Yang Hanamaru Youchien

Siapa yang tidak tahu GAINAX? Studio anime yang terkenal dengan Neon Genesis Evangelionnya, Mahoromatic, FLCL dan Kareshi Kanojo no Jijou, anime yang berbau “dewasa” (dalam artian tema yang berat dan mungkin sedikit ecchi). Makanya agak mengejutkan ketika GAINAX menjadi studio anime baru winter season 2010 ini. Hanamaru Youchien.

Hanamaru Youchien atau Golden Flower Kindergarten bercerita tentang kehidupan anak anak TK yang berpusat pada 3 orang saja; Anzu-chan yang genkiko, sok udah gede dan jatuh cinta pada guru TK nya, Koume-chan yang putri banget, nangisan, paling imut, Hii-chan yang cool dan pinter. Cerita tentang kehidupan sehari hari, namun di bungkus dengan kelucuan anak anak dan keimutan bocah bocah TK yang masih polos ini.

Manga (komik) nya sendiri baru ada 7 tankoubon (jilid), diterbitkan sejak April 2007 dan jilid ke 7 pada Desember 2009 lalu. Animenya masih on going sejak 10 Januari 2010 lalu dan episode 4 pada 31 Januari 2010 ini. Banyak teman saya dan saya terutama, sedikit curiga dan tidak percaya bahwa GAINAX akan membuat anime yang… bisa dibilang… tidak sesuai image nya.

Tapi tapi tapi, setelah menonton anime ini… Whoa! Nosebleed dimana mana. Anime ini lolita banget! Dengan bocah bocah yang lebih mirip cacing kremi *eh ini kata temen saya :mrgreen: * dan lincah, dan bener bener polos. Dan imuuuuuuuuuutttttttttttttttttttttttttttttt *ga tahan untuk ga gemes di anime ini*

Anime ini menurut saya, ngga hanya di tujukan buat anak kecil (karena latarnya anak TK ga berarti anime ini khusus anak kecil loh ;) ) ada banyak kisah realistis yang tetep di tampilkan dengan isu isu berat seperti siswi SMA yang sudah menikah dan hamil, cinta terlarang guru-murid yang ditampilkan dengan manis. DAN IMUUUUTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT *aaarrrgghhh nosebleed lagi*

Dan sepanjang 4 episode yang saya tonton *oh yes! must watch anime!!* anime ini belum berubah twisting episodes atau ber loli-ecchi seperti kodomo no jikan atau komedi slapstick seperti crayon shinchan. Menurut gosip nya, jika GAINAX tidak berserk ditengah tengah maka anime yang di prediksi sepanjang 12 episode ini hanya akan bercerita tentang kehidupan sehari hari anak TK. Anime ini bukan anime berat penuh filosofi seperti anime anime GAINAX yang lain, cukup ringan sebagai pelepas stress dan menikmati adek adek imut berlarian di sini. :mrgreen:

4 comments Februari 5, 2010

Yang Sulih Suara

Saya gak sengaja nonton K-now di K Channel, lagi ngebahas kerjaan dubber di Filipina, walaupun pakai bahasa tagalog, saya menangkap ada beberapa bahasa inggrisnya, “Everybody has talent to be voice artist”. Saya sedih dan senang sih nontonnya, soalnya mereka terlihat mencintai pekerjaan mereka dan di apresiasi banget. Tapi jadi sedih, karena di Indonesia sekarang pekerjaan dubber itu ngga dianggap amat. Padahal dulu ketikan tahun 90 an banyak banget film kartun, telenovela ataupun film barat yang menggunakan dubber. Tapi kalo sekarang…

Saya kemarin sempet ngobrol ngobrol sama teman teman kuliah. Betapa kasihannya anak anak jam sekarang yang tidak bisa menikmati yang namanya kartun minggu pagi, dulu sampai ada jadwal khusus, dari awal yaitu disney cartoon (jam 6 pagi di indosiar) lalu dilanjutkan dengan saint seiya atau btx, doraemon, digimon, dragon ball, chibi maruko chan, waaahh banyaaakk.. Belum lagi anime dan kartun sore seperti fushiigi yugi (judul indonesianya apa ya?), Card Captor Sakura, cartoon network di an tv (dulu belum ada global, lalu dilanjutkan ke global) kartun kartun di TV 7 (sebelum masuk trans corp) hiks…

Anyhow, ngga banyak situs tentang dubber Indonesia, saya cuma nemu satu ini aja. Dan itu pun banyak bug nya :(

Kalo ga salah ada beberapa dubber yang nyantol di kepala saya :

1. Adang Sudarto : Minami Kotaro – Kamen Rider Black & Kamen Rider Black RX (Judul Indonesia: Ksatria Baja Hitam & Ksatria Baja Hitam RX). Cygnus Hyoga – Saint saiya.

2. Sherly Malinda : Candies White Audrey -  Candy Candy. Usagi Tsukino – Sailor Moon.

3. M. Romli : Himura Kenshin- Rurouni Kenshin (Judul Indonesia: Samurai X). Dao Ming Tsi – Meteor Garden.

4. Hanna Bahagiana:  Hyuga Kojirou – Captain Tsubasa. Luffy – One Piece, Mi – Cyborg Kuro-Chan

5. Ony Syahrial : Li Syaoran – Card Captor Sakura. Shinchan – Crayon Shinchan. Ikyuu – Ikyuu san.

Ony Syahrial adalah dubber paling top jaman saya, dan menurut gosip, dia bahkan di berangkatkan ke jepang untuk jadi dubber shinchan, hihi, ntah gosip drmana, tp ada satu lagi selain Oni Syahrial yang menurut saya keren

6. Achmad Dzulkifli Lubis :  Conan – Detective Conan, Bezita – Dragon Ball Z, Ali – Pokemon, Mamoru Chiba – Sailor Moon, Hemu Hemu – Ninja Rantaro.

:( jadi sedih.. dorama sekarang sedikit, telenovela nyaris ngga ada, kartun menipis.. gimana nasib para dubber sekarang ya :(

8 comments Februari 1, 2010

Yang Gamer

Ada dua alasan kenapa saya ngebet pengen nonton Gamer. Pertama Gerard Butler yang bikin jatuh cinta di 300, P.S I  Love You dan The Ugly Truth dengan lengan gedenya, yang kedua adalah Michael C. Hall yang bikin kesengsem di serial Dexter.

Gamer sendiri bercerita tentang masa depan ketika orang orang tidak hidup untuk bermain, tapi bermain game untuk hidup.

Gamer di buka oleh suara Marilyn Manson dengan lagu Sweet Dream dan berbagai poster Kable Killer di berbagai negara. Lalu scene tembak tembakan ala game counter strike. Dan sesuai judulnya, orang orang yang bertembak tembakan di sana, dikendalikan oleh player. Nama game itu, SLAYERS

SLAYERS adalah game kedua keluaran Ken Castle setelah SOCIETY. Berbeda dengan SLAYERS, SOCIETY adalah game simulasi dimana kita bisa mengontrol, bukan hanya animasi, tapi manusia sungguhan. Karakter karakter di SOCIETY bisa dijalankan, atau dibuat bicara, bahkan disuruh bercinta. Dan tenang saja, orang orang yang ‘dimainkan’ di society dibayar pantas.

Sedangkan game SLAYERS yang dikontrol adalah para napi dengan hukuman mati yang diharuskan menyelesaikan 30 level battle dan jika sukses, hukuman matinya akan dihapuskan. Seluruh penghasilan game ini menjadi dana utama penjara penjara se amerika dan didukung oleh pemerintahan. Selain playable character, di dalam SLAYER juga ada non-playable character sebagai slayers, yang jika berhasil bertahan selama 1 level saja, maka mereka dibebaskan. Non Playable character ini tidak di control oleh manusia lainnya tapi dipasangi nanex, nano-cortex semacam mikroba kecil yang bisa “memformat” otak, sehingga si orang yang menjadi slayer ini tidak memiliki free-will.

Kable killer sendiri adalah icon / nickname seorang player pada manusia yang bernama asli Tillman yang telah sukses bermain hingga 27 level. Padahal sepanjang sejarah SLAYER, belum ada karakter yang mampu melewati level 10 tanpa pecah kepalanya. Kable killer menjadi legenda dan banyak ditawar hingga 100 juta euro.

Film sepanjang 86 menit ini sejak awal memberikan ketegangan dan kesadisan intens dengan bom, rudal, tembakan, daran dan potongan tubuh manusia. Tapi bayangkan, setelah satu jam penuh diganjar ketegangan dan keseruan, klimaksnya dipersingkat dalam waktu 10 menit saja dengan ending yang tidak jelas, tidak tegang dan tidak sesadis cerita awalnya. Endingnya justru tidak memuaskan, ketika Kable bertemu ultimate boss, alias Ken Castle, fightingnya benar benar seperti melihat dua kucing cakar cakaran.

Kecewa saya, apalagi nafsu untuk melihat Michael C. Hall bermain licik tidak terpuaskan. Padahal plot cerita gamer cukup unik dan bisa di gali supaya lebih menarik, tapi mungkin sang sutradara (yang ternyata sutradaranya crank) mungkin hanya ingin menegaskan kesadisan film ini saja.

2 comments Januari 27, 2010

Yang Marathon Pempek

Setelah marathon Ramen minggu lalu, sekali lagi, pasangan alle dan hermansaksono mengadakan marathon makanan lagi. Minggu ini temanya adalah, pempek. Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan “apek”, yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina. (wikipedia)

Misi penggemukan minggu ini diikuti dengan lebih banyak pemakan inti, yaitu saya, memethmeong dan funkshit, dengan additional player perikecil dan bintang tamu bang kristupa. Sedangkan hermansaksono bertugas sebagai juru potret dan alle sebagai perias. Kami berangkat semenjak jam 3 kurang sedikit dan berakhir pukul setengah delapan dan berhasli mencicipi lima tempat dengan menu utama pempek kapal selam dan tekwan.

Sudah siap?

11 comments Januari 26, 2010

Yang Rumah Dara

Saya yang terlanjur jatuh cinta pada film pendek “Dara” pada film “Takut” merasa sayang untuk melewatkan diri menonton film “Rumah Dara”. Rumah Dara(h) bukan lah sambungan dari film Dara, beda cerita, beda korban, satu Dara.

Cerita di buka dengan enam orang bersahabat, yang sayangnya hanya tiga orang saja yang dijelaskan tokohnya. Ladya (Julie Estelle), adik dari Adjie (Ario Bayu) yang membenci Adjie karena merasa Adjie yang membunuh orang tua mereka, dan istri Adjie yang sedang hamil delapan bulan, Astrid (Sigi Wimala).

Sisanya, yang tiga lagi, saya cuma inget Jimi (Daniel Manantha) pria yang (kayaknya) naksir sama Ladya, Eko (Dendi Subangil) yang playboy (dan main di film Dara) serta Alam (yang dulu main di Dara juga, tapi namanya Adjie).

Anyhow, 20 menit pertama kita bener bener dibawa tenang, ibarat roller coaster, masih di bawah, masih nunggu orang orang pada naik dan mengencangkan ikat pinggang. Adjie dan Astrid akan pergi ke australia (kurang inget kalo sisanya) mereka sedang dalam perjalanan dari sebuah pub di Bandung, menjemput Ladya dan membujuknya untuk mengantarkan Adjie dan Astrid.

Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang gadis cantik namun misterius yang mengaku kerampokan. Ia mengenalkan dirinya sebagai Maya (Imelda Therinne), Eko yang keganjenan langsung blingsatan menawarkan untuk mengantar dia. Sampai di rumahnya, dikenalkanlah dia pada ibunya, ibu DARA (Shareefa Danish), kakaknya Adam (Arifin Putra) dan Armand (Ruly Lubis)

Di sinilah puncak Roller Coaster berhenti, dan bersiap meluncur turun tanpa pemberhentian untuk bernafas dari ketegangan. Dimulai dari obat tidur dalam masakan, satu per satu nyawa mereka di cabut dengan sadis.

Saya paham, The Mo Brothers mungkin ingin menguatkan karakter Dara dengan membuatnya bersuara lebih berat. Tapi menurut saya, Dara tidak lagi menjadi misterius-sadis-tapi-elegan seperti film Dara. Dara dalam film Rumah Dara hanya menjadi sosok misterius-sadis-tapi-kaku. Namun karakter Dara cukup melunak sih, ketika dia mendapati Maya mati (walaupun masih di hitung sadis juga untuk takaran manusia normal :) ) ) dan menunjukkan sisi keibuannya dengan berkata “Adam, bawa kepala mereka!” (yaya, dimana keibuannya??)

Beberapa pilihan kata sedikit tidak konsisten dengan karakter keluarga pembunuh ini, pada awal mereka selalu menggunakan kata baku, namun beberapa kali keceplosan menggunakan bahasa informal. Padahal di film Dara, cara bicara Dara biasa saja namun tetap bernuansa elegan.

Selain itu, pembunuhan yang di lakukan mereka hanya sadis dan cepat. Bukan lambat lambat dan menyakitkan, maka mereka mulai menambahkan tokoh tokoh figuran tidak penting tanpa di perkenalkan hanya untuk datang dan di bunuh. Eko sempat kabur dari Rumah Dara dan bertemu satuan polisi. Saya hanya ingat “bos”nya (atau mungkin atasannya) mengenalkan diri sebagai Syarif. Dan sisanya hanya kesatuan. Itupun hanya satu yang mengenal kan diri, Soni, sebagai bentuk flirting pada Maya. Belum lagi kedatangan Aming yang sebetulnya ga di butuhkan, jika hanya ingin melucu.

Lalu, luka kuping Eko yang sempat terkena crossbow pindah posisi (atau hanya perasaan saya saja?) dan cara Dara mencari alasan “siapakah eko” ketika di interograsi polisi, “anak jakarta yang kos di salah satu kamar di sini.” saya langsung, “heh?? ngekos?? in the middle of no where gini?? kok polisinya percaya ya :) )”

Anyhow, Rumah Dara adalah cannibalism-gore-slasher klasik, penuh darah, dan tetap bernuansa Indonesia dengan bumbu mistik nya (bukan penampakan hantu) dan sukses bikin satu bioskop menjerit ketakutan serta bikin beberapa orang yang tidak cukup kuat melihat darah pergi dalam satu jam pertama.

And because it is a gore film, what do we expect from it except blood?

10 comments Januari 22, 2010

Previous Posts


Yang mites terakhir :

Yang dulu dulu :

Yang baru baru :

Yang kategori :

Yang udah di pites :

Yang anggota dari :

Yang lagi di rasain :


feel like I want to kill someone

Yang di kutip hari ini :

“The tongue like a sharp knife... Kills without drawing blood.” Gautama Siddharta

Yang saya juga :

Yang Twitter :