Yang Pulang

“Sudah dua bulanan ndak pulang aku, emoh ketemu bapak. Tiap pulang pasti berantem, aku tuh bukan anak seperti bayangan bapak, aku wis menemukan jati diriku sendiri.”

“Ya pulanglah, cerita lah ke bapakmu, tentang jati dirimu yang kamu temukan dan bagaimana kamu mau menjalani hidupmu.”

“Yo ndak bisa, bapak kan atos. Mana mau ndengerin aku, belum apa-apa, aku wis dicap kafir dan ikut pergaulan njakarta. Lagian bapak selalu lari dari masalah, ndak pernah ada tuh yang selesai. Kalo bapak bilang A ya A, sisanya ya karena aku durhaka.”

“Yang melarikan diri itu bapak, atau kamu yang gak mau membiarkan bapak mengerti kamu? Kalo belum masuk aja, pintumu udah dibanting di mukanya, bapakmu ya memilih pergi.”

Yang Mempermainkan Tuhan

Mereka bilang kita mempermainkan tuhan,

ketika kamu dengan menandai salib ke dadamu lalu bertakbir. dan ketika aku membasuh wajahku sambil berucap, “amin amin ya rabbal ‘alamin” setelah selesai menyelesaikan novena tiga salam maria.

Mereka bilang kita mempermainkan tuhan,

ketika aku berdzikir doa bapa kami selepas salat magrib, dan kamu mengucapkan syahadat setelah kamu menyelesaikan sakramen ekaristimu.

Mereka bilang kita mempermainkan tuhan,

maka jilbabku boleh dijambak dan dilempar ke luar katedral sebelah masjid tempatmu terusir dari tausiyah romadhon tahun ini karena rosario di pergelangan tanganmu.

Mungkin manusia lebih perkasa ketimbang agama dalam menghakimi umatnya,

 

sementara kita hanya berusaha menyogok tuhan dengan doa agar diijinkan bersama.

Yang Bertumbuh

Cinta itu bisa tetap tumbuh karena adanya freedom, growth, dan contribution. Tanpa adanya tiga faktor ini, atau bahkan berkurang satu, ya perlahan cinta itu bisa meredup seiring berjalannya waktu.

Freedom, atau kebebasan, itu penting banget, kita harusnya bisa tetap menjadi diri kita sendiri setiap saat dan tidak terpaksa menjadi orang lain demi seseorang. Saya belajar banyak semenjak bertemu majikan saya, karena bisa menjadi diri sendiri, rasanya nggak frustrasi dengan perasaan membohongi diri sendiri gitu, dan menjadi diri sendiri itu beda dengan memaksakan orang menerima saya apa adanya. Majikan saya membuat saya merasa, ketika saya lebih jujur dengan diri saya sendiri, saya bisa lebih bertanggung jawab dengan apa yang saya lakukan, karena apa yang saya perbuat itu memang tentang saya dan pilihan saya. Bukan karena “demi kamu aku begini” dan biasanya bikin kita lebih mudah nyalahin orang lain kalau kita ditolak setelah berubah demi diaRasanya lebih mudah memaksa diri saya sendiri berubah untuk jadi lebih baik karena saya tidak merasa terpaksa menyenangkan orang lain itu.

Hal ini terkait dengan poin kedua, growth, atau berkembang. Ketika dalam sebuah hubungan kita (atau mungkin saya) sudah tidak punya keinginan untuk berkembang, untuk jadi lebih baik, kok rasanya saya jadi malas untuk melanjutkan mencintai oang itu. Saya pernah kehilangan keinginan berkembang dan menyadari saya melakukan hal-hal yang repetitif, sms yang gitu-gitu aja, pembicaraan yang gitu-gitu aja, dan hal-hal lain yang yaaaah…. gitu-gitu aja. Tidak ada semangat bahwa saya ingin menjadi lebih baik lagi demi dia, lalu ngerasa stuck dan akhirnya bosan.

Tapi ya, tidak berarti setelah punya kebebasan dan hasrat menjadi lebih baik, cinta itu lantas ga bisa meredup, contribution itu juga penting. Banyak yang mikir, “hah? kenapa? aku mau tetap mencintai kok butuh berkontribusi!” Hmm, mungkin ini efek saya yang terlalu naif, tapi buat saya ya, bisa merasa berguna, atau berkontribusi ke seseorang bisa memberikan kepuasan tersendiri dan membuat saya memancarkan energi positif luar biasa (tsaelah). Perasaan bahwa saya memberikan kontribusi positif kepada orang lain hanya dengan menjadi diri saya sendiri itu seperti kepuasan tersendiri, dan perasaan itu tidak tergantikan. Perasaan bahwa saya, hanya dengan menjadi diri saya sendiri, dan keinginan untuk berkembang menjadi lebih baik, mampu memberi efek positif pada orang yang saya cintai membuat saya ingin terus mencintai orang tersebut.

Eh itu kalo saya sih, kalo kamu, cintamu terus bertumbuh karena apa?

Yang Dua Ribu Lima Ratus Lima Puluh Tujuh

Pagiku disambut oleh pesan singkat dari adikmu,

Fu, hari ini tepat 7 tahun ya.

Iya. Aku ingat. Aku selalu ingat.

Dua ribu lima ratus lima puluh tujuh hari aku yang berjalan tanpa kamu, dan masih belum bisa juga melupakan kamu.

Tapi bagaimana bisa aku melupakan kamu jika aku terus menarik kenangan tentang kamu tetap menempel di semua selaput otak ku?

Aroma kamu, bagaimana bisa aku lupakan jika kemudian sepeninggalan kamu aku terobsesi dengan semua produk yang kamu gunakan, sabun, shampoo, parfum, bahkan cologne? Suara kamu, bagaimana bisa aku lupakan jika kemudian sepeninggalan kamu aku terus berdialog di kepalaku dengan sisa sisa apa yang bisa kuingat tentang kamu. Yang terus menerus mengingatkan aku bahwa kamu sudah pergi, jauh, tidak kembali.

Kamu tahu betapa hampanya aku yang terus gelisah mencari sosok kamu di tengah keramaian, di manapun aku berada, walau aku tahu, sosok kamu adalah hal yang tidak mungkin ada lagi?

Ya, aku masih teringat kata kata terakhir kamu, “Berjanjilah untuk bahagia, Fu.” Kamu tahu, lebih dari dua ratus dua puluh juta detik aku melewati dengan pertanyaan yang sama di kepalaku karena mengenangmu, “Apa artinya aku gagal memenuhi janjiku untuk berbahagia, Ri?

Satu buah pesan singkat membuyarkan rentetan pertanyaan yang siap aku lontarkan kepada perasaan bersalahku.

Fu, kamu ke makam, kan?

***

Lima ratus empat hari lalu aku mengunjungi kamu, meninggalkan guratan dialogku kepadamu di sini.

Yang Phyllis

GambarPhyllis adalah putri dari Raja Sithon dari Thrace, yang jatuh cinta kepada putra Theseus, Demophon dari Athena. Demophon mampir di Thrace sepulang dari perang Trojan. Raja Sithon memberikan sebagian dari kerjaannya dan putrinya untuk dinikahi. Lama tinggal di Thrace, Demophon merasa rindu akan Athena dan pamit untuk pulang ke Athena sambil menjanjikan kepada Phyllis dia akan kembali suatu hari nanti untuk menikahinya.

Phyllis menunggu dan menunggu di Ennea Odoi (sembilan jalan), pohon tempat mereka pertama kali bertemu. Legenda mengatakan, Phyllis kembali sembilan kali ke pohon itu untuk menunggu Demophon. Merasa ditinggalkan, Phyllis memilih menggantung dirinya di Ennea Odoi.

Para dewa dewi merasa kasihan, lalu mengubah Phyllis menjadi pohon almond. Pohon kering tanpa daun dan tanpa bunga. Tak lama kemudian, Demophon kembali ke pohon itu, ia terkejut mendapati Phyllis yang dicintainya sudah meninggal. Dengan sedih, dia memeluk pohon tersebut. Secara ajaib, tiba-tiba pohon tersebut berbunga, seolah menandakan bahwa Phyllis terus menunggu Demophon di sana, sebagai bukti bahwa kematian pun tidak akan menghalangi cinta.

Yang Tersesat

Tenang tenang, ini bukanlah tulisan galau ala Butiran Debu yang lagi ngehits sekarang ini.

Ini tentang tersesat dalam hasrat. *ih waw! Berima!*

Pernah gak, merasa seperti anak kecil yang seneng buanget kalo liat sesuatu yang baru dan lalu merengek-rengek pengen punya sesuatu itu? Saya sering. Bahkan saya sering merasa jiwa saya cuma bocah dua tahun yang terjebak dan ga bisa bertumbuh dewasa. Karena saya literally terlalu mudah excited terhadap hal baru. Saya ingin belajar bahasa ini, bahasa itu, saya pengen menguasai skill anuh, saya pengen lanjut kuliah di jurusan yang onoh, tapi juga pengen jurusan yang entuh. Tapi semua seperti nafsu hasrat belaka. Karena emang ga segampang itu, kan, mencapainya. Apa iya saya cuma kedip kemudah langsung lancar bahasa asing?

Nah, sayangnya, progress belajar saya kalah cepat dengan menambahnya hasrat hasrat baru. Lalu seringkali, semua tampak berantakan dan lalu saya merasa seperti tersesat. Tersesat dalam hasrat saya sendiri. Dalam kepala saya sendiri. Apa yang mau saya capai duluan? Mana yang harusnya jadi prioritas? Semua tampak menggiurkan, tapi juga tampak begitu jauh. Dan kaki saya bingung mau mengejar yang mana duluan. Dan kesalahan terbesar saya, ketika saya bingung, saya lalu bengong dan menyusun ulang prioritas, yang sebenarnya gak perlu.

Majikan saya selalu bilang, saya gak pernah benar-benar tersesat, saya hanya lupa sedang mengejar apa. Jika saya berlari mengejar, saya harus mengejar satu per satu, bukan semua secara sekaligus. Karena sebenarnya semua yang saya kejar itu bisa dicapai kalo saya sendiri mau. Gitu kata majikan saya. Tapi hasrat saya begitu nakal, menggoda, mengacaukan fokus yang sedang saya coba pusatkan. Aneh banget yak. Lagi iseng belajar bahasa asing, kok tau tau pengen belajar bahasa pemograman, lha ya buyar tho ya. Lagi buka dasar bahasa pemograman, eh kepala lari-lari ngintipin sejarah. Gimana sih kamu, dasar kepala!

Majikan saya sih udah geleng-geleng dan tepok jidat, tapi yah begitulah, sangat mudah rasanya meloncat loncat ke sana kemari penuh semangat, sampe akhirnya saya lelah dan kemudian ketika duduk beristirahat, saya lupa sedang mengejar apa. Dan semua yang saya colak colek, jadi berantakan di belakang. Tidak tersusun. Tidak rapi. Tidak terstruktur. Tersesat.

Trus yang tersisa hanyalah perasaan galau, “saya sedang mengejar apa, sih?” Saya rasa semua orang sering mengalami ini. Dan entah kenapa, satu satunya obat penghilang galau karena tersesat ini adalah, “rumah”. Iyah, perasaan memiliki tempat pulang yang terus ngeyakinin bahwa kemana kaki kita melangkah itu gak salah. “Rumah” yang selalu mengingatkan apa sih tujuan kita ketika kaki kita melangkah keluar dan kejar-kejaran lagi sama si hasrat.

“Rumah” di sini kan ga mesti rumah beneran. Bagi saya, majikan saya seperti rumah saya. Ketika saya merasa nyasar, majikan saya nggak memberhentikan dan lalu menyuruh pulang. Tapi terus menerus mengingatkan, apa yang sedari awal saya inginkan, bukan pikiran nakal si hasrat yang baru nongol kemarin. Yang memaksa kaki saya balik ngejar lagi hal yang harus saya kejar duluan.

Kok kesannya manja ya, butuh orang lain gitu. Tapi, bukankah lebih menyenangkan ketika kamu sedang berjuang, ada “tempat pulang”? Dan membuat kamu bener-bener ngerasa sedang mengejar sesuatu untuk diri kamu sendiri, bukan sedang tersesat demi pembuktian yang kamu gatau mau kamu buktikan ke siapa. Karena kamu ga punya tempat.. “pulang”.

Yang Memaafkan

Kata orang, manusia biasa memaafkan tapi tak bisa melupakan.

Yang selalu saya pertanyakan, yang diingat itu sebatas kesalahannya atau rasa marahnya saat itu sih? Kalo rasa marahnya udah lupa, trus masih inget cuma “asal keinget” tapi biasa aja, apa sudah masuk kategori memaafkan?

Saya selalu ragu-ragu apakah saya pemaaf atau tidak, saya ingat siapa dan kenapa saya marah. Tapi sudah tidak bisa mengingat “bagaimana” parah saya marah atau sakit hati nya saya waktu itu.

Tapi yang menurut saya, ada istilah lain, yaitu “penerimaan”. Bukan cuma asal nrimo, kayak orang jawa lalu menjadi “ah luweh” (terserah deh) kepada orang itu. Misalnya, saya dulu pernah dibikin sakit hati sampe berada dalam fase denial dan self-loath selama beberapa tahun, karena satu orang. Saya lupa bagaimana sakit hatinya saya sampe saya bisa benci banget sama diri saya sendiri sebegitu parahnya, karena entah kenapa saya akhirnya bisa menerima, siapa dia saat itu, siapa saya saat itu dan kenapa dia dan saya bisa berakhir seperti itu. Saya juga sempat dalam fase memaafkan tapi tidak melupakan pada orang itu, “iya saya memaafkan dia, tapi…. “. Nah, “tapi” inilah yang rasanya membuat saya pengen banget ngehancurin orang itu, supaya dia bisa berada dalam keterpurukan yang sama seperti saya, living a shameful life. Tapi apakah seperti itu membuat saya jadi pemaaf? Kalo ada “tapi” dalam pernyataan memaafkan kita, apa sebenarnya itu benar benar memaafkan?

Butuh beberapa tahun bagi saya untuk akhirnya bisa berdiri sendiri dan tidak mempertanyakan -juga iri kepada- nasib orang itu. Dan ketika saya bertemu lagi dengan orang ini setelah, let’s say, 6-7 tahun dari kejadian itu, saya bener-bener ga ngerasain apa-apa. “Ih gue dulu kan sakit hati sama dia, ya, tapi kenapa yah?” 

Jadi kalo “memaafkan” dan “kata memaafkan” itu dua hal yang berbeda, bagaimana kita bisa menghargai makna memaafkan dong?