Yang Mempermainkan Tuhan

Mereka bilang kita mempermainkan tuhan,

ketika kamu dengan menandai salib ke dadamu lalu bertakbir. dan ketika aku membasuh wajahku sambil berucap, “amin amin ya rabbal ‘alamin” setelah selesai menyelesaikan novena tiga salam maria.

Mereka bilang kita mempermainkan tuhan,

ketika aku berdzikir doa bapa kami selepas salat magrib, dan kamu mengucapkan syahadat setelah kamu menyelesaikan sakramen ekaristimu.

Mereka bilang kita mempermainkan tuhan,

maka jilbabku boleh dijambak dan dilempar ke luar katedral sebelah masjid tempatmu terusir dari tausiyah romadhon tahun ini karena rosario di pergelangan tanganmu.

Mungkin manusia lebih perkasa ketimbang agama dalam menghakimi umatnya,

 

sementara kita hanya berusaha menyogok tuhan dengan doa agar diijinkan bersama.

Advertisements

Yang Bertumbuh

Cinta itu bisa tetap tumbuh karena adanya freedom, growth, dan contribution. Tanpa adanya tiga faktor ini, atau bahkan berkurang satu, ya perlahan cinta itu bisa meredup seiring berjalannya waktu.

Freedom, atau kebebasan, itu penting banget, kita harusnya bisa tetap menjadi diri kita sendiri setiap saat dan tidak terpaksa menjadi orang lain demi seseorang. Saya belajar banyak semenjak bertemu majikan saya, karena bisa menjadi diri sendiri, rasanya nggak frustrasi dengan perasaan membohongi diri sendiri gitu, dan menjadi diri sendiri itu beda dengan memaksakan orang menerima saya apa adanya. Majikan saya membuat saya merasa, ketika saya lebih jujur dengan diri saya sendiri, saya bisa lebih bertanggung jawab dengan apa yang saya lakukan, karena apa yang saya perbuat itu memang tentang saya dan pilihan saya. Bukan karena “demi kamu aku begini” dan biasanya bikin kita lebih mudah nyalahin orang lain kalau kita ditolak setelah berubah demi diaRasanya lebih mudah memaksa diri saya sendiri berubah untuk jadi lebih baik karena saya tidak merasa terpaksa menyenangkan orang lain itu.

Hal ini terkait dengan poin kedua, growth, atau berkembang. Ketika dalam sebuah hubungan kita (atau mungkin saya) sudah tidak punya keinginan untuk berkembang, untuk jadi lebih baik, kok rasanya saya jadi malas untuk melanjutkan mencintai oang itu. Saya pernah kehilangan keinginan berkembang dan menyadari saya melakukan hal-hal yang repetitif, sms yang gitu-gitu aja, pembicaraan yang gitu-gitu aja, dan hal-hal lain yang yaaaah…. gitu-gitu aja. Tidak ada semangat bahwa saya ingin menjadi lebih baik lagi demi dia, lalu ngerasa stuck dan akhirnya bosan.

Tapi ya, tidak berarti setelah punya kebebasan dan hasrat menjadi lebih baik, cinta itu lantas ga bisa meredup, contribution itu juga penting. Banyak yang mikir, “hah? kenapa? aku mau tetap mencintai kok butuh berkontribusi!” Hmm, mungkin ini efek saya yang terlalu naif, tapi buat saya ya, bisa merasa berguna, atau berkontribusi ke seseorang bisa memberikan kepuasan tersendiri dan membuat saya memancarkan energi positif luar biasa (tsaelah). Perasaan bahwa saya memberikan kontribusi positif kepada orang lain hanya dengan menjadi diri saya sendiri itu seperti kepuasan tersendiri, dan perasaan itu tidak tergantikan. Perasaan bahwa saya, hanya dengan menjadi diri saya sendiri, dan keinginan untuk berkembang menjadi lebih baik, mampu memberi efek positif pada orang yang saya cintai membuat saya ingin terus mencintai orang tersebut.

Eh itu kalo saya sih, kalo kamu, cintamu terus bertumbuh karena apa?

Yang Tersesat

Tenang tenang, ini bukanlah tulisan galau ala Butiran Debu yang lagi ngehits sekarang ini.

Ini tentang tersesat dalam hasrat. *ih waw! Berima!*

Pernah gak, merasa seperti anak kecil yang seneng buanget kalo liat sesuatu yang baru dan lalu merengek-rengek pengen punya sesuatu itu? Saya sering. Bahkan saya sering merasa jiwa saya cuma bocah dua tahun yang terjebak dan ga bisa bertumbuh dewasa. Karena saya literally terlalu mudah excited terhadap hal baru. Saya ingin belajar bahasa ini, bahasa itu, saya pengen menguasai skill anuh, saya pengen lanjut kuliah di jurusan yang onoh, tapi juga pengen jurusan yang entuh. Tapi semua seperti nafsu hasrat belaka. Karena emang ga segampang itu, kan, mencapainya. Apa iya saya cuma kedip kemudah langsung lancar bahasa asing?

Nah, sayangnya, progress belajar saya kalah cepat dengan menambahnya hasrat hasrat baru. Lalu seringkali, semua tampak berantakan dan lalu saya merasa seperti tersesat. Tersesat dalam hasrat saya sendiri. Dalam kepala saya sendiri. Apa yang mau saya capai duluan? Mana yang harusnya jadi prioritas? Semua tampak menggiurkan, tapi juga tampak begitu jauh. Dan kaki saya bingung mau mengejar yang mana duluan. Dan kesalahan terbesar saya, ketika saya bingung, saya lalu bengong dan menyusun ulang prioritas, yang sebenarnya gak perlu.

Majikan saya selalu bilang, saya gak pernah benar-benar tersesat, saya hanya lupa sedang mengejar apa. Jika saya berlari mengejar, saya harus mengejar satu per satu, bukan semua secara sekaligus. Karena sebenarnya semua yang saya kejar itu bisa dicapai kalo saya sendiri mau. Gitu kata majikan saya. Tapi hasrat saya begitu nakal, menggoda, mengacaukan fokus yang sedang saya coba pusatkan. Aneh banget yak. Lagi iseng belajar bahasa asing, kok tau tau pengen belajar bahasa pemograman, lha ya buyar tho ya. Lagi buka dasar bahasa pemograman, eh kepala lari-lari ngintipin sejarah. Gimana sih kamu, dasar kepala!

Majikan saya sih udah geleng-geleng dan tepok jidat, tapi yah begitulah, sangat mudah rasanya meloncat loncat ke sana kemari penuh semangat, sampe akhirnya saya lelah dan kemudian ketika duduk beristirahat, saya lupa sedang mengejar apa. Dan semua yang saya colak colek, jadi berantakan di belakang. Tidak tersusun. Tidak rapi. Tidak terstruktur. Tersesat.

Trus yang tersisa hanyalah perasaan galau, “saya sedang mengejar apa, sih?” Saya rasa semua orang sering mengalami ini. Dan entah kenapa, satu satunya obat penghilang galau karena tersesat ini adalah, “rumah”. Iyah, perasaan memiliki tempat pulang yang terus ngeyakinin bahwa kemana kaki kita melangkah itu gak salah. “Rumah” yang selalu mengingatkan apa sih tujuan kita ketika kaki kita melangkah keluar dan kejar-kejaran lagi sama si hasrat.

“Rumah” di sini kan ga mesti rumah beneran. Bagi saya, majikan saya seperti rumah saya. Ketika saya merasa nyasar, majikan saya nggak memberhentikan dan lalu menyuruh pulang. Tapi terus menerus mengingatkan, apa yang sedari awal saya inginkan, bukan pikiran nakal si hasrat yang baru nongol kemarin. Yang memaksa kaki saya balik ngejar lagi hal yang harus saya kejar duluan.

Kok kesannya manja ya, butuh orang lain gitu. Tapi, bukankah lebih menyenangkan ketika kamu sedang berjuang, ada “tempat pulang”? Dan membuat kamu bener-bener ngerasa sedang mengejar sesuatu untuk diri kamu sendiri, bukan sedang tersesat demi pembuktian yang kamu gatau mau kamu buktikan ke siapa. Karena kamu ga punya tempat.. “pulang”.

Yang Memaafkan

Kata orang, manusia biasa memaafkan tapi tak bisa melupakan.

Yang selalu saya pertanyakan, yang diingat itu sebatas kesalahannya atau rasa marahnya saat itu sih? Kalo rasa marahnya udah lupa, trus masih inget cuma “asal keinget” tapi biasa aja, apa sudah masuk kategori memaafkan?

Saya selalu ragu-ragu apakah saya pemaaf atau tidak, saya ingat siapa dan kenapa saya marah. Tapi sudah tidak bisa mengingat “bagaimana” parah saya marah atau sakit hati nya saya waktu itu.

Tapi yang menurut saya, ada istilah lain, yaitu “penerimaan”. Bukan cuma asal nrimo, kayak orang jawa lalu menjadi “ah luweh” (terserah deh) kepada orang itu. Misalnya, saya dulu pernah dibikin sakit hati sampe berada dalam fase denial dan self-loath selama beberapa tahun, karena satu orang. Saya lupa bagaimana sakit hatinya saya sampe saya bisa benci banget sama diri saya sendiri sebegitu parahnya, karena entah kenapa saya akhirnya bisa menerima, siapa dia saat itu, siapa saya saat itu dan kenapa dia dan saya bisa berakhir seperti itu. Saya juga sempat dalam fase memaafkan tapi tidak melupakan pada orang itu, “iya saya memaafkan dia, tapi…. “. Nah, “tapi” inilah yang rasanya membuat saya pengen banget ngehancurin orang itu, supaya dia bisa berada dalam keterpurukan yang sama seperti saya, living a shameful life. Tapi apakah seperti itu membuat saya jadi pemaaf? Kalo ada “tapi” dalam pernyataan memaafkan kita, apa sebenarnya itu benar benar memaafkan?

Butuh beberapa tahun bagi saya untuk akhirnya bisa berdiri sendiri dan tidak mempertanyakan -juga iri kepada- nasib orang itu. Dan ketika saya bertemu lagi dengan orang ini setelah, let’s say, 6-7 tahun dari kejadian itu, saya bener-bener ga ngerasain apa-apa. “Ih gue dulu kan sakit hati sama dia, ya, tapi kenapa yah?” 

Jadi kalo “memaafkan” dan “kata memaafkan” itu dua hal yang berbeda, bagaimana kita bisa menghargai makna memaafkan dong?

Yang Terlalu Banyak

Saya selalu merasa kekurangan sepatu, entah sepatu flat saya terlalu sedikit, high heels saya cuma satu, atau sandal jepit yang manis buat jalan-jalan juga kurang karena yang ada di rumah cuma sandal jepit jelek. Lalu ketika saya pulang dari pusat perbelanjaan menenteng sepatu atau sandal yang saya pikir kurang, saya jadi kaget ternyata ada lebih dari dua lusin pasang sepatu yang masih bagus di rak dan beberapa belas lagi yang memang agak kumal tapi masih layak pakai.

Pernah gak sih mengalami kayak gini?

Entah kenapa, kita akan selalu merasa kekurangan.Ya kurang sepatu, kurang baju, kurang waktu luang, sampe kurang kerjaan. Adaaaaaaa aja yang bakalan bikin kita pengen lagi, lagi, lagi dan lagi, padahal kita sebenernya udah kelebihan. Seorang teman beneran ngerasa kurang kerjaan, lalu ngambil proyek di sini dan di sana sampai akhirnya keteteran sendiri.

Mungkin gitu juga ketika kita merasa kurang dimengerti atau dicintai pasangan.

Mungkin kita butuh untuk mundur sejenak, berhenti, dan melihat, apakah perasaan kurang ini bener-bener karena kita kekurangan, atau hanya nafsu keserakahan kita semata untuk ingin dimengerti dan dicintai. Berhenti sejenak itu tidak menakutkan, kok. Mendengarkan suara hati kita sendiri dan merasakan apa yang sebenernya kita rasakan itu nggak akan membuat dunia kayang atau kebalik begitu saja dan kita jadi ketinggalan macem-macem.

Yang Panti Asuhan

Saya selalu memuji orang yang memilih untuk mengaborsi anak yang tidak pernah dia inginkan. Serius. Skip that morality thing-y. Apa bedanya mereka yang memilih melahirkan anaknya tapi nggak merawat dengan yang mengaborsinya?

Saya ga pernah pengen punya anak, bukan karena ga suka anak kecil, tapi karena saya merasa saya masih egois dan tidak ingin membagi waktu saya untuk seorang anak yang apalagi tiap tindak tanduknya jadi batas penilaian orang lain buat saya. Emoh. Nyusahin. Saya malah heran sama mereka yang pengen punya anak hanya karena itu target hidup mereka, bukan karena ingin atau malah bukan karena mereka mampu jadi orang tua.

Setiap dari kita pada saat kecil sering kan merasa minder, feeling like shit and better to die rather than staying alive. Saya selalu takut kalo saya jadi orang tua, saya malah bikin anak saya berpikir seperti itu pada dirinya sendiri. Serius, dibenci diri sendiri itu ga enak, pake banget. Apalagi kalo dibencinya karena nggak mampu memenuhi ekspektasi orang lain. Udah menyedihkan, menyakitkan pula. Udah gitu, capek pula kalo ngejar ngejar kepuasan dari orang lain. Sementara orang tuanya sendiri melahirkan anak juga cuma buat muasin ekspektasi orang lain biar ga dicap mandul atau yang lainnya.

Tapi saya selalu pengen punya panti asuhan. Saya pengen mungut, adopsi, merawat anak-anak yang dilahirkan sama mereka yang lebih malu dicap sebagai pembunuh tapi tetap nggak mau bertanggung jawab sama kenikmatan bikin nya itu. Saya pengen membesarkan mereka supaya mereka bisa jadi bangga sama diri mereka sendiri walau mereka nggak punya orang tua. Saya pengeeeeeeeeeeeeen banget bikin mereka berterimakasih sama orang tua yang membuang mereka. Iya, berterimakasih. Dengan kepala tegak dan senyum sumringah mereka bisa dengan mantap bilang “Thank you mom, dad, for leaving me. I might never be this awesome if you take and raise me. Seriously. Thank you for never made me had a chance to feel like shit.”

Yang Dimengerti

Ketika semua orang bertanya, apa yang membuat saya begitu setia dengan majikan saya sekarang, saya hanya bisa menjawab, “karena dia mengerti.”

Saya selalu membawa ratusan juta energi positif yang saya kumpulkan dan ingin saya bagi dengan orang lain agar, setidaknya, mereka bertambah bahagia. Majikan saya lalu menghentikan tangan saya dan berkata, “orang yang paling ingin membahagiakan semua orang itu orang yang paling kesepian di dunia ini, chor.” Sambil menatap lembut, bukan kasihan, bukan marah, bukan juga memaksa. Mungkin hati kecil saya yang paling melonjak bahagia karena, suara pikiran buruk saya yang sebenarnya muncul keluar. Walau tak pernah sekalipun saya meminta pamrih, pasti ada sedikit, setidaknya, perasaan bahwa, saya pun ingin orang lain memberikan energi positif mereka kepada saya. Namun, pertanyaan yang selalu muncul ketika keinginan egois itu muncul, “apakah saya kurang bahagia?” dan selalu menahan semuanya.

Majikan saya tidak pernah hanya mendengarkan segala keluh kesah saya, dia mengerti betapa otak saya kelaparan akan rasionalitas walau sering ditutupi oleh yang namanya emosi sesaat. Semua hal yang saya ceritakan secara emosional selalu mendapatkan makanan rasionalitas yang tercukupi, dan membuat saya belajar bagaimana caranya memahami apa yang saya butuhkan. “Semua yang menurut kamu mengganggu dari orang lain itu menunjukkan jalan untuk memahami dirimusendiri, chor. Dan bagaimana menghandle reaksi dan interaksi pada kemudiannya.”

Majikan saya pula lah yang mengajari bahwa selalu ada penjelasan dalam semua hal, termasuk hal-hal yang tidak bisa saya mengerti. Dan mengajari saya menghadapi ke-takmampu-an tanpa berusaha mengobati ataupun memberikan saran, bahkan tanpa bertanya alasan ke-takmampu-an saya itu. Juga majikan saya lah yang mengajari bahwa keistimewaaan hidup adalah, menjadi diri saya sendiri, karena manusia akan melakukan hal-hal, tak peduli seabsurd apapun, untuk menutup telinganya dari apa yang nurani mereka inginkan.

Maka ya, saya memilih setia pada majikan saya, karena majikan saya yang mampu mengubah hidup saya hanya dengan kemampuannya mendengarkan, tersenyum, pujiannya yang jujur dan juga tindakan kecilnya, yang memang benar-benar dilakukan karena dia peduli, dengan tulus. Karena majikan saya mampu mengerti saya, sesederhana itu, tanpa harus menunjukkan bahwa dia selalu ada untuk saya dan akan menyetujui ataupun mendukung semua yang saya lakukan.

Karena memang, mengerti orang lain tidak sama dengan selalu ada untuk dia, selalu mendengarkan dia, selalu berkata manis untuk dia, selalu menunjukkan atau memberikan yang terbaik untuk dia, atau pun selalu berusaha memperbaiki dia.