkan 4 potong.

Anyhow, kami berdua memilih minuman es teh manis dan es teh kocok. Menurut MJ, secara kita mau mencoba spesialisasi mereka, lebih baik pesen minum yang murah biasa saja. Es tehnya bisa anda dapatkan seharga tiga ribu dan es teh kocoknya 6500. Semua harga diatas sudah termasuk PPN.

Sangat disayangkan kalau harus meninggalkan talaga tahu tanpa mencoba semua menu yang ada di sana. Semuanya unik unik. Samosa tahu misalnya, tahu berbentuk pastel yang juga di campur kari ayam. Dan jika ada kesempatan ke bandung lagi, saya pasti ke talaga lagi untuk memuaskan hasrat penasaran saya akan menu lainnya πŸ™‚

ps :Β  adakah yang bisa membantu saya setting makro dari kamera w705, karena untuk jarak jauh malah fokus sedang jarak dekatnya buram, dan saya masih belum menemukan settingan makro di sini. Sankyu.

Yang Marathon Pempek

Setelah marathon Ramen minggu lalu, sekali lagi, pasangan alle dan hermansaksono mengadakan marathon makanan lagi. Minggu ini temanya adalah, pempek. Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan “apek”, yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina. (wikipedia)

Misi penggemukan minggu ini diikuti dengan lebih banyak pemakan inti, yaitu saya, memethmeong dan funkshit, dengan additional player perikecil dan bintang tamu bang kristupa. Sedangkan hermansaksono bertugas sebagai juru potret dan alle sebagai perias. Kami berangkat semenjak jam 3 kurang sedikit dan berakhir pukul setengah delapan dan berhasli mencicipi lima tempat dengan menu utama pempek kapal selam dan tekwan.

Sudah siap?

Yang Marathon Ramen

Ramen? Ramen itu apa sih? Ramen adalah mie instan jepang. Sebetulnya ramen tidak ada bedanya dengan indomie. Warung ramen di jepang sana sama derajatnya dengan warung burjo/indomie di Indonesia. Hanya, tampilan di sana memang lebih cantik dari pada di sini. Sama seperti indomie, ramen pun tidak baik dimakan setiap hari karena tinggi karbohidrat dan sodium namun rendah vitamin dan mineral.

Hari minggu kemarin, tanggal 17 Januari, pasangan Alle dan Hermansaksono mengadakan “tour d’ ramen” dengan additional player saya, defikckry, sang peri dan funkshit. Sejak jam makan siang hingga jam makan malam, kami berhasil mendatangi 5 tempat makan ramen dari sekian banyak tempat makan ramen di jogja.

Adapun penilaian yang saya lakukan adalah subjektif dengan melihat tampilan, rasa serta lokasi warung ramen.

Yang pertama adalah ramen superindo :

Sebetulnya nama tempatnya hanya “Ramen” berhubung lokasi nya tepat di depan Superindo Jalan Kaliurang, maka saya menyebutnya Ramen Superindo.

Karena saya telat datang mencicipi ramen di samping, maka saya tidak akan memberikan penilaian dari segi rasa. Namun secara penampilan ramen ini sangat cantik. Lokasinya pun cukup strategis dengan tempat parkir yang tidak menyulitkan. Untuk Shoyu di berikan di meja sehingga kita bisa bebas menambahkan shoyu.

Menu yang di pesan adalah Ramen Telur Impor, harganya kalo saya tidak salah ingat sekitar 10 ribu rupiah saja.

Yang kedua Ramen Samurai :

Samurai Ramen terletak tepat di simpang tiga jalan kaliurang. Ramen ini terkenal tidak enak. Bukan tidak enak secara rasa, namun tidak enak secara ramen. Menurut saya, menu ini lebih baik disebut “soto mie” ketimbang ramen. Lebih lagi ayamnya disuwir, brambang goreng dan telur puyuh, makin mirip dengan soto-mie. Tempat parkirnya cukup menyulitkan. Tidak terbayangkan jika naik mobil ke sana. Masaknya relatif sebentar, dengan tempat agak jorok. Harga menu “Ramen” (bukan beef atau telur etc, cuma ramen) diatas, hanya 9 ribu rupiah saja. Bagi teman saya, samurai ramen enak karena rasanya cukup “njawani”. Sayurannya ditumis terlebih dahulu ala cap cay baru dimasukkan ke dalam ramen. Es tehnya agak jorok karena saya menemukan butiran kotoran di dalam gelasnya.

Rate : 1/5

Yang Ketiga Sapporo Ramen :

Sapporo Ramen jika saya tidak salah ingat adalah WARUNG ramen pertama yang masuk jogja (bukan dalam embel embel resto). Dengan harga murah ramen ini menyediakan porsi super besar. Menu yang kami beli adalah Miso Ramen. Sayurannya cukup banyak, dagingnya enak. Mie nya cukup kenyal (atau malah kelembekan?) Dan masih cukup njawani walau tidak berasa soto mie. Kuah misonya menurut saya enak. Hanya dengan harga 12 ribu saja, 1 mangkok ini bisa mengenyangkan (literally) perut orang lima. Karena porsinya memang besar. Tempat parkirnya sempit dan tidak di ada tukang parkir, sehingga sering berantakan dan sulit keluar masuk. Tempatnya juga agak kotor. Oh iya, di Sapporo juga menyediakan Sencha (teh hijau).

Rate 2/5

Yang ke empat Sentana Bistro Ramen :

Sentana Bistro terletak di jl. Kaliurang KM. 5,5 No. 49. Tempatnya mewah, bersofa, parkirnya cukup, tempatnya adem dan pelayannya ramah. Ramen yang kami pesan adalah Miso Ramen, dengan harga dua kali lipat dari ramen yang lain, 23 ribu. Ketika datang, porsinya memang tidak sebesar Sapporo Ramen, tapi pasti cukup mengenyangkan jika dimasak seorang. Mie nya menurut saya agak kaku. Kuah misonya tidak sekental Sapporo tapi lebih enak. Ayamnya di masak teriyaki dahulu baru dimasukkan ke dalam Ramen sehingga terasa lebih gurih. Secara tampilan, Sentana Bistro masih di bawah Ramen Superindo, tapi lebih bagus daripada yang lainnya. Dan yang menyenangkan, ada Narutonya! (Naruto adalah irisan ikan yang bewarna pink dan putih yang dibuat dari kamaboko) Sayangnya harga minumannya cukup mewah, teh hijau dinginnya segelas 10 ribu.

Rate : 4/5

Yang terakhir adalah Silla Ramen :

Silla resto terletak di Jl Arteri Ringroad Utara 33.Β  Bersebelahan dengan Happy Puppy karaoke. Tempatnya enak, kita bahkan bisa mendapat private room tanpa biaya tambahan. Di dalam private room bergaya meja lantai, kita bisa berglundung glundung, main petak umpet dan foto di pojokan ala setan Ju-On (dan percayalah, kami melakukan ini semua).

Kami memesan chicken ramen dengan harga sama seperti miso ramen sentana. Menurut saya, mienya di silla adalah yang paling pas kekenyalannya, tapi menurut yang lain rasanya seperti indomie. Telurnya enak, porsinya cukup besar dan irisan daging ayamnya besar besar dan diletakkan di bawah ramen, bukan di atas seperti ramen lainnya. Secara tampilan ramen ini biasa saja. Dan mbaknya sangat baik hati, memberikan tambahan 5 mangkok kecil pada kami yang hanya memesan satu ramen ini saja. Minumannya pun tidak semewah di Sentana Bistro. Satu poci chinese tea cukup 14 ribu saja, dan bukannya oolong tea, tapi malah green tea(tapi namanya chinese tea).

Di meja silla disediakan lengkap garam, gula, merica, vinegar dan shoyu, sehingga tidak kesulitan untuk bereksperimen rasa tanpa harus malu (karena di private room).

Rate : 4/5

Jadi, mau makan ramen apa hari ini?

all photograph courtesy of @hermansaksono

Yang Bumbu Desa

Ibu saya ulang tahun, karena jarang sekali nraktir anak anaknya (karena yang biasa nraktir si bos besar, alias babeh) ditambah sebagai orang berkasta tertinggi di dalam hirearki rumah kami, ibu berinisiatif mentraktir makan, pilihannya dua, Ayam goreng Tojoyo 3 yang terkenal selalu ramai, atau Bumbu Desa. Berhubung Jalan Solo macet ga karuan dan parkiran di dekat Tojoyo 3 penuh, akhirnya kami banting stir ke Bumbu Desa.

Malam itu bumbu desa penuh, ntah memang selalu ramai atau cuma malam itu saja. Kami tidak disambut, menyebalkan, tapi mungkin mereka pada sibuk. Karena bingung mau duduk di mana dan menuhin jalan, seorang staff mendekati kami dan bertanya apa kami sudah memesan tempat? Harusnya sih mereka cukup sadar bahwa orang yang bingung di tengah restoran ya pasti belum memesan tempat.

Dia memberi tahukan bahwa kami duduk di meja 20, dan kami dipersilahkan memesan makanan. Saya dan si adek si belum pernah ke Bumbu Desa, jadi kurang tahu sistem nya gimana. Ternyata ada satu meja display makanan yang siap goreng, kita tinggal tunjuk mau ambil apa yang mana. Nanti akan di bantu oleh 2orang, yang satu mencatat pesanan kita, yang satu mengambil pesanan kita untuk di goreng.

Tapi ada juga beberapa menu yang ga butuh di hangatkan, misalnya sambel terong, ayam kremes, sayur asem, karedok, etc. Saya memesan ayam kremes dan sayur asem, adek memesan ayam goreng bumbu desa, dan ibu ikan patin goreng ples karedok ples terong sambal ples tahu tempe goreng. Tidak apa apa, yang ulang tahun berhak makan banyak.

Kata ibu saya ikan patinnya enak, saya ndak mencoba, jadi kurang tahu. Ini yang di sayangkan dari menu yang tidak di panaskan, ayam goreng kremesnya ngga enak, padahal kremesannya cukup lezat. Ga enak karena ayamnya jadi alot, berminyak dan dingin. Sayur asemnya pun lebih pantas di bilang sayur manis, dan isinya terlalu lembek (kacang, weluh, jagung dan lainnya). Dan kata ibu saya, terong sambalnya basi.

Sambelnya (sambel bawang) cukup pedas, tahunya, walaupun ngga garing tapi cukup asin dan ngga asem. Ples bisa nambah sambel kecap (ngga ada di display). Lalapannya boleh ambil sendiri, tapi cuma selada, timun dan daun kemangi. Padahal lalapan tanpa kubis itu menurut saya kurang afdol.

Minumannya ada berbagai macam pilihan, yang menarik disana juga ada juice therapy (jus buah campuran dan dihidangkan tidak dingin) Saya memesan juice strawberry, timun dan semangka. Tapi rasa strawberrynya ngga ada. Adik saya memesan es klamud leci yang rasanya lucu. Sedang ibu saya memesan es kebut, hmm.. selasih, jeli dan.. ntah apa saja, tapi yang jelas enak. Lalu saya menambah es teh manis, tapi lebih pantas di bilang es gula pake teh karena kemanisan.

Sama halnya seperti warung sunda, kita diberikan teh tawar hangat free. Cocok kalo ngga sengaja kena cabe rawit dan bikin bibir perih seperti yang saya alami.

Jika menurut iklan harga makanan bumbu desa adalah harga orang desa. tolong jangan bayangkan harga yang murah. Mungkin maksudnya harga orang desa adalah bagi para mandor tanah atau orang gedong yang tinggal di desa. Karena harganya cukup mahal. Nasi putih nya 4rb, ayamnya 11rb, tahu goreng 4rb (per porsi, dan satu porsi itu satu tahu yang di belah dua) dan tempe gorengnya 3rb (per porsi, dan seporsi 1) sedang minumannya rata rata 15 ribu (tapi es klamud leci “cuma” 11 rb dan es teh manisnya 4 rb) PLES, harga diatas BELUM termasuk PPN 10%

View bumbu desa sangat cantik. Saat masuk ada semacam band yang memainkan lagu jazz.. atau pop oldies? lupa saya, tapi cukup merdu. Pelayannya banyak, sehingga tidak kesulitan memanggil pelayan dan masakan diantar relatif cepat.

Ada yang menarik hari ini, dua orang tamu berulang tahun dan serombongan pelayan (bukan band yang ada di sana) membawa semacam gendang, sendok, lalu bernyanyi nyanyi selamat ulang tahun pada mereka. Ntah harus pesan dulu atau tidak, tadinya saya mau manggil mereka karena si Ibu juga ulang tahun, tapi saya urungkan karena kalah ramai peserta yang ulang tahun ketimbang tamu lainnya. Masak ya cuma bertiga, ga seru.

Overall.. saya ga mau kesini kalo ndak dibayarin, dan kalo kesini lagi, tolong ingatkan saya untuk jangan memesan ayam kremes dingin lagi.

Yang Hottosuupu

Weekend kemarin saya ke Bandung. Dalam rangka apa? Kencan sama mas mas dvd cihampelas yang jual dvd murah MJ (bukan Michael Jackson ataupun Mas Joko). Jam 6, saya di jemput MJ di stasiun. Yayaya, banyak kebodohan yang saya lakukan selama perjalanan saya ke bandung, salah satunya, ketika saya harusnya turun di stasiun hall bandung, baru sampai kiaracondong saya sudah pede loncat dari kereta. Untung saya segera naik lagi, kalo lupa, ntah gimana nasibnya saya dari kiaracondong sementara MJ nunggu di stasiun hall.

Sampai di sana, saya merengek rengek minta makan sama MJ. Pertama MJ ngajak ke KFC yang langsung saya tolak, “lha. di jogja juga ada KFC, ngapain jauh jauh ke bandung buat makan pretciken?” MJ pun ngajak ke istana plaza. Nyari nyari tenant yang sekiranya ndak ada di jogja. Tapi MJ udah wanti wanti jangan milih hanamasa, karena harganya luar biasa. Luar biasa apa? ya mbuh, di jogja ga ada hanamasa sih.

Masuk ke IP…

Yang Syarifah

Sapa yang tau Bubur Ayam Syarifah di Jogja? Yang deket ruko colombo yang dulunya cheaper cheaper sekarang jadi jualan batik, sebelahe Waroeng Steak Colombo? Nah, tadi pagi, setelah kelar ujian, saya pergi tamasya berkeliling keliling kota hendak melihat-lihat keramaian yang ada Saya panggilkan becak kereta tak berkuda becak … becak … coba bawa… *lho?? kok ga fokus!* Saya pergi ke Bubur Ayam Syarifah karena kelaparan. Mungkin ini efek penggunaan otak di kala ujian, jadi walaupun sudah sarapan, 2 jam kemudian lapar lagi *alesan banget si chor, bilang aja emang lu maruk*

Warung bubur yang spanduknya cerah dengan kuning oranye ini ternyata luas pisan. Mejanya kalo saya ga salah hitung ada 8, dengan kapasitas kalo ga salah bisa 30an orang *mungkin lebih*. Turun dari motor, saya disambut sama mas mas ganteng dan kinyis kinyis, fresh from the oven dan rapih jali, bikin saya ngiler.

Saya langsung pesan,