Yang Terlalu Banyak

Saya selalu merasa kekurangan sepatu, entah sepatu flat saya terlalu sedikit, high heels saya cuma satu, atau sandal jepit yang manis buat jalan-jalan juga kurang karena yang ada di rumah cuma sandal jepit jelek. Lalu ketika saya pulang dari pusat perbelanjaan menenteng sepatu atau sandal yang saya pikir kurang, saya jadi kaget ternyata ada lebih dari dua lusin pasang sepatu yang masih bagus di rak dan beberapa belas lagi yang memang agak kumal tapi masih layak pakai.

Pernah gak sih mengalami kayak gini?

Entah kenapa, kita akan selalu merasa kekurangan.Ya kurang sepatu, kurang baju, kurang waktu luang, sampe kurang kerjaan. Adaaaaaaa aja yang bakalan bikin kita pengen lagi, lagi, lagi dan lagi, padahal kita sebenernya udah kelebihan. Seorang teman beneran ngerasa kurang kerjaan, lalu ngambil proyek di sini dan di sana sampai akhirnya keteteran sendiri.

Mungkin gitu juga ketika kita merasa kurang dimengerti atau dicintai pasangan.

Mungkin kita butuh untuk mundur sejenak, berhenti, dan melihat, apakah perasaan kurang ini bener-bener karena kita kekurangan, atau hanya nafsu keserakahan kita semata untuk ingin dimengerti dan dicintai. Berhenti sejenak itu tidak menakutkan, kok. Mendengarkan suara hati kita sendiri dan merasakan apa yang sebenernya kita rasakan itu nggak akan membuat dunia kayang atau kebalik begitu saja dan kita jadi ketinggalan macem-macem.

Advertisements

Yang Panti Asuhan

Saya selalu memuji orang yang memilih untuk mengaborsi anak yang tidak pernah dia inginkan. Serius. Skip that morality thing-y. Apa bedanya mereka yang memilih melahirkan anaknya tapi nggak merawat dengan yang mengaborsinya?

Saya ga pernah pengen punya anak, bukan karena ga suka anak kecil, tapi karena saya merasa saya masih egois dan tidak ingin membagi waktu saya untuk seorang anak yang apalagi tiap tindak tanduknya jadi batas penilaian orang lain buat saya. Emoh. Nyusahin. Saya malah heran sama mereka yang pengen punya anak hanya karena itu target hidup mereka, bukan karena ingin atau malah bukan karena mereka mampu jadi orang tua.

Setiap dari kita pada saat kecil sering kan merasa minder, feeling like shit and better to die rather than staying alive. Saya selalu takut kalo saya jadi orang tua, saya malah bikin anak saya berpikir seperti itu pada dirinya sendiri. Serius, dibenci diri sendiri itu ga enak, pake banget. Apalagi kalo dibencinya karena nggak mampu memenuhi ekspektasi orang lain. Udah menyedihkan, menyakitkan pula. Udah gitu, capek pula kalo ngejar ngejar kepuasan dari orang lain. Sementara orang tuanya sendiri melahirkan anak juga cuma buat muasin ekspektasi orang lain biar ga dicap mandul atau yang lainnya.

Tapi saya selalu pengen punya panti asuhan. Saya pengen mungut, adopsi, merawat anak-anak yang dilahirkan sama mereka yang lebih malu dicap sebagai pembunuh tapi tetap nggak mau bertanggung jawab sama kenikmatan bikin nya itu. Saya pengen membesarkan mereka supaya mereka bisa jadi bangga sama diri mereka sendiri walau mereka nggak punya orang tua. Saya pengeeeeeeeeeeeeen banget bikin mereka berterimakasih sama orang tua yang membuang mereka. Iya, berterimakasih. Dengan kepala tegak dan senyum sumringah mereka bisa dengan mantap bilang “Thank you mom, dad, for leaving me. I might never be this awesome if you take and raise me. Seriously. Thank you for never made me had a chance to feel like shit.”

Yang Dimengerti

Ketika semua orang bertanya, apa yang membuat saya begitu setia dengan majikan saya sekarang, saya hanya bisa menjawab, “karena dia mengerti.”

Saya selalu membawa ratusan juta energi positif yang saya kumpulkan dan ingin saya bagi dengan orang lain agar, setidaknya, mereka bertambah bahagia. Majikan saya lalu menghentikan tangan saya dan berkata, “orang yang paling ingin membahagiakan semua orang itu orang yang paling kesepian di dunia ini, chor.” Sambil menatap lembut, bukan kasihan, bukan marah, bukan juga memaksa. Mungkin hati kecil saya yang paling melonjak bahagia karena, suara pikiran buruk saya yang sebenarnya muncul keluar. Walau tak pernah sekalipun saya meminta pamrih, pasti ada sedikit, setidaknya, perasaan bahwa, saya pun ingin orang lain memberikan energi positif mereka kepada saya. Namun, pertanyaan yang selalu muncul ketika keinginan egois itu muncul, “apakah saya kurang bahagia?” dan selalu menahan semuanya.

Majikan saya tidak pernah hanya mendengarkan segala keluh kesah saya, dia mengerti betapa otak saya kelaparan akan rasionalitas walau sering ditutupi oleh yang namanya emosi sesaat. Semua hal yang saya ceritakan secara emosional selalu mendapatkan makanan rasionalitas yang tercukupi, dan membuat saya belajar bagaimana caranya memahami apa yang saya butuhkan. “Semua yang menurut kamu mengganggu dari orang lain itu menunjukkan jalan untuk memahami dirimusendiri, chor. Dan bagaimana menghandle reaksi dan interaksi pada kemudiannya.”

Majikan saya pula lah yang mengajari bahwa selalu ada penjelasan dalam semua hal, termasuk hal-hal yang tidak bisa saya mengerti. Dan mengajari saya menghadapi ke-takmampu-an tanpa berusaha mengobati ataupun memberikan saran, bahkan tanpa bertanya alasan ke-takmampu-an saya itu. Juga majikan saya lah yang mengajari bahwa keistimewaaan hidup adalah, menjadi diri saya sendiri, karena manusia akan melakukan hal-hal, tak peduli seabsurd apapun, untuk menutup telinganya dari apa yang nurani mereka inginkan.

Maka ya, saya memilih setia pada majikan saya, karena majikan saya yang mampu mengubah hidup saya hanya dengan kemampuannya mendengarkan, tersenyum, pujiannya yang jujur dan juga tindakan kecilnya, yang memang benar-benar dilakukan karena dia peduli, dengan tulus. Karena majikan saya mampu mengerti saya, sesederhana itu, tanpa harus menunjukkan bahwa dia selalu ada untuk saya dan akan menyetujui ataupun mendukung semua yang saya lakukan.

Karena memang, mengerti orang lain tidak sama dengan selalu ada untuk dia, selalu mendengarkan dia, selalu berkata manis untuk dia, selalu menunjukkan atau memberikan yang terbaik untuk dia, atau pun selalu berusaha memperbaiki dia.

Yang Sanubari Jakarta

Adalah teman-teman dari @SaveDiversity yang membuat acara screening “Sanubari Jakarta” di Yogya, Jum’at malam kemarin. Roadshow Sanubari Jakarta sendiri juga sekaligus sebagai bagian dari kampanye IDAHO (International Day Against Homophobia dan Transphobia).

Sanubari Jakarta adalah omnibus film indie dengan sepuluh cerita yang berbeda dari sepuluh sutradara yang juga berbeda namun mengangkat satu tema yang sama, LGBT. Film yang diproduseri oleh Lola Amaria ini dikerjakan dengan gerilya dan butuh waktu kurang lebih setahun untuk selesai, dengan aktor dan aktris yang rela untuk tidak dibayar. Mengumpulkan dan mengatur sepuluh sutradara dengan sepuluh cerita dan sepuluh ego berbeda merupakan tantangan paling besar dalam film ini.

Sinopsisnya,

Yang Metamorfosa

“Apakah metamorfosa setiap perjalanan manusia selalu ke arah yang lebih baik?”

Mungkin jika kita tidak bertemu tanpa sengaja di alun-alun utara karena sama-sama dirundung kebosanan, pembicaran setengah menarik ini tidak akan terjadi. Ah, setengah menarik, karena setengah pikiranku terfokus untuk hal lain yang aku pikir harus segera diselesaikan.

“Mungkin itu tergantung, jawaban seperti apa yang kamu butuhkan. Bukan, maksudku, yang kamu inginkan.” Aku mengambil recehan untuk membeli kembang gula yang tak begitu kusuka, sederhana, hanya karena warnanya menarik mata. “Apa justifikasi untuk baik dan tidak?”

Kamu menendang-nendang kerikil sambil masih menutup mulutmu. Pikiranku juga sudah mulai tak fokus, aku menggigiti kembang gula itu sambil menatap kerjapan lampu, sambil berimajinasi bagaimana jika lampu-lampu ini bergerak hidup lalu seperti sirkus, gegap gempita memberikan tawa. Ah, memang sudah jadi kebiasaan burukku tak mampu mengontrol kepalaku untuk tidak berpikir terstruktur dan fokus pada satu hal.

“Aku menyebutnya imajinatif,” kataku tiba-tiba, membuatmu menengok dengan wajah bingung. “Tapi mereka bilang aku tak mampu berkomitmen. Lantas bagaimana aku tahu buruk atau tidaknya? Ketika aku yang beberapa tahun lalu mengikuti aturan dan tidak punya inisiatif. Aku berubah, ke arah yang lebih baik atau tidak, aku tidak pernah tahu.”

Kamu mengangguk-angguk paham, “ah, karena ada banyak cara untuk melihat sesuatu, seperti Xenophanes, yang lalu membedakan kebenaran, kepercayaan dan pengetahuan.” Sekarang gantian aku yang heran apa hubungannya penyair itu dengan metamorfosa?

“Perubahan manusia! Xenophanes berkata walau manusia didesain untuk berkembang dalam kehidupan, tak ada juga fragmen manusia yang bertahan yang menunjukkan adanya optimisme bahwa kita akan berkembang menjadi lebih baik!” Tiba-tiba semangatmu yang biasanya muncul, ah, kamu memang selalu berapi-api tiap membahas filosofi.

“Opini, itu tak pernah stabil, dengan persuasi yang tepat sebuah opini buruk bisa hilang, dan juga memang tidak semua pendapat, bahkan yang terasa begitu kuat harus kita ikuti! Let these things be believed as like the realities! ”

Aku termenung sejenak, ya, sebuah opini buruk bisa hilang dengan persuasi yang tepat, atau manipulasi. “Warm your friends, but don’t burn them. “Aku sepertinya harus belajar mengontrol kapan pikiran tidak keluar dari mulut secara tiba-tiba dan membuat orang bingung. “Satu hal memang punya banyak sisi dan kita bisa berubah sikap ketika mendengar sisi yang lain, seperti ‘takut komitmen’, aku bisa melihatnya sebagai ‘pecinta kebebasan’, atau ketika aku melihat kamu ‘tidak realistis’ kamu menganggap dirimu ‘optimis’. Sesederhana itulah kesalahpahaman terjadi, aku pikir. Ketika pada akhirnya kita memilih untuk percaya apa yang kita ingin percaya.”

Lalu kita sama-sama terdiam, atau mungkin tersadar, bahwa opini dalam kepala kita sendiri masih membuat kita menghakimi orang-orang lain dan berkata ‘kamu berubah! Jadi gak asik!’ dan kita di sini berbicara tentang perubahan manusia dan opini yang menghakimi, seolah-olah kita sudah punya opini yang objektif.

Yang Nisan

Lima tahun tujuh bulan dua minggu lalu seharusnya aku ada di sini, Ri.

Aku terdiam di depan nisanmu. Mengais-ngais memori tentang kamu yang masih hidup dalam kepalaku.

Berjanjilah untuk bahagia, Fu.” kata-kata terakhir darimu yang sudah terdistorsi dengan suara-suara pria lain yang sudah berganti mengisi hatiku. Hanya penekanan kata “Fu” yang aku yakin pasti suaramu, karena hanya kamu yang bisa dan kuijinkan memanggilku begitu. Mungkin juga karena aku tak ingin kehilangan lagi memento tentang kamu.

Aku masih juga tak paham, apa yang harus kulakukan untuk berbahagia.

Siang ini terik, tapi tak terasa. Aku menatap nisanmu, diam. Tak ada emosi yang bergejolak dalam tubuhku. Apakah aku mulai melupakanmu, Ri? Atau karena aku sudah berhenti berpikir bahwa kematian itu mengerikan?

Aku tak tahu telah berapa lama aku berdiri di depan nisanmu. Sampai akhirnya peluh yang menetes di pipi, siang semakin terik. Masih dengan sejuta pertanyaan, apakah kamu juga berbahagia di sana, Ri, dan juga sejuta kemungkinan yang terjadi jika kamu masih ada. Jika kamu masih hidup. Jika aku dan kamu masih seperti yang dulu.

Karena ketika aku berada di sini, aku merasa seperti orang bodoh, dengan apa yang kujalani saat ini.

Apa artinya aku gagal memenuhi janjiku untuk berbahagia, Ri?

Kakiku akhirnya melangkah, menyerah dengan dingin di dalam dada yang semakin menjalar. Mungkin seharusnya aku berada di sini dua ribu lima puluh tiga hari lalu. Mungkin saat itu aku bisa menangis melepaskan semuanya, tidak membiarkan perasaan itu berputar putar lalu kemudian menjadi karat selama lima tahun tujuh bulan dan dua minggu ini.

Atau mungkin sebetulnya kesedihanku padamu memang sudah menguap?

Atau karena akhirnya aku bisa bersahabat dengan kehidupan?

Dan jika akhirnya kamu tak berada di sana, apakah aku akan menjalani dan bertemu orang-orang yang kuanggap luar biasa setelah kamu?

Yang mengajariku bagaimana memaafkan diri sendiri, yang mengajariku untuk percaya,

dan mengajariku bahwa kematian itu memang indah.

karena kita dipaksa untuk rela dan tidak lagi mengejar kemungkinan.