Yang Bersyukur

Saya selalu punya kebiasaan jelek, ketika pada saat ada dalam reuni saya akan refleks membicarakan masa lalu, dan membandingkan masa kini saya pada orang lain. Hanya untuk merasa lebih baik dan sedikit lebih bahagia.

Tentu ini bukan hal yang baik, saya tahu itu. Membandingkan diri dengan orang lain hanya untuk bersyukur tanpa melihat apa yang selama ini sudah saya capai atau dapatkan. Saya tahu, apa yang saya jalani saat ini bukanlah hal ideal yang saya inginkan lima, atau sepuluh tahun lalu. Masa kini saya mungkin bukan masa depan yang dulu saya angankan. Tetapi mungkin saya adalah satu dari sebagian yang akhirnya mampu, menginginkan apa yang sudah saya punya. Mencintai apa yang saya kerjakan, bukan sekedar mengerjakan apa yang saya cintai.

Saya bersyukur karena itu. Dan saya masih harus banyak belajar untuk bersyukur tanpa harus membandingkan diri saya dengan orang lain.

 

Yang Tempat Nongkrong di Jogja

Sebetulnya bahasan ini tanpa sengaja ter-kultwit-kan jam 2 tadi pagi. Iseng aja mungkin nulis ulang di blog biar lebih rapih.

Jadi, awalnya bahasan beginian muncul gara-gara nonton Dharma for Music di Skybar Lounge di All Seasons Hotel. Dharma sendiri adalah band indie yang lagi ngehits – ngehitsna di teman – teman online jogja dan punya regular show di Skybar Lounge. (Sila cek soundcloud mereka, blog, ataupun akun twitternya)

Karena regular, otomatis saya dan teman-teman jadi sering menyambangi Skybar Lounge. Skybar Lounge sendiri belum lama hadir di Jogja, mungkin sekitar kuartal akhir 2011 kemarin lah. Masalahnya, semakin lama, harga minuman di sana melambung terlalu pesat. Jadi, dalam jangka waktu kurang dari 6 bulan, harga punch drink yang awalnya hanya 11 ribu rupiah saja, sekarang menjadi 18 ribu rupiah, belum termasuk pajak. Pajaknya sendiri 10% + 10%, jadinya 21%. Untuk konsumen langganan tentu saja jadi mengejutkan, karena kenaikan harganya beneran njemplang sejak “perkenalan”. Kesannya kita dikenalkan dengan wajah ramah, e ternyata penguras dompet juga.

Nah, berbekal dengan pengalaman saya sebagai anak gaul jogja keren banget dan sangat eksis fakir wi-fi, saya jadi menyimpulkan hal-hal apa saja yang bisa bikin sebuah tempat nongkrong itu rame banget di jogja. Memang secara keseluruhan, tipe penongkrong di jogja itu bermacam-macam, (mungkin postingan lama teman saya Ivan bisa membantu) tapi ada beberapa karakteristik besar yang bisa membantu tempat nogkrong di jogja menjadi populer.

1. Murah! MURAH! MURRAAAHHHH!!!

Satu karakter anak nongkrong jogja yang harus dipahami oleh manajemen adalah, KAMI INI MAHASISWA. Dan sialnya, kebanyakan pelanggan jogja lebih betah berlama-lama di tempat yang kurang nyaman sambil nyeruput teh poci sembilan ribu yang bisa buat ber tiga, ketimbang nongkrong di tempat yang harga minumannya 30ribu tapi nyaman. Satu tempat yang sukses dengan konsep murah ini adalah Semesta Kafe. Kalo saya sih, kurang suka dengan pelayanannya dan tempatnya yang ‘agak jorok’, tapi memang masalah harga sangat ramah pada dompet.

Atau Raminten, dengan konsep restoran (bukan kafe) dengan lokasi yang luas, range harga murah dan pilihan makanan beragam bikin Raminten ini sampai punya ‘waiting list’ setiap harinya. Alias ngantri untuk bisa makan di sana.

Tapi, banyak juga yang memilih tempat yang lebih mendingan dan harga diatas situ, namun masih juga tetap murah. Misalnya Rumah Cokelat. Rumah Cokelat itu punya range harga dari di bawah sepuluh ribu, sampai dua puluh ribu saja, namun bersih dan nyaman. Gak heran Rumah Cokelat ini sering penuh dan bagi yang ingin mampir jadi kehilangan tempat.

Selain Rumah Cokelat, ada juga Kedai Kopi, kafe yang punya tiga cabang di jogja ini juga terkenal. Punya range harga yang juga tidak kejam dengan kantong, tempat nyaman dan agak besar. Walau dua lantai juga masih suka penuh.

Nah, tempat seperti semesta, raminten, cokelat, dan kedai kopi ini punya satu kesamaan. Murah. Jadi walau nongkrong bisa lebih dari tiga jam, untuk pesan lagi itu gak ragu.

2. Kualitas Pelayanan

Tahukah, bahwa ada satu tempat di jogja yang interiornya asik banget, harga masih masuk akal, tapi pelayanannya super bego? Namanya, Discovery Cafe, entah kenapa setiap pesan makanan itu bisa datang beberapa jam kemudian dan tidak dalam keadaan hangat lagi. Pelayanan jelas salah satu bagian yang penting dalam membuat pelanggan betah berlama-lama di satu tempat.

Nah, itulah salah satu alasan kenapa saya bisa betah di Peacock Coffee, baristanya ramah dan ga rese. Sehingga saya merasa berada di rumah kedua. Ada banyak kafe yang pelayanannya kacrut banget, beberapa diantaranya barisan kafe di daerah Nologaten (yang saya ga ingat namanya karena emang ga spesial). Namun biasanya, kekurangan kualitas pelayanan begini mampu ditutupi dengan harga murah (yang makanya saya pasang di nomer satu, alasan kenapa tempat nongkrong bisa ramai).

3. Wi Fi dan Colokan

Dua hal ini opsional tapi memang diusahakan kalau bisa ada. Biasanya membantu banget buat yang nongkrong sendirian dan berakhir membuka pekerjaan di kafe sambil menyesap espresso. Untuk yang nongkrong beramai-ramai, kekurangan wi fi dan colokan ini ga jadi masalah. Toh nyolok ga nyolok asal ngumpul, kok.

4. Komunitas

Kalau memang tidak mampu memasang harga yang murah sekali (karena beban biaya perawatan dan pelayanan misalnya), maka gandenglah komunitas, supaya mau berpromosi gratis. Word of mouth di jogja ini pengaruhnya cukup besar. Ambil contoh Geronimo Cafe yang mau menggandeng komunitas Stand Up Jogjakarta, sehingga setidaknya ketika anak stand up mau ngumpul, geronimo menjadi opsi yang cukup besar untuk dipilih. Geronimo Cafe sendiri punya range harga lima belas ribuan sampai tigapuluh ribu, jadi tidak terlalu murah, namun masih masuk akal.

Dixie juga bisa jadi contoh tempat yang mau pedekate pada komunitas, sehingga banyak komunitas merujuk Dixie sebagai tempat yang bisa dipakai untuk membuat event kumpul-kumpul. Saya sendiri jika ditanya sebaiknya kalau mau bikin event di mana, biasanya akan merujuk ke Dixie. Karena selain mampu menyediakan tempat dan makanan, mengurusnya tidak terlalu rumit.

Nah, kembali ke Skybar Lounge tadi. Skybar Lounge punya banyak kekurangan yang seharusnya diperbaiki sebelum mereka mau menaikkan harga (lagi). Masalahnya, Skybar Lounge punya konsep yang muda dan dinamis yang lebih cocok menembakkan pasarnya ke mahasiswa. Sayang, konsep ini tidak dibarengi dengan isi dapur yang mumpuni. Pilihan menu Skybar Lounge tidak memberi banyak pilihan, kualitas rasa dengan harga yang ditawarkan tidak berbanding lurus, malah cenderung mengecewakan.

Kalau alasannya adalah karena ini di Hotel, maka Jogja punya Quality hotel yang punya dimsum corner dengan selalu diskon 50% (+10% kalau bisa menunjukkan KTM), dan tax nya hanya sekitar 15%. Selain itu, walau harga makanannya cukup mahal, namun kualitas makanannya bisa diacungi jempol. Mereka punya menu nasi goreng kare yang harganya 50ribu tapi lumayan menggoyang lidah, atau fettuccine cream yang harganya 72ribu namun porsinya bisa untuk bertiga dan rasanya enak. Sehingga, jika memang Skybar mau menargetkan pasar pada mereka yang lebih dewasa, setidaknya buat kualitas makanan dan minuman yang juga ‘dewasa’. Serius, siapa yang mau membayar es susu coklat encer dengan harga dua puluh dua ribu? Kami mahasiswa mungkin ga masalah minum es susu coklat encer dengan harga tujuh ribu, sih. Jika Skybar masih ingin berkonsep gaul dan mahal, gandenglah komunitas DAN supportlah mereka supaya mereka menjadi betah dan loyal di sana.

Jangan seperti Myoozik atau Own Cafe yang sebetulnya punya harga diatas rata rata (di mana sekali nongkrong mungkin bisa habis empat sampai lima puluh ribu seorang), namun tidak juga menggandeng komunitas. Sebetulnya dulu Myoozik sempat mengadakan event reguler dan pedekate dengan banyak komunitas, sayang, entah kenapa, hubungan ini dilepas dan sekarang mereka menjadi sepi.

Bisnis tempat nongkrong di Jogja ini menjamur, jadi tingkat persaingan di sini tinggi. Namun, Jogja bukanlah Jakarta, konsep mahal, enak, fancy dan memuaskan bisa saja dipakai di jogja, tapi bukan sebagai tempat nongkrong harian anak mudanya. Ada beberapa orang yang merindukan bisa menikmati tempat yang nyaman, enak, menyenangkan dan mereka rela membayar lebih untuk itu. Tapi, tidak untuk setiap hari.

Nah, begitu sih kurang lebihnya isi kultwit tadi pagi. Saya sendiri masih bertahan main ke Skybar Lounge selama ada Dharma for Music di sana. Karena saya di sana menikmati suara dan pemandangan sih, tidak menikmati makanan atau minuman di sana. πŸ™‚

Yang Keberadaan Orang Gila

Siang itu, ketika menyelinap diam diam dari kelas yang membosankan, saya tak sengaja membaca berita ini.

β€œWe have 9,000 community health centers throughout the country, but only 70 establishments provide services for patients with mental problems,” she said during the commemoration of World Mental Health Day in Bogor, West Java.

There are only two mental hospitals in Jakarta β€” Duren Sawit Hospital and Soeharto Heerdjan Hospital β€” along with four mental health institutions and 44 community health centers that can handle patients with mental problems.Β 

Indonesia has one of the lowest psychiatrist-population ratios in the world. Currently, there are only 600 psychiatrists nationwide β€” approximately one psychiatrist for every 400,000 to 500,000 people.

The ideal ratio is one for every 30,000 people, which means Indonesia would need about another 8,000 psychiatrists.

Saya, entah kenapa, kesal membaca berita ini. Saya paham, naif jika tetiba saya berharap pemerintah atau masyarakat melirik masalah ini. Mungkin kita lebih khawatir populasi orang utan punah ketimbang bertambahnya orang orang gila. Kenapa tidak sekalian pemerintah membantai saja? Toh, tak ada yang mau mengurus dan merawat mereka.

Yang Sendiri

Sekitaran 7 tahun lalu, saat saya masih kinyis kinyisnya (dan tetep kinyis sampe sekarang), saya sering sekali jalan jalan sendirian. Entah ngemall, nonton, belanja, lihat lihat buku (numpang baca gratisan), ataupun makan. Saat itu saya masih berada di sekolah menengah pertama.

Teman saya banyak sekali yang meledek, “kok mau maunya sih jalan sendiri“. Saya sih cuma bisa mesem, entah kenapa, sedari dulu, jalan sendiri itu nikmat, ga mesti diriwilin temen jalan. Apalagi saya paling lama itu window shopping di toko buku, bukan di toko baju. Dan kalau untuk menonton bioskop, saya lebih suka pemutaran siang menjelang sore ketimbang malam. Maklum, waktu itu punya jam malam jam enam sore. Eh, itu sih jam sore ya? Kalau makan, entah kenapa, saya kalo laper suka males nunggu nungguan, dan biasanya saya makan sambil baca komik, seolah tertutup dari dunia luar. Saya akui sih, saya kelihatan aneh saat itu.

Seorang teman malah berkata ekstrem, “lebih baik mati kelaperan deh daripada makan sendirian di luar.” Dan kalau saya makan sendirian dulu, sering banget digodain dengan kata, “kok sendirian aja mbak, temennya mana.. saya temenin ya?” Kebiasaan ini masih berjalan sampai sekarang, walaupun saya masih menikmati jalan sendirian, saya juga menikmati jalan bareng temen temen. Mungkin karena semakin berkembangnya interaksi sosial saya, saya lebih banyak menemukan orang orang dengan hobi atau selera makan yang sama.

Dan semakin berkembangnya jaman, sepertinya jalan sendirian ini pun tidak lagi dianggap keanehan. Makin banyak orang tidak lagi merasa malu berjalan (terutama makan) sendirian. Suatu siang saya pernah menjambangi foodcourt sebuah mall. Banyak sekali meja meja yang dihuni satu orang, mereka biasa saja menikmati pesanan mereka. Dari mbak mas kantoran, sampai pelajar sekolahan.

Perkembangan jaman, membantu sekali manusia untuk mengurangi cara interaksi langsung dengan manusia lainnya. Saya tidak tahu, apakah ini hal positif atau bukan. Ada banyak orang yang menikmati ditemani buku, laptop atau smartphonenya ketika makan siang. Selain lebih konsentrasi, mereka menemukan waktu untuk lebih menenangkan diri diantara kesibukan rutinitas mereka. Belanja sendirian pun rasanya jadi lebih fokus dan memuaskan. Menonton sendirian pun sepertinya jadi tidak terganggu dengan (kadang) teman yang riwil di sepanjang film. Bahkan, image orang yang jalan jalan sendirian sekarang bergeser menjadi orang yang sibuk dan tak punya waktu senang senang daripada orang kesepian. Jadi, masih ada diantara kalian yang masih anti jalan jalan sendirian?

 

 

 

 

Yang Berbuat Baik

Ada satu hal yang harus saya akui, saya punya self-esteem yang luar biasa rendah. Entah kenapa.

Saya selalu merasa tertinggal di belakang, tidak dicintai, dilupakan, insecure. Dan iya saya ini orangnya gak mau kalah dan maunya dikenal. Maka saya selalu berbuat baik. Untuk membuat diri saya sendiri nyaman.Untuk mendapat rasa dicintai, untuk… memperbaiki self-esteem saya.

Iya lho, egois ya? Teman saya soalnya pernah bertanya, kenapa saya segitu baiknya sama beberapa orang, dan saya ngga tau kenapa. Saya bukan orang yang berbakat untuk manfaatin orang lain, karena saya malah jadi berlomba untuk jadi lebih hebat dari orang lain, tidak menerima bantuan orang lain, malah sok sokan mau ngayomin orang lain.

Saya akui itu sifat jelek, dan saya ngga tau kenapa. Saya rasa, mungkin saya hanya ingin merasa nyaman dengan diri saya sendiri. Dengan menjadi orang baik. Walaupun saya tahu, menjadi baik saja tidak cukup, dan tidak akan pernah cukup.

Yang Bola Ditukar Putri Yang Liar

Ouch baiklah, saya jayus sekali dengan judul diatas. Anyway, sudah kurang lebih seminggu sejak saya menuliskan tentang Putri Yang Ditukar. Ya, dan bola asumsi semakin liar berputar di ranah media, terutama blogger. Fenomena blogger rentaβ„’ mendadak hidup lagi dan menuliskan opini mereka tentang sinetron ini.

Sila buka :

  1. Absurditas di Putri yang Ditukar – Nonadita
  2. Antara Mamah, Diriku dan Putri yang Ditukar – Umenumen
  3. Itikkecil dan Sinetron – Itikkecil
  4. Barang Yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Dapat Ditukarkan – Joesatch
  5. Masygul – Aris
  6. Masih Mau Nonton Sinetron? – Leksa
  7. Belajar dari Nodame – Suprie
  8. Kualitas Buruk yang Terus Dipertahankan – Aankun
  9. Homo Sinetronosus – Pak Guru
  10. #41: Sinetron – Masova
  11. Ikutan Membahas Sinetron – Adhi Pras
  12. Sinetron Indonesia Miskin Cerita – Fudu
  13. Menalar (Polemik) Sinetron – Gentole
  14. Balada Argumentasi Sinetron yang Tertukar-tukar – Amed
  15. Putri yang Ditukar – Mamski
  16. Pilih Sinetron atau si Bolang? – Memethmeong
  17. Jangan Tukar Isu Putri Yang Ditukar – Nonadita
  18. Sinetron Harus Mendidik – Mimit
  19. Gerakan Koin untuk Sinetron Putri Yang DItukar – Momon

Saya menghela nafas berat, tak tahu harus ikut senang karena blog blog yang tadinya sekarat kembali bernafas, atau jadi ikut bosan karena mendadak ranah komentar menjadi ramai dengan debat yang, maaf, buat saya kurang penting.

Tapi, saya teringat dengan kata leksa :

Guna berdebat emang karena mencari solusi perbedaan kan?

Kalo beropini sama tapi berdebat, itu baru useless

Banyak orang berkata, kalau memang muak, kenapa nggak ganti channel saja. Toh remote ada ditanganmu. Lha, bukannya sama aja saya bilang “kalo lu gak suka postingan gue, gak usah komen sekalian. Kalo elu gak suka fanpage Koin Yang Ditukar, gak usah like dan komen disana.” Tapi setiap orang bebas berkomentar toh. Justru di sini kan, asyiknya berdiskusi. Bukan dengan kembali pada pribadi masing masing atau menutup mata tak peduli dengan fenomena apapun itu.

Bola asumsi liar pertama yang terlempar ke ranah publik adalah, kami (iya kami, para pendukung berhentinya Putri Yang Ditukar) dianggap pecinta sinetron Cinta Fitri. Walaupun tidak sekalimat pun kami bilang Cinta Fitri itu bagus. Oh please, Cinta Fitri sudah tujuh musim, aneh kalo mau dihina sekarang, Cinta Fitri itu so laaaaaassstttt decade deh. Saya sih ngakak abis abisan ketika pertama kali dituduh fansnya Cinta Fitri.

Lalu asumsi berubah, kami (iya lagi lagi kami, yang livetweet tentang sinetron ini) dituduh dibayar PH yang bersangkutan untuk menaikkan rating sinetron tersebut. Err.. Reaksi pertama saya speechless, dan ngangguk ngangguk mbok iya ya, seharusnya kita dibayar, hahaha!

Awalnya sih, saya bisa ngakak dan geleng geleng, sampai tiba tiba, diskusi berubah jadi lebih “berat”. Lalu dituntutlah perubahan, bahwa sebaiknya kami yang cuma bisa protes ini membuat PH baru, membuat sinetron baru, gak cuma nulis, gak cuma bacot. Begitu katanya.

Saya tak setuju. Saya tidak menginginkan sinetron berhenti, toh saya tak pernah menonton sinetron. Serius, saya jarang menyetel televisi. Lebih baik berkutat dengan DVD atau download serial serial luar. Masalahnya, Sinetron memang menjual mimpi, sejak lama sekali jarang banget ada sinetron berbobot yang tahan lama di televisi. Dan penikmatnya pun banyak, baik dari kalangan berpendidikan ataupun kalangan… asisten rumah tangga. Buat saya ini masalah selera, tak akan saya protes. Dan saya tidak peduli juga toh.

Lalu kenapa saya tetap menulis ini? Kenapa harus Putri Yang Ditukar? Kenapa saya mendukung Putri Yang Ditukar dihentikan?

Karena durasi.

Serius.

Dulu, sinetron hanya tayang seminggu sekali. Lalu bertambah menjadi senin sampai jumat. Lalu bertambah jadi setiap hari. Lalu sekarang, tiga jam sehari setiap hari? Sudah gila apa?

Menurut saya, adalah wajar ketika kita sudah menemui titik jenuh. Lalu juga menurut saya, wajar ketika beberapa orang meminta tayangan seperti ini dihentikan. Apalagi jika ada penonton setia yang “dipaksa” membuang waktu tiga jam di depan televisi. Tidak mungkin tidak ada yang keteteran. Bullshit kalo kita minta kesadaran diri sendiri untuk mengembalikan pada pribadi masing masing dan menahan diri untuk tidak menonton ini. Harus ada awareness yang disebarkan bahwa menonton Putri Yang Ditukar hanyalah membuang waktu.

Dan disinilah gerakan blogger menulis saya anggap penting. Menyebarkan untuk anti sinetron berwaktu tidak masuk akal, menurunkan rating lalu berhenti. Dan kita semua bahagia. Hore! Seharusnya, orang orang lebih kritis ketika gerakan semacam ini muncul. Kenapa setelah ratusan episode baru Putri Yang Ditukar ini diprotes? Kenapa tidak sejak awal. Berarti, bukan sinetronnya yang bermasalah toh? Buat saya, durasinya yang ga masuk akal dan ga punya perasaan ini yang memang harus dihapuskan.

Seharusnya bola bola asumsi di luar sana dikendalikan. Fokus harusnya kembali pada tujuan kenapa Putri Yang Ditukar harus dihentikan. Ya, buat saya sinetron memang pembodohan, tapi saya pun tak kan bilang semua yang anti sinetron adalah orang orang pintar. Ataupun mereka yang nyinyir sambil livetweet Putri Yang Ditukar adalah orang orang yang tidak punya kehidupan selain sirik. (oh, please) Debat panas yang tak berguna pasti akan melebar menuju topik yang semakin melenceng dari awal gerakan ini ada. Dan seharusnya para blogger tidak terpancing untuk meributkan tetek bengek seperti ini.

Yang Putri Yang Ditukar

Ranah media sedang heboh dengan datangnya sinetron yang cukup fenomenal, Putri Yang Ditukar. Bukan, bukan fenomenal karena cerita ataupun aktingnya yang bagus. Tapi fenomenal karena durasinya yang tidak punya perasaan. Bayangkan, dalam datu waktu, mereka merally tiga episode sekaligus dengan durasi tiga jam. Sejak setengah delapan hingga setengah sebelas malam.

Saya sendiri memang penggemar serial TV, tapi bukan serial TV Indonesia. Jadi saya kurang tahu bagaimana persaingan sinetron di Indonesia. Menurut saya sinetron di Indonesia tidak ada yang menarik, tidak mendidik dan membosankan. Saya pernah sekali, membuang waktu menonton Putri Yang Ditukar. Sungguh, benar benar tiga jam yang sia sia. Akting mereka jelek, ceritanya tidak masuk akal, tidak ada intinya dan membosankan.

Seseorang lalu membuat sebuah fanpage di jejaring sosial facebook : “Gerakan Koin untuk Artis Putri yang Ditukar” Tujuannya? Ya jelas sarkasme. Saya rasa semua orang cukup pintar untuk sadar bahwa ada banyak orang yang jelas muak dengan sinetron di Indonesia. Tapi saya salah, saya bahkan tidak tahu apa yang ada dipikiran penulis kolom kapanlagi ketika menurunkan berita ini, itu dan anu.

Lalu bergulirlah bola asumsi itu, seseorang dengan embel embel “berasal dari sumber yang terpercaya” menuduh pembuat fanpage ini sebagai orang dari pihak Production House sebelah yang berusaha menurunkan rating Putri Yang Ditukar. Oh please, mungkin orang orang yang tahu dan kenal si pembuat fanpage sepertinya bisa ngakak jumpalitan di depan layar. Tidak hanya asumsi, mendadak comment box kapanlagi serta dindin fanpage tersebut berubah menjadi ajang caci maki dan pembelaan yang fanatik atas masing masin sinetron.

Lalu, ketika membela sinetron sudah sama mengerikannya dengan membela agama, mau jadi apa negara kita? Bukankah seharusnya masih banyak hal lain yang lebih penting untuk diributkan dengan kritis? Mungkin saya terdengar sok bijak, tapi jika hal sepele seperti ini saja mampu menyulut emosi sebagian orang, mengapa kita masih bertanya tanya kenapa masyarakat Indonesia cukup bodoh untuk diprovokasi? Tak heran kan, jika akan banyak sekali kekerasan terjadi karena mudahnya emosi tersulut dengan hal hal tidak penting.