Yang Sanubari Jakarta

Adalah teman-teman dari @SaveDiversity yang membuat acara screening “Sanubari Jakarta” di Yogya, Jum’at malam kemarin. Roadshow Sanubari Jakarta sendiri juga sekaligus sebagai bagian dari kampanye IDAHO (International Day Against Homophobia dan Transphobia).

Sanubari Jakarta adalah omnibus film indie dengan sepuluh cerita yang berbeda dari sepuluh sutradara yang juga berbeda namun mengangkat satu tema yang sama, LGBT. Film yang diproduseri oleh Lola Amaria ini dikerjakan dengan gerilya dan butuh waktu kurang lebih setahun untuk selesai, dengan aktor dan aktris yang rela untuk tidak dibayar. Mengumpulkan dan mengatur sepuluh sutradara dengan sepuluh cerita dan sepuluh ego berbeda merupakan tantangan paling besar dalam film ini.

Sinopsisnya,

Advertisements

Yang Modus Anomali (CONTAIN SPOILER)

MODUS ANOMALI mengisahkan tentang seorang Pria yang ketika berlibur di sebuah hutan, mendapati keluarganya hilang secara misterius dan dirinya diburu oleh seorang pembunuh sadistis. Satu-satunya clue adalah alarm jam yg sewaktu-waktu menyala yang entah menandakan apa.

Mendengar kombinasi…

Yang Nenek Gayung

Nenek gayung diangkat dari kisah nyata yang (katanya) booming di akhir 2011 kemarin, yang saya yakin pasti kerjaan tim promosi Movie Eight sebagai bentuk pesan viral (yang saya anggap gagal). Apakah mitos dan legenda Nenek Gayung terkenal? Tentu saja tidak. Apalagi dengan promosi di forum terbesar Indonesia yang hanya jadi ajang nambahin angka postingan tanpa dibaca kemudian tenggelam. *evil laugh*

Nenek Gayung dibuka dengan penjelasan siapa nenek gayung ini sebetulnya, seorang nenek tukang mandiin jenazah yang meningga, kemudian tidak sempat dimandikan karena suaminya juga menyusul sebelum sempat menyentuh gayung. Lalu kemudian nenek ini gentayangan dan berubah wujud menjadi mbak-mbak-berdada-tumpah-yang-berpakaian-mini-berbelahan-rendah-dan-bersuara-datar (Nikita Mirzani) berdiri di pinggir jembatan untuk mencari mangsa. Yang saya bingung, dia dendam apa sih sampe segitunya? Setelah mendapatkan mangsa, dia memandikan dan membuatnya mati seketika dengan muntah darah. I wonder what kind of poison she put in the water, ay. Ketidak-konsistenan muncul pada cerita mangsa ke dua, di mana ceritanya berubah bahwa siapapun yang bertemu dengan nenek gayung, akan mati seminggu kemudian, dengan banyak luka membusuk.

Cerita berpindah ke tokoh utama kita, Duta (Zaky Zimah) bersama Joe Richard dan Yadi Sembako (saya lupa siapa nama karakternya) yang memiliki usaha burger KONtan enAK (and no, I don’t want to imagine it tastes). Duta ceritanya adalah pria baik dan naif yang menolong nenek gayung (tanpa tahu bahwa nenek itu hantu) yang pada hari bersamaan diputuskan oleh pacarnya yang.. luar biasa.. besar… Nenek gayung kemudian berubah menjadi mbak-mbak-berdada-tumpah-yang-berpakaian-mini-berbelahan-rendah-dan-bersuara-datar dan mendekati Duta menjadi.. pacarnya.

dan cerita bergulir sebagaimana pakem cerita komedi garing dengan bumbu horor. (eh, apa harusnya kebalik ya?)

Ada banyak nama-nama terkenal yang numpang lewat berseliweran, namun kualitas yang dicampur adukkan di dalam film ini sama sekali tidak membantu apapun baik dari segi plot, kengerian ataupun komedi Nenek Gayung. Terutama ketika tokoh ibu Duta (Yurike Prastika) muncul dan malah “mengganggu” dengan akting hebohnya. Mungkin sebagian dari anda merasa terhibur dengan ocehan dia, tapi percayalah beberapa menit mendengar adegan saling teriak heboh hanya membuat telinga sakit. Bahkan ketika saya akhirnya memutuskan untuk menutup telinga sampai akhir film, saya masih bisa mendengar teriakan mereka. Capek.

Nikita Mirzani sendiri juga mengganggu membuat saya susah fokus dengan cerita. Ehm, maksud saya, karena dada Nikita Mirzani. Saya juga saking isengnya menghitung berapa kali dia berkedip dalam satu adegan, tapi tampaknya saking menikmati perannya menjadi hantu bersuara datar, mbak Nikita lupa caranya berkedip. It’s so scary, bro.

Film ini ditutup dengan cuplikan hantu Kakek Cangkul, suami Nenek Gayung, yang menjadi sequel dan tayang bulan depan.

Movie Eight begitu antusias mempromosikan nenek gayung hingga (ridiculously) menyebutkan bahwa pemutaran nenek gayung dihadiri banyak penonton hingga hampir full di semua bioskop di hari pertama tayangnya. If they mean 10% tiket terjual sama dengan hampir fullthen I won’t arguing them. Hanya satu hal yang saya mampu yakin dan pastikan, Movie Eight bukan ingin mempromosikan kisah urband legend (wannabe) yang menyeramkan, tapi merupakan konspirasi terselubung promosi lagu Iwak Peyek nya Trio Macan. Waspadalah! Waspadalah!

Yang Kungfu Pocong Perawan

Saya selalu kagum dengan semua hasil KK Dheeraj, sejak Skandal Cinta Babi Ngepet, saya selalu menunggu dan semangat untuk menonton karya KK Dheeraj, in sarcasm way.

Kungfu Pocong Perawan sudah menarik mata saya sejak kemunculan posternya yang dengan gamblang mencontekKungfu Panda ditambah dengan tagline “kata orang lebih dahsyat dari si panda?”. Orang mana yang bilang begitu tentu saja hanya KKD (panggilan tercinta bagi pengikut KK Dheeraj) yang tahu.

Sinopsisnya menurut 21:

Kisah asmara guru kung fu Boh Lam (Olga Syahputra) dengan Mey Mey (Jessica Iskandar) terpaksa terganggu karena Boh Siaw (Yadi Sembako) yang tak lain adalah kakak pertama di perguruan Singa Putih. Saat Boh Siaw mengajak Ang Pao (Daus Mini) mengambil kitab sakti di hutan, Baron alias Amsyong Lu (Rizky Putra) menyerang perguruan dan menculik Mey Mey. Di tengah perjalanan Boh Siaw dan Ang Pao mengalami kecelakaan dan tewas namun karena telah bersumpah untuk menyelamatkan Mey Mey mereka bangkit dari kubur. Dengan menggunakan Pocongan mereka berkeliling hingga menemukan Mey Mey dan mengalahkan Amsyong Lu dengan kungfu yang dimilikinya. Pertualangan yang seru dan Asmara romantis Boh Lam dan Mey Mey.

Kenyataannya, filmnya jauh dari sinopsis ini. Tapi ah, buat apa membicarakan plot, karena jelas-jelas KKD tidak memberikan plot jelas, saya malah curiga mereka dilepas di set dan dibiarkan akting tanpa script, karena saya bagaikan melihat lawakan OVJ + film silat cina lama (BoBoHo?) kwalitas sekian ratus. Dan kalian para pria yang berniat menonton ini, setidaknya bertahanlah dari rasa ngilu lima belas menit pertama. Karena terlalu banyak ‘burung’ disiksa di awal film ini. By burung, i mean, penis.

Amsyong Lu ingin membunuh guru besar adalah tindakan yang tidak perlu, karena sang guru besar sendiri sudah dekat dengan ajalnya dan memberikan wejangan pada kakak pertama untuk mencari kitab di gua kecil di hutan demit. Di manakah hutan demit itu, tentu saja hanya guru besar dan kakak pertama yang sepertinya bisa membaca pikiran sang guru besar yang tahu. Karena dengan petunjuk sesedikit itu, mereka mampu menemukannya dengan cepat tanpa ada adegan nyasar. Yang lucu, mengapa Mey Mey menjadi rebutan ialah tak lain karena ilmu di kitab itu belumlah sempurna, untuk menyempurnakannya, kakak pertama harus menikahi Mey Mey… Karena jurus terakhir ada di punggung Mey Mey.

Mungkin saja mereka lupa ada opsi membuka kain punggung Mey Mey tanpa menikahinya.

Padahal Mey Mey lebih cinta pada kakak kedua yang bencong. Er, ini Olga sendiri yang mengklaim dirinya bencong, bukan maksud saya menghina dia. Sumpah. Akhirnya terjadilah kejadian Amsyong Lu menculik Mey Mey dan merobek kain punggung Mey Mey dan berlatih jurus terakhir itu. Ajaibnya, Amsyong Lu mantap berkata bahwa kemampuan dia sudah sempurna. Sementara kitab suci nya hilang entah ke mana belum sempat dia pelajari. Sungguh ajaib sekali cara perguruan ini berlatih jurus. Tapi… Argh, semakin anda berusaha mencari plot cerita semakin anda harus menurunkan kadar intelejensia anda untuk memahaminya.

Jika anda menonton film ini bersama saya, mungkin anda akan banyak terganggu dengan extreme facepalm saya dan berapa kali saya harus jambak-jambak rambut karena luar biasanya film ini. Apabila anda fans Dahsyat (terutama jessica iskandar dan olga syahputra), anda wajib dan harus menonton film ini dan siapkan barikade untuk menghajar orang-orang seperti saya yang tidak mampu menalar film ini. Saya juga sangat menyarankan film ini jika anda penggemar Tiffatul Sembiring dan kemampuan pantunnya, mungkin anda bisa beradu pantun luar biasa lame seperti “kita harus hormat kepada kakak ketua yang lagi makan kedongdong, hai kakak kedua cium pipi aku dong” atau “Nenek-nenek makan sirih mangap-mangap. Aku kesini mau minta maap..”

Sungguh luar biasa pak KKD, saya sangat menunggu film anda selanjutnya!

Yang The Witness

Ketika mendapatakan undangan dari kabarindo untuk nonton bareng The Witness, pikiran saya melayang ke dua film Skylar Picture sebelumnya, Jinx yang luar biasa… tidak layak tonton, atau Surat Kecil Untuk Tuhan yang justru bisa dinikmati sambil berlinangan air mata (iya, saya belum nonton Tebus). Dengan dua genre dan hasil yang berbeda, saya jadi penasaran bagaimana Muhammad Yusuf merangkai The Witness yang bergenre suspense thriller ini.

The Witness dibuka dengan adegan mimpi Angel (Gwen Zamora) tentang pria misterius yang membunuh dirinya sendiri. Tak lama setelah itu, tanpa mengetahui siapa dan kenapa pria itu bunuh diri, sekeluarganya dibantai orang tak dikenal, dan Angel menjadi satu-satunya yang bertahan. Namun, setelah itu, ia dihantui mimpi-mimpi aneh tentang keluarganya dan pria misterius tadi. Lalu, apa motif keluarganya dibantai dan siapa pria misterius itu hanya bisa dijawab dalam film ini.

The Witness diawali dengan cukup cepat, hanya 10 menit perkenalan lalu munculah si pembantai dan membiarkan penonton menahan nafas ketakutan. Dengan pengambilan gambar yang dramatis, kita dibiarkan terkaget-kaget dengan pembantaian yang berjalan perlahan itu. Setelah itu, kita dibiarkan berjalan-jalan di dalam kepala Angel sambil merangkai benang-benang yang menghubungkan pembantaian tersebut dengan keseluruhan isi cerita.

Sampai akhir film, saya menikmati bagaimana bungkus dan isi The Witness. Tentu saja ada beberapa hal yang mengganggu namun tidak signifikan. Kebanyakan hal-hal teknis, seperti close-up shot yang terlalu sering sehingga mulai mengganggu mata, para perempuan lengkap bermake-up ketika sakit ataupun tidur, betapa Gwen Zamora terkadang kurang ekspresif, dan Marcellino yang walaupun ganteng tapi justru aktingnya kurang di film ini (yang untunglah dia tak begitu banyak muncul),  atau adegan close range shoot tapi tak ada cipratan darah ke baju si pembantai (ya ya ya, saya terlalu banyak nonton film hollywood). Tapi secara keseluruhan The Witness bisa dinikmati dengan tegang.

Ada dua hal yang saya suka dari The Witness, ekspresi dan karakter tokoh yang dramatis namun tetap natural, beberapa shot yang tidak mubazir mampu menambah efek dramatis The Witness. Saya paling suka adegan ketika Angel harus melihat mayat keluarganya. Gwen Zamora mampu membuat film minim dialog macam The Witness tetap hidup karena ekspresinya. Dari segi cerita pun tidak seklise film thriller kebanyakan, di mana ketika kamu tahu ada pembunuh di rumahmu, kamu malah bersembunyi dan menunggu dibunuh, bukannya berusaha kabur dan bertahan hidup. Yang kedua adalah background music dan sound effect, mungkin saya harus banyak berterima kasih kepada mas Izzal Peterson dan Khikmawan Santosa yang mampu membangun aura tegang dengan musik yang pas. The Witness mampu membuat beberapa orang berteriak tegang karena efek suara yang pas tanpa terasa menyebalkan.

The Witness baru main di 21 nanti tanggal 26 April 2012. Selamat menonton bagi teman-teman sekalian x)

Yang Another

“Kamu pernah dengar tentang Misaki? Dari kelas 3-3. Kejadiannya 26 tahun lalu, dia sudah populer sejak kelas 1. Dia pintar, cantik dan sifatnya baik, semua orang baik murid maupun guru, sayang padanya. Tapi, sesaat setelah dia di kelas 3, dia meninggal karena kecelakaan. Semua orang kaget, sampai tiba-tiba seseorang menunjuk meja Misaki dan berkata ‘Itu Misaki, dia tidak meninggal’. Memang hanya pura-pura, tapi sejak hari itu, kelas 3-3 mulai bersikap seolah-olah Misaki masih hidup. Mereka berpura-pura hingga hari kelulusan. Bahkan, kepala sekolah menyiapkan kursi di upacara kelulusan mereka. Tentu saja ini cerita yang baik, hanya jika semua berakhir di sini…”

Another, adalah novel fiksi horor karya Yukito Ayatsuji yang diterbitkan Kadokawa Shoten pada Oktober 2009. Adaptasi manganya diilustrasi oleh Kiyohara Hiro, sebanyak 4 buku dan diterbitkan sejak Mei 2010 sampai Januari 2012.

Nah, pada Januari ini, Another diadaptasi menjadi anime-series dan episode pertama muncul pada tanggal 10 kemarin. Ceritanya sama, dibuka dengan narasi pendek tentang kejadian 26 tahun lalu, kemudian pergi ke tahun 1998, dimana Koichi Sakakibara (15) pindah dari Tokyo ke Yomiyama, kota kelahiran ibunya. Dia masuk ke sekolah menengah Yomiyama, berusaha beradaptasi namun tidak dapat mengerti kenapa teman sekelasnya bersikap aneh. Siapa yang sangka, bahwa misteri Misaki 26 tahun lalu ada hubungannya dengan ibunya yang meninggal 15 tahun lalu.

Another menjanjikan thriller yang intense, setidaknya begitulah yang kesan saya setelah membaca manganya, pada episode pertama, aura misterinya mampu terbangun sempurna walaupun terasa lambat. Namun cukup membuat penasaran bagaimana kelanjutan misteri sekolah Yomiyama ini. Another adalah anime dengan genre supernatural-horror, diproduksi oleh P.A. Works (Angel Beats, Canaan) dan dibuka oleh lagu Kyoomu Densen (Nightmare Contagion) dari Ali Project, band gotik yang bergaya aristokrat yang sangat cocok dengan aura anime ini.

Sayang, manganya sendiri belum terbit di Indonesia secara legal, saya baca dari scanlation, yang menurut saya terjemahan  kurang begitu bagus, tapi well, masih bisa dipahami sih. Silahkan cari di situs yang bisa baca gratisan, tapi baru 10 chapter (dari kurang lebih 16 chapter) yang baru diterjemahkan.

Yang Kokuhaku (Confessions)

I’m going to give you one final, very important lesson.

Kira kira begitulah inti dari tiga puluh menit pembukaan film ini.  Yuko Moriguchi sensei, seorang guru sekolah menengah mengumumkan keputusan dirinya resign sembari menceritakan kematian putri satu satunya. Juga tentang suaminya yang mengidap penyakit HIV. “Manami died. But it was no accident. She was killed by students from this class.”

Setidaknya selama beberapa belas menit pertama, saya dibiarkan menarik nafas perlahan, mengikuti narasi Moriguchi sensei yang datar mengenai pembunuhan anaknya. Hingga dia menyatakan bahwa, dia tahu siapa pelaku pembunuhan putrinya. Dia tak menyebut nama, dia hanya menyebut mereka, si A dan si B (yang tentu saja semua murid langsung tahu mereka siapa walau tidak menyebut nama). “I want to kill this little brat….. That was the only thought that ran through my head.” Moriguchi menahan dendamnya dengan wajah datar, dan nada enteng. Dia sadar, dia tidak bisa menuntut pembunuh putrinya karena adanya juvenile law yang melindungi remaja dibawah usia 14 tahun, di mana mereka tidak bisa dihukum atas perbuatannya.

I itend to make the two of them realise the severity of their crimes… and come to appreciate the importance of life. I want them to live, each day… bearing the weight of their crimes. I mixed a little something… into the cartoons of milk the two of them were drinking. The HIV-contamined blood of my husband.

Dan di sinilah cerita dimulai. Perjalanan bagaimana si A dan si B setelah kepergian Moriguchi sensei dan sikap teman teman sekelasnya. Jika di awal semua diceritakan melalui Moriguchi sensei point of view, maka selama satu jam selanjutnya, pembagian narasi digantikan oleh banyak pihak, dari sudut pandang teman sekelas, si A, si B, bahkan orang tua B.

Yet.. I’m still alive.

Kohaku adalah film yang sangat depresif. Dan punya alur yang tidak bisa saya duga. Karena dilihat dari banyak sudut pandang banyak orang, satu hal yang sama bisa menjadi berbeda, ada banyak twist yang membuat saya baru berusaha melepaskan nafas yang saya tahan untuk kembali menahan nafas lagi. Buat saya menyenangkan, karena jarang saya bergidik menonton film jepang, terakhir yang saya ingat saya merinding menonton film adalah dokumenter One Day in September tentang Munich Massacre.

Bagaimana saya menggambarkan Kohaku? Saya merasa ini film yang sepi dan depresif, tapi bisa dinikmati tanpa menangis. Alurnya terasa pelan namun cepat, membuat saya terhanyut. Kohaku juga bukan sebuah film yang saya ingin pause untuk ke kamar mandi. Apakah film ini berakhir bahagia? Atau berakhir sedih? Semua lagi lagi kembali dari sudut pandang siapa. Yang jelas, film ini menyisakan satu pertanyaan kecil saja,

Is life a heavy burden to bear?