Yang Langit Malam

Seharusnya kamu membiarkanku mencintai orang lain selain kamu.

Sehingga aku tidak mempertanyakan mengapa kamu membuatku menangis? Mengapa kamu tak menemuiku untuk terakhir kalinya? Mengapa kamu bermain, menarik, mengulur, hatiku yang hanya satu satunya?

Padahal kamu selalu tahu, aku mampu menarik bintang dari langit malam dan menaruhnya di kakimu.

Padahal kamu selalu tahu, cintaku tak pernah melepaskanmu.

Karena, sama seperti langit malam yang luar biasa luas, hanya ada satu bulan di sana. Hanya ada kamu.

Yang Cinta 2

Pengakuanku :

Ketika aku membuka mataku pagi ini, aku berharap melihatmu. Menjadi orang yang membangunkan tidur panjangku.

Berdiri di dekatmu, membuatku menjadi bodoh. Aku tak mampu berucap, bernafas saja berat.

Rambutmu. Jarimu. Bahkan bibirmu yang menguntai senyum menyilaukan. Dirimu yang tak tergantikan. Aku jatuh, terlalu dalam pada gerakanmu, tatapan matamu, tawamu, bahkan caramu bicara, sedikit banyak mampu merubah hidupku.

Saat ini, mungkin dengan pikiran gilaku, aku akan menemui di sana. Memaksa mencuri hatimu. Dan semua kemungkinan dan pilihan berputar putar dikepalaku. Detak jantungku yang menggila, dan pernyataan cinta yang nyaris keluar ditenggorokan ini.

Tatapanmu, caramu bicara, bahkan lagu favoritmu. Semua tentangmu mendadak membuatku tertarik. Kelemahanmu, rasa sakitmu, dan kesedihanmu, menjadi obsesiku. Aku ingin kamu membaginya denganku.

Dan aku menjadi bodoh. Karena aku tau, aku tak kan berani menyatakan ini semua padamu. Tak ada kesempatan, tak ada harapan. Aku masih mencari keberanian kapan aku bisa berhadapan denganmu. Lalu menatap wajahmu lekat. Lalu tanganku menyentuh tanganmu. Dan rasa panas merambat dari kaki hingga wajahku. Dan tak perlu menyatakan apapun. Lalu kamu memahaminya.

Tapi tak akan mungkin terjadi, kecuali dalam mimpi. Yang aku berharap tak akan terbangun.

Hatiku sakit, kepalaku kosong, badanku kering. Aku haus. Aku lelah. Aku mabuk.

Yang Obsesi

Kamu kamu kamu.

Obsesi ku tentang kamu ga pernah habis. Dulu sekali, dulu, kemarin, saat ini.

Kamu kamu kamu.

Seakan namamu itu sudah di bookmark di mata, telinga dan indra perabaku. Selalu ada berita tentang kamu simpang siur di otakku. Dan kenangan kenangan yang terus berputar sebagai rem obsesiku tentang kamu.

“Bukankah kita hanya saling membohongi diri sendiri ketika kita bersama? Sudah lah, mari mencari jalan kita sendiri.”

Aku berbelok, lurus, berputar, jumpalitan, tetap saja jalan ku sendiri selalu ada kamu. Aku terobsesi, dan mulai berlebihan tentang kamu. Bahkan ketika si pacar bilang “I’m so much better than him” ataupun “Ih, bahkan dia tidak masuk kategori gantengku tauk!” Gak ada yang bisa menghentikan obsesiku tentang kamu.

Kamu kamu kamu.

Aku, di sini, mendukung kamu atas keputusan apapun yang kamu buat dan ceritakan pada dunia. Aku, di sini, ikut bahagia atas apa yang kamu capai. Aku, di sini, terkesiap lalu tersenyum dengan ekspresi bahagiamu. Walau bukan untukku. Walau bukan tentangku.

Kamu kamu kamu.

Obsesiku tentang kamu, bukan karena penampilan luarmu. Bukan karena tampangmu. Bukan karena hartamu. Maka tak ada yang bisa paham kenapa aku mengobsesikanmu.

Kamu kamu kamu.

Sudah mencuri hatiku.

Yang Terhempas

Ada kenyataan kenyataan yang tak bisa diubah.

Mungkin waktu mampu, tapi aku terburu buru.
Aku memupuk apa yang tak perlu di rawat.

Duri, Racun, Kejahatan dalam hati yang akhirnya menggelapkan mataku.

Pada akhirnya yang menjadi lawan dalam perang ku bukan lah dia, atau kamu.
Tapi perasaanku.

Yang memang seharusnya dimatikan saja.
Yang seharusnya aku menyerah saja,
dan tidak merawatnya,
dan tidak menikmatinya.

Terbang,
tanpa persiapan,
terhempas,
jatuh.
Pada akhirnya hanya diriku yang akan remuk redam tinggal serpihan.

Pada akhirnya aku harus berkawan dengan waktu,
menunggu,
tersikut,
terbakar,
tapi tetap diam,
membiarkan dia bersamamu.
Toh aku bukan siapa siapa mu.

Sama seperti lingga lingga sebelumnya.
Seharusnya aku menganggapmu,
bagian dari petualangan yoni yang kesepian.

Yang Masa Lalu

Aku akan bertemu masa lalu
sang kesedihan.
Yang tanpa pemberitahuan memberiku pesan :
“aku ke jogja, Jumat. Aku ingin cium kamu”

bergetar, terenyuh, suram, kesedihan.
Tak ada yang bisa kuingat dari dirimu, selain, 2 bisikan berat terakhirmu di telingaku
“Aku menginginkanmu, sangat” dan “Kalau kamu tak mau meninggalkanku, aku yang akan pergi dari kehidupanmu”

Dan lalu kau menghilang, membuat ku limbung di tengah jalan.
Dan kini kau seenaknya pulang,
hatiku menjerit, nafsu, rindu, hangatnya pelukmu, kenangan, dan kembali kesedihan.
“Aku pun menginginkanmu, sangat”

tapi jariku tidak menulis itu, jariku memaki “Aku membencimu, sangat”
sebesar aku menginginkanmu…

Dan jumat, aku akan bertemu masa lalu,
sang kesedihan,
yang entah telah bermetamorfosa menjadi apa.

Yang simple

Mengapa kamu membuat hal” yang simpel terdengar sulit di pahami?

Bukankah sudah tak kan ada lagi cerita tentang kita, lalu mengapa tak bisa kembali ke awal sebagai orang yang tidak merasakan apa”.

Bukan kah kau tak memiliki rasa lagi? Dan bukan kah aku sudah bilang, cinta hanyalah masalah pemikiran, Dan aku telah mematikan perasaan itu.

Lalu mengapa aku tak bisa kembali ke awal, sebagai seorang yang tidak merasakan apa”?

Dan kenapa yang kau pedulikan selama ini hanya rasa kekecewaanmu tanpa berpikir mungkinkah aku juga kecewa? Ah, kau takkan peduli.

This whole thing, is simple thing but you’ve made it sound so hard. Why don’t you keep it simple back?