Yang J music, K music

Seorang teman bertanya pada saya; “Kenapa sih masih membanding bandingkan J-music sama K-music? Kan mereka sama aja, Jepang punya boyband, Korea juga punya, Jepang punya rock band, Korea juga punya. Sama aja lagi!”

Jepang lebih tua.

Saya tidak ingat kapan saya tahu musik jepang berkembang. Tapi yang saya tahu, sejak tahun 80an ada banyak band atau penyanyi dengan genre yang beragam. Sebut saja J-anime. Musik pembuka dan penutup anime ini jelas sudah ada sejak lama, saya dulu suka dengan OSTnya Doraemon, SailorMoon, dan lain lain (yang pada saat itu disulih suarakan). Sampai lebih banyak lagi seiring dengan makin banyaknya anime yang muncul.

Berbeda dengan Korea yang baru terasa Hallyu (Korean Wave) nya di Indonesia pada sekitar 2006an.

Korea lebih seragam.

Sudah tahu tentang Visual Kei? Sekitar tahun 2000an saya sudah tergila gila dengan banyak band visual kei, Visual Kei beda dengan J-rock atau J-metal, mereka dibedakan lebih bagaimana mereka perform dengan kostum atau makeup yang ga normal. Sebut saja The legendary X-Japan (OH YEAH!!!!), Dir En Grey, Lareine, Malice Mizer dan banyak lagi. Itupun punya banyak sub-genre lagi seperti Angura kei, Elegant-gothic kei, Eroguro kei, Iryō kei, Koteosa kei, Kotevi kei, Kurafu kei, Kurofuku kei, Lolivi kei, Nagoya kei, Oshare kei, Softvi kei, Toroteru kei dimana penjelasannya bisa jadi luar biasa panjang.

Sedangkan korea tidak. Padahal Indonesia saja punya lho, seperti /rif, GIGI (pada tahun 80an), Kuburan band (sadly yes), dan ada band indie yang sialnya bervisual kei juga tapi lebih nggilani.

Pasar Korea lebih seragam, tentu saja ada band dengan genre K-Rock seperti The TRAX, yang padahal diproduseri oleh Yoshiki X-Japan, tapi akhirnya berpaling ke pop juga. FT Island dan CN Blue pun tidak saya anggap sebagai rock band, karena (menurut saya) kurang ngerock. Ini karena trennya sekarang adalah grup-vokal-mas-mbak-cantik-yang-menari-nari-bahagia.

Pasar Korea mematikan.

Saya pernah datang di kuliah umum tentang perkembangan entertainment Korea, pada saat pertengahan 90an (mungkin 96-97), tren yang ada saat itu adalah hiphop. Menjamur lah grup hiphop semacam Sech Kies, H.OT, 1TYM, Shinhwa (angkatan 98) yang bergenre hiphop lalu punah pada awal 2000.

Berbeda dengan grup atau band jepang yang punya posisi sendiri di hati penggemarnya dan bisa berkembang (bukan dengan ekstrem berganti genre musik) dan tetap bertahan. Misalnya, band besar macam L’arc~En~Ciel yang bahkan usianya lebih tua dari saya!

Atau X-Japan, dimana para dewa musik tersebut ber-reuni dan mengeluarkan album lagi dengan menggandeng Sugizo, lead guitarist band besar Luna Sea yang sudah bubar.  Tinggal nunggu disembah sembah aja sudah.

KONSER! KONSER!! KONSER!!!

Saya tidak paham bagaimana sistem konser di Korea, berbeda dengan Jepang yang tiap band punya waktu sendiri untuk konser dan tur, dan mengeluarkan DVD live, dan membuat fansnya menjerit jerit puas mendengarkan satu album secara live.

Di Korea, setahu saya, livenya selalu keroyokan, dalam satu panggung bisa melihat BUANYAK banget artis, di mana mereka hanya menyanyikan 1-2 lagu saja. Mungkin poin plusnya bayar sekali bisa ngerasain banyak ya.

Begitu juga dengan konser di luar negeri, SM Entertainment sebagai “majikan” banyak band membawa BUANYAK band dan tur di LA dengan tajuk “SM TOWN”. Bukan spesifik siapa. Lalu, bagaimana bisa fansnya dibiarkan, terikat?

Ya, di Jepang juga ada Johnny’s Entertainment yang membawahi SMAP, Tokio, Kinki Kids, V6, Arashi, Tackey and Tsubasa, NEWS, Kanjani8, KAT-TUN, Hey! Say! JUMP, dan mengadakan konser keroyokan “Marching J”, tapi untuk penggalangan dana korban gempa di Touhoku. Setiap boybandnya punya tour sendiri, Hey! Say! JUMP Winter Concert, KAT-TUN -NO MORE PAIИ- WORLD TOUR, V6 Live DVD Asia Tour 2010 in Japan Ready?, Kanjani8 Dome Tour, dan lain lain, (oh please, saya bukan Johnny’s fans)

Korea lebih ganteng/cantik. Jepang lebih berkarakter.

Yah, ini sih bener, entah kenapa ngeliat member boyband korea itu ganteng cantik bener, matanya bulat besar, kulit mukanya mulus, giginya bagus. Orang jepang? Ya selera, temen saya lebih suka lihat girlband jepang yang katanya lebih punya imej polos ketimbang korea. Namun buat beberapa orang, melihat girlband korea mereka tampak sama satu sama lain, cantik, sekian. Sedang member girlband jepang punya karakter, childish, dewasa, imut, pekerja keras, tomboy dan lainnya. Saya kurang paham, saya bukan fans girlband soalnya 😀

Nah kembali ke pertanyaan di atas, kenapa juga dibanding bandingkan? Yah jelas dong, mereka hanya serupa, tapi tetap berbeda. Tidak bisa dipukul rata sama. Penetrasi budaya pop korea dan jepang ke dalam Indonesia pun punya cara yang berbeda. Karena mirip namun berbeda ini orang orang mulai membanding bandingkan, namun pemilihan mana yang lebih baik tergantung pada selera masing masing. Dan tidak bisa juga memaksakan menyukai musik yang lain, hanya karena “terlihat sama”

Yang Sergei Rachmaninoff

Beethoven dari Jerman, Vivaldi dari Italia, Mozart dari Austria dan Chopin dari Prancis tentu saja semua orang sudah kenal. Tapi bagaimana dengan komposer asal rusia? Banyak sekali komposer rusia yang hasil lagunya sangat terkenal dan sampai sekarang masih terkenal, seperti Flight of the Bumblebee buatan Nikolai Rimsky-Korsakov. Dan salah satu komposer terkenal dari Rusia adalah : Tchaikovsky. Tapi saat ini saya ingin mendongeng tentang komposer yang lain. Sergei Vasilievich Rachmaninoff.

Sergei Rachmaninoff Vassilievich lahir pada 1 April 1873, di Semyonovo, perkebunan besar di dekat kota kuno Novgorod, Rusia. Ayahnya, Vassily Rachmaninoff, adalah seorang perwira tentara dan ibunya adalah ahli waris yang kaya. Rachmaninoff berasal dari keluarga berbakat musik, baik ayah dan kakeknya bermain piano. Dia mulai belajar piano pada usia 6 dengan ibunya yang seorang pianis terlatih.

Ayahnya berjudi, minum, dan menghambur-hamburkan uang istrinya. Dia meninggalkan keluarganya ketika Sergei berusia sembilan tahun. Dan adik perempuan Sergei, Sofia, meninggal tak lama setelah itu. Keluarga Rachmaninoff terpaksa melelang Semyonovo untuk membayar utang mereka dan pindah ke St Petersburg, dimana Sergei terdaftar di konservatorium untuk melanjutkan studi piano.

Sergei adalah anak bermasalah, namun memiliki talenta luar biasa dalam permainan piano. Dan pada usia sembilan ini, dia mampu masuk di College of Music di St. Petersburg. Karena merasa kemampuannya diatas rata rata, dan juga tumpukan masalah keluarganya, Sergei tidak banyak fokus pada kuliahnya, sayangnya karena itu, pada tahun 1885 dia gagal pada SEMUA ujian di ST. Petersburg dan karena masalah kedisiplinan, Sergei dipindahkan ke Moskow untuk “didisiplinkan” bersama Nikolai Zvereff, Zvereff merupakan salah satu guru musik terkemuka yang mengajar di Konservatorium Moskow.

Empat tahun tinggal bersama Zvereff membuka pandangan baru bagi Sergei. Namun pada tahun 1889 hubungan mereka “putus” karena Zvereff menolak memberikan ruangan pribadi bagi Sergei untuk menulis. Sergei pun pindah belajar musik dan tinggal pada sepupunya, Alexander Ziloti.

Pada tahun 1892, Sergei lulus dari konservatorium dengan kehormatan tertinggi dan pujian dari Tchaikovsky langsung pada proyek tesis Rachmaninoff , “the opera Aleko“. Sergei bekerja perlahan terus menerus untuk memperoleh pengakuan dan pujian sampai 1897, ketika premier “Symphony No.1 in D minor” nya mengalami penolakan mentah mentah yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Karena kegagalannya itu, Sergei menderita kemunduran psikologis yang parah yang menyebabkan hilangnya seluruh kepercayaan dirinya dan membuat dia tidak mampu menulis selama tiga tahun. Butuh serangkaian sesi hipnotis bersama Dr. Nikolai Dahl untuk mengembalikan kepercayaan diri pada kemampuan kreatif Sergei.

Karena pengobatan Dr. Dahl, pada tahun 1900 dia mulai membuat “Piano Concerto No. 2” yang didedikasikan khusus untuk Dr. Dahl. Setahun kemudian, setelah “Piano Concerto No. 2” nya selesai, ia menikahi sepupunya sendiri, Natalya Satina. Irina putri mereka, yang kemudian menikah Pangeran Pyotr Volkonsky, lahir pada tahun 1903.

Tahun 1909, Sergei mengunjungi Amerika Serikat untuk pertama kalinya pada tur konser dan disambut dengan tangan terbuka. Setelah itu, ia selalu mengunjungi Amerika setiap musim, meskipun ia baru saja memiliki tempat tinggal utama di Ivanovka, estat warisan yang baru ia terima di Rusia.

Setelah Revolusi Oktober 1917, Rachmaninoff pindah sebentar ke Stockholm, namun karena kecintaannya pada Amerika Serikat, ia pindah ke New York pada 1918 dan membeli rumah di sana, di Riverside Drive dan dihiasi meniru suasana Ivanovka, pada tahun 1921. Pada sekitar 1910an, Sergei diduga berhubungan denga Nina Koshetz.

Sebelum 1918, Rachmaninoff menulis kurang lebih 135 komposisi, tapi karena “his self-imposed exile” (seseorang mohon jelaskan) hanya sekitar sembilan atau sepuluh karyanya yang dikeluarkan. Musiknya, bagaimanapun, tetap khas Rusia, walaupun ia adalah seorang penentang keras rezim Komunis baru, publik mengumumkan kritiknya di New York Times. Sergei Rachmaninoff meninggal di Beverly Hills pada 28 Maret 1943, hanya beberapa minggu setelah mendapatkan kewarganegaraan Amerika-nya dan hanya lima hari sebelum ulang tahun nya ketujuh puluh.

Huff, panjang juga ternyata 🙂 Anyway, Rachmaninoff adalah salah satu komposer era romaticism yang berbeda dengan komposer era Baroque (Vivaldi misalnya) ataupun klasikal (Mozart misalnya), sehingga banyak lagu lagunya berirama lembut dan halus. Salah satu karyanya yang merupakan favorit saya adalah Rhapsody on a Theme of Paganini.

“Music is enough for a lifetime, but a lifetime is not enough for music” – Sergei Rachmaninoff.

Yang Marshanda

Saya sebelumnya sudah nulis di Ngerumpi, juga di facebook bisa di bilang masih pertama tuh, sebelum ke blow up semuanya. Jam 1 pagi bok! Gara garanya dapet link dari plurk yang bikin saya ngakak tanpa henti dari jam 10 malem itu sampe jam 1 pagi, sampe saya mutusin untuk berbagi tawa bersama banyak orang.

Tapi sekarang semua orang malah posting di blognya. Dan bahkan mencaci dia!! Tidaaaakkk!! Gara gara ini Marshanda mendelet video videonya. Dari 40an video karaokenya, sekarang hanya tersisa 4.. Hiks.

Saya benci, saya sedih, tadi malam akhirnya saya menyadari bahwa sepertinya saya jatuh cinta pada dia, saya ngefans, bahkan mungkin bagi saya, dia lebih baik daripada Dewi Persik yang saya anggap sebagai the most entertain girl in Indonesia.

Terlepas dari dandanannya yang copycatting ayumi hamasaki, dan suaranya yang jelek (yes dear, suara kamu memang jelek) tapi cara dia berjingkrak jingkrak dan menjerit jerit sangat menghibur dalam arti sebenarnya. Maksud saya, langkah dia putus dari VJ Ben dan lari ke youtube adalah langkah yang sangat bijak ketimbang dia lari on drugs atau mabok, maksud saya, tentu kita akan sangat bosan melihat wajah artis yang putus dan lari ke drugs karena hal itu sudah sangat biasa, kan 🙂

Saya iseng mengetik ceritanya dari sebuah video, dan memberi komentar di videonya :

Lagu ini kayaknya paling cocok buat temen temen sd gw, yang musuhin gw waktu gw sd, gw ga punya temen, gw struggle kayak orang gila di sekolah gw sendiri. Yang jahat jahat!
Adinda Mutiara Sabila Purnomosidi, MAKAN NIH! Dan semua temen temen lo yang ngikutin lo. gw tau lo ketua, lo apa.. gila lo, lo paling jago dari kelas 1 ampe kelas 6 lo ranking 1 terus. wuuu mantap, selamat ya! Lo add gw di facebook, gw ngapprove lo man!
Sama Andita, ya Allah, cewe tercantik sedunia. Ada namanya dita, baru masuk kelas tiga gitu deh. Terus. Udah deh pokoknya dia ngerasa paling keren gitu deh dari gw.”

*nyanyi*

“Sama Muhammad Zafi Widodo yang pernah insult gw ngajak lo di depan kelas. Inget inget lo ngapain. Huu.. groove it.. Sok ganteng lo bi. Jijiki tau ga. Jijik! Hooeeek!!

Groove it, I’m groove.., man!!”

Anyway, saya nggak nyangka, keseriusan saya ngefans dia dan mengetik semua curhatnya di publish oleh okezone dan blog ndorokakung. Oh dear marshanda, jangan pedulikan mereka, berkarya lah terus dengan spontanitas dan kejujuran mu itu. I love you so much, your style on youtube. Dear, keputusanmu untuk masuk ke bidang lawak sungguh sangat bijak. Gak banyak pelawak cantik dan imut kayak kamu. Saya yakin, opera van java dan tawa sutra ratingnya pasti akan anjlok kalo kamu mau ngelawak gak hanya di youtube. Tapi juga di TV.

Hail Marshanda! Hail Marshanda! She is a true entertainer who made my day! Upload lagi dong videomu, karena tanpa kamu, aku ga bisa tertawa 3 jam tanpa henti lagi.. 😦

Yang Kenny Wayne Shepherd

Ini mas kenny wayne waktu masih umur 22 ♥_♥

Ini mas ken yang ganteng ituh ♥_♥

Saya ini blues newbie. Jadi opini saya tentang dia mungkin beda dengan opini fans fans nya di luar sana 😀 Saya ini janjane ga begitu seneng sama blues, koleksi saya juga ga lengkap, paling sebatas Otis Rush, Luther Allison, Steve Ray Vaughan, BB King, Eric Clapton, Chet Atkins, Gary Moore, Joe Louis Walker, Willie Dixon dan Sunnyland Slim. Dan tiap kali muter lagu lagu mereka pun pilih pilih, ndak semua suka.

Anyhow, seseorang yang ngelirik koleksi saya yang seiprit itu ngira saya beneran suka blues, lalu memberikan album lawas “Live On” Covernya si mas ganteng Kenny Wayne Shepherd yang saat itu masih berusia 22. Ganteng mak! Gyahahaa.

Live On Track List

  1. “In 2 Deep”
  2. “Was”
  3. “Them Changes”
  4. “Last Goodbye”
  5. “Shotgun Blues”
  6. “Never Mind”
  7. “You Should Know Better”
  8. “Every Time It Rains”
  9. “Oh Well”
  10. “Wild Love”
  11. “Losing Kind”
  12. “Live On”
  13. “Where Was I?”
  14. “Electric Lullaby”

Live On adalah album ke tiga mas ken yang lagi lagi dapet platinum. Anehnya, ndengerin semua lagu lagunya, kok saya kepincut semua? Atau karena aliran dia blues-rock ya? Berhubung dia ini gitaris, maka kebanyakan musiknya ya di dominasi sama permainan gitar dan suaranya yang kuat itu. Beda dengan Steve Vai yang saya bilang datar (yah, sebetulnya pada album album awal steve vai masih “penuh warna” sih) permainan Kenny Wayne di album ini juga smooth dan penuh warna. Gak aneh kok, mas Ken itu pernah menempati urutan ke 3 di Guitar World pada tahun 1997 di bawah BB King dan Eric Clapton.

In 2 Deep, Them Changes, Never Mind, Oh Well dan Wild Love, sangat beraura rock sekali. Sedang, Shotgun Blues, You Should Know better, Everytime It Rains dan Losing Kind beraura blues yang ndak keras. Tapi track track lain seperti Was, Live On,  Where Was I, dan Electric Lullaby sangat ngepop! *dikeplak* maksud saya, sangat easy listening dan ga bikin bosan, mendayu dayu dan romantis. Mirip lagu pop kan? 😛 (Oh, Eletric Lullaby itu ndak ada voicenya, cuma si mas ken pamer skill gitarnya untuk bikin hati sendu *dikeplak lagi*)

Kalo di suruh pilih lagu favorit saya dari album ini, mungkin saya akan milih Where Was I, karena lagunya stuck di kepala saya dan ga mau keluar 🙂

Staring out the window
Watching the night turn into day
It’s four in the morning
I’ve got so many things that I need to say

I’ve been out here in the darkness
With shadows all around
Where was I before you came around?

Standing in a phone booth
Lord, I watching the rain fall down
Don’t know where I’m going
Don’t even know the name of this town (of this town)
I’ve been stranded in this spotlight
Like a king without a crown
Where was I before you came around?

I was lonely
I was on my own
I was drifting
No place to call home
Now I’m stronger
Where would I be without you loving me?

I was lonely
On my own
I was drifting
No place to cal home
Now I’m stronger
Where would I be without you loving me?

Oh, staring out the window
I heard you say it’s gonna be all right (all right)
With these words from you girl
I can make it through another night
You give me someone to believe in
I was lost
But now I’m found
Where was I before you came around?

You give me someone to believe in
I was lost
Now I’m found
Where was I before you came around? (Where Was I, Kenny Wayne Shepherd)

Yang Andrei Aksana

Siapakah dia? Don’t ask me!! Saya juga ga tahu sampai hari ini ketika adik saya pulang dan ngebawain cd “Dia dan Dia” OSTNya Men To Love.

Hah? Film apa pula Men to Love? Ternyata ini OST buku, sodara sodari, mirip2 recto verso gitu deh.

Kok bisa kamu dapat CD itu chor? Beli novelnya?!

Ohh,, ngga sodara sodari, jadi, ini adalah reward sebagai peminjam terbanyak di KK Book Rental. Yep, reward gratisan. Pas saya dapet cd itu, pertanyaan pertama saya adalah.. Who is he?!

Yang pertama saya lakukan adalah,, gugling! Andrei Aksana, singing author. Dan membaca testimoninya, Men To Love tuh cheeklit gitu lah.. duh,, jadi ilfeel 😦 But well, someday saya bakal cari bukunya, moga2 ga mengecewakan 😦 Kata temen saya, buku cinta 24 jam tipe tipe metro pop gitu dan worthed to read, trus dari hasil gugel juga, Lelaki terindah juga termasuk buku bagus *wah jadi pengen beli*

Dari browsing di GPU, ternyata di famous author *duh saya kemana aja coba, sampe ga tahu dia* dan udah berkarya sejak 1992, etapi kok aku ga kenal ya…

Anyway,, dalam CD dia ada 2 tracks. 1 lagu “Dia dan Dia” yang 1 lagi versi karaokenya. 4 menit saya mendengarkan suaranya dan bereaksi..

Uh.. Okay..

Musicnya bagus.. lembut mendayu2 dan easy listening

suaranya juga,, lumayan.. berat2 menggoda gitu deh, apalagi selain cd nya dikasi postcar poto dia, jadi bisa kebayang orangnya yang nyanyi kek apa..

tapiiii..

begitu suara dan musiknya digabung,, jadi ga nyambung 😦 Ugh I’m sorry.. just not my type 😦

[OOT]
BTW.. nyokap beliin Quaker oat meal!! Ternyata enak! cuma dikasi garem gitu aja enak, huahahaha *norak*

Yang Him

I stare through his shadow
I see something more
Believes there’s a light in him
I am sure

He is not a hero
He is not an angel
He is just a man
Man who’s love me
Unlike any other
In my eyes he is

This world keeps on spinning
Only he stills my heart
He’s my inspiration
He’s my northern star
I don’t count my possession
All I call mine
I will give him completely
To the end of all time

He is not a hero
He is not an angel
He is just a man
Man who’s love me
Unlike any other
In my eyes he is

(In her eyes – Josh Grobban, changed by choro)

Damn!! I miss him so badly and crying out loud hear that song, and now I sing pathetically Michael Buble’s song

If you want a lover
I’ll do anything you ask me to
And if you want another kind of love
I’ll wear a mask for you
If you want a partner
Take my hand
Or if you want to strike me down in anger
Here I stand
I’m your man

If you want a boxer
I will step into the ring for you
And if you want a doctor
I’ll examine every inch of you
If you want a driver
Climb inside
Or if you want to take me for a ride
You know you can
I’m your man

Ah, the moons too bright
The chains too tight
The beast won’t go to sleep
I’ve been running through these promises to you
That I made and I could not keep
Ah but a man never got a woman back
Not by begging on his knees
Or I’d crawl to you baby
And I’d fall at your feet
And I’d howl at your beauty
Like a dog in heat
And I’d claw at your heart
And I’d tear at your sheet
I’d say please, please
I’m your man

And if you’ve got to sleep
A moment on the road
I will steer for you
And if you want to work the street alone
I’ll disappear for you
If you want a father for your child
Or only want to walk with me a while
Across the sand
I’m your man

If you want a lover
I’ll do anything you ask me to
And if you want another kind of love
I’ll wear a mask for you

(I’m Your Man – Michael Buble)

Damn you damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn damn!!!

This is my 18th day without him, and I still missing him like crazy. People said, “forget him and let’s moving forward, life isn’t about love.”

I am moving forward, and not in love with him anymore. I can’t forget him, why should I? He gave me best time of my life, he gave me, beautiful mind and thought about life. He is my reason to back home, I won’t forget him.

People asked, “you can’t accept his decision, can you?”

I can, obviously. I am completely aware and understand his decision. It’s not about him, it’s all about me.

Yang Steve Vai

Saya sendiri agak kaget, melihat koleksi saya. Malam ini, mendadak winamp saya random ke sebuah track bertitle “13 – Asian Sky” saya agak kaget, karena komposisi musiknya sangat didominasi dengan gitar, dan sangat “J-style” sekali, sangat.. L’arc~En~Ciel lah, tapi ketika saya shuffle lagi, betapa kagetnya ketika saya mendapati lagu “Bad Horsie” yang sangat distorsi dan lagu “Juice” yang sedikit ngebeat dan jazzy walaupun agak keras. Instrumen gitar tanpas vokal ini cukup bikin saya penasaran. Siapa sih orang ini?

Steve Vai. Saya pikir dia orang Jepang karena alirannya terasa seperti X Japan, tapi saya salah! Setidak nya begitu setelah saya me wiki dirinya. Ternyata dia adalah orang new york, penyanyi, produser, penulis lagu dan gitaris.

Yang lebih ga saya duga lagi, ternyata koleksi Album Steve Vai saya cukup lengkap! Dari album debutnya “Flex-Able Leftovers” yang track ke 3 nya “Bledsoe Bluvd” merupakan lagu favorit saya di album ini, musiknya agak aneh, mungkin karena alirannya Rock 80an, ga bikin saya mudeng sama lagu2nya. Tapi “Bledsoe Bluvd” merupakan track yang.. berwarna cerah, Vai seperti memainkan.. err.. piano dan terompet (?) sehingga tidak terasa kasar, dan cukup riang (di antara track2 lainnya) dan track 7 “Burnin’ Down The Mountain” yang lagi” cukup cerah di antara track lain :mrgreen: maklum, saya ga kuad denger 80’s Rock.

Lalu album keduanya, “Passion and Warfare” bisa di bilang.. album yang menyenangkan 😀 dan ternyata album ini mendapat pengakuan international, di buka dengan track “Liberty” yang penuh semangat, saya suka sekali cara Vai menggoda pendengar dengan tarikan gitarnya di padu dengan gebukan ringan sebuah drum. Lalu di sambung dengan “Erotic Nightmare” yang sangat menggoda, saya suka sekali semua lagu di album ini. Semua 14 track saya dengarkan hingga di tutup oleh lagu “Love Secrets”

Masuk ke album ke tiga “Sex & Religions” Saya jadi kecewa, karena di album ini, dia ga begitu banyak memainkan smooth guitar lagi, tp cukup keras dan banyak kosong di mana mana. Mendengar album ini, sekilas jadi teringat abang Marylin 😀

Album keempatnya “Alien Love Secrets” dan album kelima “Steve Fire Garden” tidak memberi kesan berarti sama saya, entah karena semakin lama semakin merasa, geter lagu dari Steve Vai itu hanya gitu gitu aja, ataupun merasa stuck dan bosan dengan istrument gitar dan no vocal ini. Entah lah.

Tapi kekecewaan saya terhapus ketika menikmati album ke enamnya “Ultra Zone”, openingnya “The Blood and Tears” berasa india sekaliiiii dan track ke 3 nya “OOOOO” sangat gothic sekali, dan di tutup oleh “Asian Sky” tadi. Album ini bener2 punya cita rasa yang berbeda di tiap tracknya 😀

Di album ke 7 “Seventh Song” bisa di nikmati dengan relax, karena berisi lagu” ballad dan slow. Dan di album terbarunya “Alive in an Ultra Worlds” membuat saya tewas, huaaaaahhh ga kuad lagi dengernya, album ini berasa kembali ke album 4 dan 5. terlalu sama. bisa di bilang, untuk menikmati lagu2 Steve Vai harus menyukai rock 80’s dan gitar,. kalau tidak? haaah siap2 tewas bosan seperti sayah

Eniwe, setiap track dan lagu Steve Vai kebanyakan non vocal 🙂

Official Site Steve Vai : http://www.vai.com/