Yang Panti Asuhan

Saya selalu memuji orang yang memilih untuk mengaborsi anak yang tidak pernah dia inginkan. Serius. Skip that morality thing-y. Apa bedanya mereka yang memilih melahirkan anaknya tapi nggak merawat dengan yang mengaborsinya?

Saya ga pernah pengen punya anak, bukan karena ga suka anak kecil, tapi karena saya merasa saya masih egois dan tidak ingin membagi waktu saya untuk seorang anak yang apalagi tiap tindak tanduknya jadi batas penilaian orang lain buat saya. Emoh. Nyusahin. Saya malah heran sama mereka yang pengen punya anak hanya karena itu target hidup mereka, bukan karena ingin atau malah bukan karena mereka mampu jadi orang tua.

Setiap dari kita pada saat kecil sering kan merasa minder, feeling like shit and better to die rather than staying alive. Saya selalu takut kalo saya jadi orang tua, saya malah bikin anak saya berpikir seperti itu pada dirinya sendiri. Serius, dibenci diri sendiri itu ga enak, pake banget. Apalagi kalo dibencinya karena nggak mampu memenuhi ekspektasi orang lain. Udah menyedihkan, menyakitkan pula. Udah gitu, capek pula kalo ngejar ngejar kepuasan dari orang lain. Sementara orang tuanya sendiri melahirkan anak juga cuma buat muasin ekspektasi orang lain biar ga dicap mandul atau yang lainnya.

Tapi saya selalu pengen punya panti asuhan. Saya pengen mungut, adopsi, merawat anak-anak yang dilahirkan sama mereka yang lebih malu dicap sebagai pembunuh tapi tetap nggak mau bertanggung jawab sama kenikmatan bikin nya itu. Saya pengen membesarkan mereka supaya mereka bisa jadi bangga sama diri mereka sendiri walau mereka nggak punya orang tua. Saya pengeeeeeeeeeeeeen banget bikin mereka berterimakasih sama orang tua yang membuang mereka. Iya, berterimakasih. Dengan kepala tegak dan senyum sumringah mereka bisa dengan mantap bilang “Thank you mom, dad, for leaving me. I might never be this awesome if you take and raise me. Seriously. Thank you for never made me had a chance to feel like shit.”

Yang Dimengerti

Ketika semua orang bertanya, apa yang membuat saya begitu setia dengan majikan saya sekarang, saya hanya bisa menjawab, “karena dia mengerti.”

Saya selalu membawa ratusan juta energi positif yang saya kumpulkan dan ingin saya bagi dengan orang lain agar, setidaknya, mereka bertambah bahagia. Majikan saya lalu menghentikan tangan saya dan berkata, “orang yang paling ingin membahagiakan semua orang itu orang yang paling kesepian di dunia ini, chor.” Sambil menatap lembut, bukan kasihan, bukan marah, bukan juga memaksa. Mungkin hati kecil saya yang paling melonjak bahagia karena, suara pikiran buruk saya yang sebenarnya muncul keluar. Walau tak pernah sekalipun saya meminta pamrih, pasti ada sedikit, setidaknya, perasaan bahwa, saya pun ingin orang lain memberikan energi positif mereka kepada saya. Namun, pertanyaan yang selalu muncul ketika keinginan egois itu muncul, “apakah saya kurang bahagia?” dan selalu menahan semuanya.

Majikan saya tidak pernah hanya mendengarkan segala keluh kesah saya, dia mengerti betapa otak saya kelaparan akan rasionalitas walau sering ditutupi oleh yang namanya emosi sesaat. Semua hal yang saya ceritakan secara emosional selalu mendapatkan makanan rasionalitas yang tercukupi, dan membuat saya belajar bagaimana caranya memahami apa yang saya butuhkan. “Semua yang menurut kamu mengganggu dari orang lain itu menunjukkan jalan untuk memahami dirimusendiri, chor. Dan bagaimana menghandle reaksi dan interaksi pada kemudiannya.”

Majikan saya pula lah yang mengajari bahwa selalu ada penjelasan dalam semua hal, termasuk hal-hal yang tidak bisa saya mengerti. Dan mengajari saya menghadapi ke-takmampu-an tanpa berusaha mengobati ataupun memberikan saran, bahkan tanpa bertanya alasan ke-takmampu-an saya itu. Juga majikan saya lah yang mengajari bahwa keistimewaaan hidup adalah, menjadi diri saya sendiri, karena manusia akan melakukan hal-hal, tak peduli seabsurd apapun, untuk menutup telinganya dari apa yang nurani mereka inginkan.

Maka ya, saya memilih setia pada majikan saya, karena majikan saya yang mampu mengubah hidup saya hanya dengan kemampuannya mendengarkan, tersenyum, pujiannya yang jujur dan juga tindakan kecilnya, yang memang benar-benar dilakukan karena dia peduli, dengan tulus. Karena majikan saya mampu mengerti saya, sesederhana itu, tanpa harus menunjukkan bahwa dia selalu ada untuk saya dan akan menyetujui ataupun mendukung semua yang saya lakukan.

Karena memang, mengerti orang lain tidak sama dengan selalu ada untuk dia, selalu mendengarkan dia, selalu berkata manis untuk dia, selalu menunjukkan atau memberikan yang terbaik untuk dia, atau pun selalu berusaha memperbaiki dia.

Yang Bersyukur

Saya selalu punya kebiasaan jelek, ketika pada saat ada dalam reuni saya akan refleks membicarakan masa lalu, dan membandingkan masa kini saya pada orang lain. Hanya untuk merasa lebih baik dan sedikit lebih bahagia.

Tentu ini bukan hal yang baik, saya tahu itu. Membandingkan diri dengan orang lain hanya untuk bersyukur tanpa melihat apa yang selama ini sudah saya capai atau dapatkan. Saya tahu, apa yang saya jalani saat ini bukanlah hal ideal yang saya inginkan lima, atau sepuluh tahun lalu. Masa kini saya mungkin bukan masa depan yang dulu saya angankan. Tetapi mungkin saya adalah satu dari sebagian yang akhirnya mampu, menginginkan apa yang sudah saya punya. Mencintai apa yang saya kerjakan, bukan sekedar mengerjakan apa yang saya cintai.

Saya bersyukur karena itu. Dan saya masih harus banyak belajar untuk bersyukur tanpa harus membandingkan diri saya dengan orang lain.

 

Yang Tempat Nongkrong di Jogja

Sebetulnya bahasan ini tanpa sengaja ter-kultwit-kan jam 2 tadi pagi. Iseng aja mungkin nulis ulang di blog biar lebih rapih.

Jadi, awalnya bahasan beginian muncul gara-gara nonton Dharma for Music di Skybar Lounge di All Seasons Hotel. Dharma sendiri adalah band indie yang lagi ngehits – ngehitsna di teman – teman online jogja dan punya regular show di Skybar Lounge. (Sila cek soundcloud mereka, blog, ataupun akun twitternya)

Karena regular, otomatis saya dan teman-teman jadi sering menyambangi Skybar Lounge. Skybar Lounge sendiri belum lama hadir di Jogja, mungkin sekitar kuartal akhir 2011 kemarin lah. Masalahnya, semakin lama, harga minuman di sana melambung terlalu pesat. Jadi, dalam jangka waktu kurang dari 6 bulan, harga punch drink yang awalnya hanya 11 ribu rupiah saja, sekarang menjadi 18 ribu rupiah, belum termasuk pajak. Pajaknya sendiri 10% + 10%, jadinya 21%. Untuk konsumen langganan tentu saja jadi mengejutkan, karena kenaikan harganya beneran njemplang sejak “perkenalan”. Kesannya kita dikenalkan dengan wajah ramah, e ternyata penguras dompet juga.

Nah, berbekal dengan pengalaman saya sebagai anak gaul jogja keren banget dan sangat eksis fakir wi-fi, saya jadi menyimpulkan hal-hal apa saja yang bisa bikin sebuah tempat nongkrong itu rame banget di jogja. Memang secara keseluruhan, tipe penongkrong di jogja itu bermacam-macam, (mungkin postingan lama teman saya Ivan bisa membantu) tapi ada beberapa karakteristik besar yang bisa membantu tempat nogkrong di jogja menjadi populer.

1. Murah! MURAH! MURRAAAHHHH!!!

Satu karakter anak nongkrong jogja yang harus dipahami oleh manajemen adalah, KAMI INI MAHASISWA. Dan sialnya, kebanyakan pelanggan jogja lebih betah berlama-lama di tempat yang kurang nyaman sambil nyeruput teh poci sembilan ribu yang bisa buat ber tiga, ketimbang nongkrong di tempat yang harga minumannya 30ribu tapi nyaman. Satu tempat yang sukses dengan konsep murah ini adalah Semesta Kafe. Kalo saya sih, kurang suka dengan pelayanannya dan tempatnya yang ‘agak jorok’, tapi memang masalah harga sangat ramah pada dompet.

Atau Raminten, dengan konsep restoran (bukan kafe) dengan lokasi yang luas, range harga murah dan pilihan makanan beragam bikin Raminten ini sampai punya ‘waiting list’ setiap harinya. Alias ngantri untuk bisa makan di sana.

Tapi, banyak juga yang memilih tempat yang lebih mendingan dan harga diatas situ, namun masih juga tetap murah. Misalnya Rumah Cokelat. Rumah Cokelat itu punya range harga dari di bawah sepuluh ribu, sampai dua puluh ribu saja, namun bersih dan nyaman. Gak heran Rumah Cokelat ini sering penuh dan bagi yang ingin mampir jadi kehilangan tempat.

Selain Rumah Cokelat, ada juga Kedai Kopi, kafe yang punya tiga cabang di jogja ini juga terkenal. Punya range harga yang juga tidak kejam dengan kantong, tempat nyaman dan agak besar. Walau dua lantai juga masih suka penuh.

Nah, tempat seperti semesta, raminten, cokelat, dan kedai kopi ini punya satu kesamaan. Murah. Jadi walau nongkrong bisa lebih dari tiga jam, untuk pesan lagi itu gak ragu.

2. Kualitas Pelayanan

Tahukah, bahwa ada satu tempat di jogja yang interiornya asik banget, harga masih masuk akal, tapi pelayanannya super bego? Namanya, Discovery Cafe, entah kenapa setiap pesan makanan itu bisa datang beberapa jam kemudian dan tidak dalam keadaan hangat lagi. Pelayanan jelas salah satu bagian yang penting dalam membuat pelanggan betah berlama-lama di satu tempat.

Nah, itulah salah satu alasan kenapa saya bisa betah di Peacock Coffee, baristanya ramah dan ga rese. Sehingga saya merasa berada di rumah kedua. Ada banyak kafe yang pelayanannya kacrut banget, beberapa diantaranya barisan kafe di daerah Nologaten (yang saya ga ingat namanya karena emang ga spesial). Namun biasanya, kekurangan kualitas pelayanan begini mampu ditutupi dengan harga murah (yang makanya saya pasang di nomer satu, alasan kenapa tempat nongkrong bisa ramai).

3. Wi Fi dan Colokan

Dua hal ini opsional tapi memang diusahakan kalau bisa ada. Biasanya membantu banget buat yang nongkrong sendirian dan berakhir membuka pekerjaan di kafe sambil menyesap espresso. Untuk yang nongkrong beramai-ramai, kekurangan wi fi dan colokan ini ga jadi masalah. Toh nyolok ga nyolok asal ngumpul, kok.

4. Komunitas

Kalau memang tidak mampu memasang harga yang murah sekali (karena beban biaya perawatan dan pelayanan misalnya), maka gandenglah komunitas, supaya mau berpromosi gratis. Word of mouth di jogja ini pengaruhnya cukup besar. Ambil contoh Geronimo Cafe yang mau menggandeng komunitas Stand Up Jogjakarta, sehingga setidaknya ketika anak stand up mau ngumpul, geronimo menjadi opsi yang cukup besar untuk dipilih. Geronimo Cafe sendiri punya range harga lima belas ribuan sampai tigapuluh ribu, jadi tidak terlalu murah, namun masih masuk akal.

Dixie juga bisa jadi contoh tempat yang mau pedekate pada komunitas, sehingga banyak komunitas merujuk Dixie sebagai tempat yang bisa dipakai untuk membuat event kumpul-kumpul. Saya sendiri jika ditanya sebaiknya kalau mau bikin event di mana, biasanya akan merujuk ke Dixie. Karena selain mampu menyediakan tempat dan makanan, mengurusnya tidak terlalu rumit.

Nah, kembali ke Skybar Lounge tadi. Skybar Lounge punya banyak kekurangan yang seharusnya diperbaiki sebelum mereka mau menaikkan harga (lagi). Masalahnya, Skybar Lounge punya konsep yang muda dan dinamis yang lebih cocok menembakkan pasarnya ke mahasiswa. Sayang, konsep ini tidak dibarengi dengan isi dapur yang mumpuni. Pilihan menu Skybar Lounge tidak memberi banyak pilihan, kualitas rasa dengan harga yang ditawarkan tidak berbanding lurus, malah cenderung mengecewakan.

Kalau alasannya adalah karena ini di Hotel, maka Jogja punya Quality hotel yang punya dimsum corner dengan selalu diskon 50% (+10% kalau bisa menunjukkan KTM), dan tax nya hanya sekitar 15%. Selain itu, walau harga makanannya cukup mahal, namun kualitas makanannya bisa diacungi jempol. Mereka punya menu nasi goreng kare yang harganya 50ribu tapi lumayan menggoyang lidah, atau fettuccine cream yang harganya 72ribu namun porsinya bisa untuk bertiga dan rasanya enak. Sehingga, jika memang Skybar mau menargetkan pasar pada mereka yang lebih dewasa, setidaknya buat kualitas makanan dan minuman yang juga ‘dewasa’. Serius, siapa yang mau membayar es susu coklat encer dengan harga dua puluh dua ribu? Kami mahasiswa mungkin ga masalah minum es susu coklat encer dengan harga tujuh ribu, sih. Jika Skybar masih ingin berkonsep gaul dan mahal, gandenglah komunitas DAN supportlah mereka supaya mereka menjadi betah dan loyal di sana.

Jangan seperti Myoozik atau Own Cafe yang sebetulnya punya harga diatas rata rata (di mana sekali nongkrong mungkin bisa habis empat sampai lima puluh ribu seorang), namun tidak juga menggandeng komunitas. Sebetulnya dulu Myoozik sempat mengadakan event reguler dan pedekate dengan banyak komunitas, sayang, entah kenapa, hubungan ini dilepas dan sekarang mereka menjadi sepi.

Bisnis tempat nongkrong di Jogja ini menjamur, jadi tingkat persaingan di sini tinggi. Namun, Jogja bukanlah Jakarta, konsep mahal, enak, fancy dan memuaskan bisa saja dipakai di jogja, tapi bukan sebagai tempat nongkrong harian anak mudanya. Ada beberapa orang yang merindukan bisa menikmati tempat yang nyaman, enak, menyenangkan dan mereka rela membayar lebih untuk itu. Tapi, tidak untuk setiap hari.

Nah, begitu sih kurang lebihnya isi kultwit tadi pagi. Saya sendiri masih bertahan main ke Skybar Lounge selama ada Dharma for Music di sana. Karena saya di sana menikmati suara dan pemandangan sih, tidak menikmati makanan atau minuman di sana. 🙂

Yang Keberadaan Orang Gila

Siang itu, ketika menyelinap diam diam dari kelas yang membosankan, saya tak sengaja membaca berita ini.

“We have 9,000 community health centers throughout the country, but only 70 establishments provide services for patients with mental problems,” she said during the commemoration of World Mental Health Day in Bogor, West Java.

There are only two mental hospitals in Jakarta — Duren Sawit Hospital and Soeharto Heerdjan Hospital — along with four mental health institutions and 44 community health centers that can handle patients with mental problems. 

Indonesia has one of the lowest psychiatrist-population ratios in the world. Currently, there are only 600 psychiatrists nationwide — approximately one psychiatrist for every 400,000 to 500,000 people.

The ideal ratio is one for every 30,000 people, which means Indonesia would need about another 8,000 psychiatrists.

Saya, entah kenapa, kesal membaca berita ini. Saya paham, naif jika tetiba saya berharap pemerintah atau masyarakat melirik masalah ini. Mungkin kita lebih khawatir populasi orang utan punah ketimbang bertambahnya orang orang gila. Kenapa tidak sekalian pemerintah membantai saja? Toh, tak ada yang mau mengurus dan merawat mereka.